Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Nasaruddin Umar:Muktamar NU Ke-35 Jadi Momentum Menuju Peradaban Islam

Kompas.com, 26 Agustus 2026, 18:57 WIB
Puji Sri Rahayu,
Reni Susanti

Tim Redaksi

Sumber Kemenag

KOMPAS.com — Menteri Agama Nasaruddin Umar menilai Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) tidak semestinya hanya menjadi agenda pergantian kepemimpinan organisasi.

Muktamar yang digelar di Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 27-31 Agustus 2026 dinilai menjadi momentum penting bagi NU untuk menentukan arah organisasi memasuki abad kedua sekaligus memperkuat perannya dalam peradaban Islam.

Pandangan tersebut disampaikan Nasaruddin dalam tulisan opini berjudul "NU dan Jalan Menuju Epicentrum Peradaban Islam" yang dimuat di laman Kementerian Agama, Rabu (26/8/2026).

Baca juga: Muktamar ke-35 NU Pakai Teknologi Canggih, 100 CCTV hingga AI Terhubung WhatsApp

Menurut Nasaruddin, Indonesia memiliki modal besar untuk menjadi salah satu pusat peradaban Islam dunia karena mampu mempertemukan agama, kebangsaan, demokrasi, dan kebudayaan dalam kehidupan yang relatif damai.

"Indonesia tidak hanya memiliki peluang menjadi pasar besar umat Islam dunia, tetapi juga memiliki kesempatan menjadi sumber munculnya gagasan peradaban Islam baru," tulis Nasaruddin.

Muktamar NU Bukan Hanya soal Kepemimpinan

Nasaruddin menegaskan, Muktamar Ke-35 NU tidak semestinya dipahami sebatas pelaksanaan amanat organisasi atau pergantian ketua umum.

Forum tertinggi NU tersebut diharapkan menjadi ruang untuk merumuskan gagasan besar mengenai masa depan organisasi sekaligus kontribusinya bagi bangsa.

Muktamar Ke-35 NU mengangkat tema "Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmat untuk Kemaslahatan Bangsa".

Menurut Nasaruddin, tema tersebut memiliki tiga kata kunci yang saling berkaitan, yakni marwah, khidmat, dan maslahat.

Marwah dimaknai sebagai upaya menjaga kehormatan tradisi keilmuan, akhlak, ulama, pesantren, serta nilai-nilai yang menjadi fondasi NU.

Sementara itu, khidmat berarti memperluas bentuk pengabdian agar mampu menjawab perubahan zaman, mulai dari pendidikan modern, dakwah digital, pemberdayaan ekonomi umat, hingga persoalan kemanusiaan global.

Adapun kemaslahatan bangsa menjadi tujuan akhir dari seluruh pengabdian tersebut, yakni menghadirkan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat secara luas.

Baca juga: Jelang Muktamar di Jombang, Gus Yahya: Sebenarnya NU Itu Apa?

Menag: Besarkan Gagasan dan Manfaat

Dalam tulisannya, Nasaruddin menyebut NU memiliki kekuatan sosial yang telah lama ikut membentuk wajah Islam Indonesia.

Tradisi pesantren, jaringan ulama, lembaga pendidikan, serta komitmen terhadap kebangsaan menjadi modal bagi NU untuk memberikan kontribusi yang melampaui kepentingan kelembagaan.

Menurut dia, pusat peradaban Islam tidak lahir semata-mata karena besarnya jumlah umat. Peradaban juga dibangun melalui kemampuan melahirkan ilmu, gagasan, nilai, serta kemaslahatan yang memberi manfaat bagi masyarakat.

Karena itu, Nasaruddin mendorong NU tidak hanya berorientasi pada penguatan struktur organisasi, tetapi juga memperbesar kontribusinya dalam membangun peradaban.

"NU harus mampu mengambil peran sebagai salah satu lokomotifnya. Tidak berhenti dengan membesarkan struktur semata, tetapi dengan membesarkan gagasan dan manfaat," tulisnya.

Dari AI hingga Ekoteologi

Nasaruddin juga menyoroti perubahan cepat yang dihadapi masyarakat, khususnya generasi muda, akibat perkembangan teknologi.

Masyarakat kini hidup dalam ruang digital dengan akses pengetahuan yang semakin luas.

Kondisi tersebut membutuhkan pendekatan keagamaan yang tetap berakar pada tradisi sekaligus mampu menjawab persoalan masa depan.

Sejumlah isu dinilai perlu menjadi perhatian NU ke depan, mulai dari etika kecerdasan buatan (AI), lingkungan dan ekoteologi, ekonomi umat berbasis keadilan, pendidikan humanis, hingga perdamaian dunia.

Dengan demikian, menurut Nasaruddin, khidmat NU tidak semestinya hanya diukur dari banyaknya lembaga atau program yang dimiliki.

Kontribusi organisasi juga perlu dilihat dari sejauh mana kehadirannya mampu memberikan solusi terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat.

Menjaga Jarak Sehat dari Politik Praktis

Selain memperkuat gagasan, Nasaruddin mengingatkan pentingnya menjaga jarak yang sehat antara organisasi keagamaan dan politik praktis.

Menurut dia, politik kebangsaan tetap penting. Namun, tanggung jawab NU jauh lebih luas daripada sekadar kontestasi kekuasaan.

Muktamar Ke-35 NU diharapkan menjadi ruang musyawarah dan rekonsiliasi, bukan sekadar arena kompetisi.

Gagasan mengenai masa depan umat dan bangsa, menurut Nasaruddin, justru seharusnya menjadi hal utama yang diperdebatkan dalam forum tersebut.

NU dinilai memiliki modal sosial yang kuat, mulai dari tradisi musyawarah, kedalaman keilmuan, jaringan pesantren, hingga basis masyarakat yang luas.

Jika seluruh kekuatan tersebut disatukan dalam satu visi besar, Nasaruddin meyakini NU dapat mengambil peran dalam menjadikan Indonesia sebagai salah satu epicentrum peradaban Islam dunia.

Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT

Baca tentang


Terkini Lainnya
Gus Ipul Ungkap 2 Isu Panas yang Bakal Dibahas di Muktamar Ke-35 NU
Gus Ipul Ungkap 2 Isu Panas yang Bakal Dibahas di Muktamar Ke-35 NU
Aktual
Doa Masuk Kamar Mandi dan Keluar: Arab, Latin, Arti, serta Adabnya
Doa Masuk Kamar Mandi dan Keluar: Arab, Latin, Arti, serta Adabnya
Doa dan Niat
Hidup Tak Selalu Sesuai Rencana, Bagaimana Islam Mengajarkan Kita Menghadapinya?
Hidup Tak Selalu Sesuai Rencana, Bagaimana Islam Mengajarkan Kita Menghadapinya?
Aktual
5 Tips agar Lansia Tetap Sehat dan Bahagia Menurut Islam
5 Tips agar Lansia Tetap Sehat dan Bahagia Menurut Islam
Aktual
Menag Nasaruddin Umar Tegaskan Tak Maju Ketum PBNU: Saya Pilih Fokus Pimpin Kemenag
Menag Nasaruddin Umar Tegaskan Tak Maju Ketum PBNU: Saya Pilih Fokus Pimpin Kemenag
Aktual
Puncak 100 Tahun Gontor, Prabowo Dijadwalkan Hadir
Puncak 100 Tahun Gontor, Prabowo Dijadwalkan Hadir
Aktual
Gus Rozin Angkat Semangat Gus Dur: NU Harus Jadi Sahabat Kritis Pemerintah
Gus Rozin Angkat Semangat Gus Dur: NU Harus Jadi Sahabat Kritis Pemerintah
Aktual
Dzikir Pagi Lengkap: Arab, Latin, Arti, Urutan, dan Waktu Membacanya
Dzikir Pagi Lengkap: Arab, Latin, Arti, Urutan, dan Waktu Membacanya
Doa dan Niat
Khutbah Jumat 28 Agustus 2026: Ta’aruf Menjaga Kesucian Menuju Pernikahan
Khutbah Jumat 28 Agustus 2026: Ta’aruf Menjaga Kesucian Menuju Pernikahan
Aktual
Khutbah Jumat Maulid Nabi, Belajar Menjadi Suami dan Orangtua dari Rasulullah
Khutbah Jumat Maulid Nabi, Belajar Menjadi Suami dan Orangtua dari Rasulullah
Aktual
Khutbah Jumat: Bahaya Rokok bagi Diri, Keluarga, dan Masa Depan
Khutbah Jumat: Bahaya Rokok bagi Diri, Keluarga, dan Masa Depan
Aktual
Dapur Muktamar NU Terus Mengepul, Ratusan Karung Beras hingga Bantuan Sapi Disiapkan
Dapur Muktamar NU Terus Mengepul, Ratusan Karung Beras hingga Bantuan Sapi Disiapkan
Aktual
Wamenag: Pemerintah Tak Intervensi Muktamar NU, Kemenag Harus Netral
Wamenag: Pemerintah Tak Intervensi Muktamar NU, Kemenag Harus Netral
Aktual
Tak Hanya Pilih Ketua, Muktamar NU Bahas Bitcoin, Neuralink, hingga DNA
Tak Hanya Pilih Ketua, Muktamar NU Bahas Bitcoin, Neuralink, hingga DNA
Aktual
Niat Mandi Wajib Pria dan Wanita: Arab, Latin, Arti, dan Tata Caranya
Niat Mandi Wajib Pria dan Wanita: Arab, Latin, Arti, dan Tata Caranya
Doa dan Niat
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar