Penulis
LAMPUNG, KOMPAS.com - Sore itu, Jumat (22/5/2026), suasana di Rumah Sehat Baznas tampak sibuk. Di ruang tunggu kecil yang berada di Jalan Raya Lintas Pantai Timur Sumatera, Kecamatan Seputih Banyak, Kabupaten Lampung Tengah, sejumlah warga duduk menanti giliran pemeriksaan kesehatan.
Seorang perempuan berhijab terlihat tekun mencatat data pasien di meja pendaftaran. Di sudut lain, seorang ibu mendampingi anaknya yang sedang ditimbang berat dan diukur tinggi badannya.
Tak ada kesan mewah di tempat itu. Namun dari bangunan sederhana tersebut, denyut pelayanan kemanusiaan terasa hidup.
Di balik ruang pemeriksaan, dua dokter perempuan tampak melayani pasien satu per satu. Keduanya ternyata ibu dan anak yang memilih mengabdikan diri sebagai relawan kesehatan untuk masyarakat kecil.
Baca juga: Baznas Permudah Kurban 2026 lewat Digitalisasi, Bisa Bayar via E-Commerce hingga Mobile Banking
Mereka adalah dr Intan Juliana O M.Epid Sp KKLP dan putrinya, dr Reza Khairunnisa.
Bagi masyarakat sekitar, Rumah Sehat Baznas bukan sekadar klinik pengobatan. Tempat itu menjadi ruang harapan bagi warga yang sering kali kesulitan mengakses layanan kesehatan karena keterbatasan biaya.
Di sini, pasien tak dibebani tarif pasti. Di depan meja pendaftaran hanya tersedia sebuah kotak infak. Siapa yang mampu boleh mengisi seikhlasnya. Yang tak punya uang pun tetap dilayani.
“Kalau warga yang bisa berinfak ya silakan. Kalau enggak ada juga ya enggak apa-apa,” kata dr Intan kepada Kompas.com.
Ia tersenyum ketika menceritakan lembaran-lembaran uang kecil yang sering masuk ke kotak infak tersebut.
“Bapak bisa lihat pecahan uangnya. Ada Rp 2.000, Rp 4.000. Bahkan ada yang bilang, ‘Bu Dok, saya terus terang enggak punya duit.’ Ya sudah, enggak apa-apa,” ujarnya.
Dokter Intan bukan sosok baru di dunia pelayanan kesehatan Lampung Tengah. Ia adalah aparatur sipil negara yang bertugas di puskesmas wilayah tersebut dan sudah puluhan tahun hidup di tengah masyarakat desa.
Namun jauh sebelum bergabung dengan Rumah Sehat Baznas pada 2023, ia sudah menyimpan satu cita-cita: membuka layanan kesehatan untuk masyarakat miskin tanpa mematok bayaran.
Inspirasi itu datang dari sosok almarhum Prof dr Aznan Lelo yang melayani pasien tanpa tarif.
dr Intan mengatakan, ia mengabdi sebagai dokter relawan di Baznas terinspirasi oleh Prof dr Aznan Lelo yang sudah meninggal.
Menurut dr Intan, Prof Aznan dikenal sebagai dokter yang membuka praktik hanya dengan kotak infak.
“Kalau masyarakat berobat, dr Aznan enggak pakai bayaran, dia pakai kotak infak aja seikhlasnya. Jadi tukang becak dan siapapun semuanya,” katanya.
Ia mengaku sejak lama ingin melakukan hal serupa, tetapi tak memiliki modal untuk membuka layanan sendiri.
“Saya senang kayak gitu, tapi ya apa ya mampu saya, saya enggak punya modal,” ujarnya.
Hingga akhirnya ia mendengar bahwa Baznas membutuhkan dokter relawan untuk Rumah Sehat Baznas di Lampung Tengah.
“Saya dengar ini membutuhkan dokter relawan, ini cocok. Modalnya dari dia (Baznas), jasanya biar dari saya. Saya tenaga aja dan pikiran,” katanya.
Bagi dr Intan, kehadirannya di Rumah Sehat Baznas terasa seperti jawaban dari doa panjang yang selama ini ia simpan diam-diam.
“Mungkin saya pikir, oh ini jawaban Allah. Cita-cita yang saya apa itu, mungkin ya inilah tempatnya, wadahnya,” ucapnya pelan.
dr Intan Juliana O M.Epid Sp KKLP Kepala Rumah Sehat Baznas.Perjalanan hidup dr Intan sendiri penuh cerita perjuangan.
Lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara itu pertama kali ditempatkan di wilayah pedalaman Lampung Tengah saat awal menjadi PNS.
Ia masih mengingat kondisi daerah yang jauh dari fasilitas.
“Saya ditempatkan di Sido Binangun dulu. Enggak ada lampu. Enggak ada ojek. Sendiri. Ya Allah kok saya dapat di tengah kebun singkong,” kenangnya sambil tertawa.
Perempuan asal Medan itu juga harus beradaptasi dengan budaya baru di tengah masyarakat Jawa pedesaan.
“Di sini kan Jawa, mayoritas. Saya orang Medan. Bahasa Jawa halus. Pusing lah kepala saya,” katanya.
Di tanah perantauan itulah ia bertemu dengan suaminya yang bekerja sebagai tenaga kesehatan.
Sebelum menikah, ia kemudian memutuskan menjadi mualaf.
Kini, nilai pengabdian itu coba ia wariskan kepada anak-anaknya, termasuk dr Reza Khairunnisa yang ikut membantunya melayani pasien di Rumah Sehat Baznas.
Lulusan Universitas Muhammadiyah Surakarta itu sengaja diajak sang ibu untuk melihat langsung kehidupan masyarakat kecil.
“Saya ajak ke sini. Menanamkan nilai-nilai,” kata dr Intan lantas mengungkapkan bahwa suaminya meninggal 40 hari lalu.
Ia berharap anaknya tetap memiliki semangat pengabdian di tengah kehidupan modern yang semakin materialistis.
“Kita cintanya pengen kaya raya, tapi pengen ngabdi juga,” timpal dr Reza sambil tersenyum saat ditanya harapan ke depannya sebagai dokter.
Rumah Sehat Baznas Lampung Tengah sendiri memiliki sekitar 19 tenaga medis dan nonmedis. Layanan yang diberikan meliputi pengobatan umum, kesehatan ibu dan anak, home care, hingga penanganan luka diabetes untuk pasien yang tak bisa datang ke klinik.
“Jadi ada yang enggak bisa dibawa ke sini, luka-luka DM, ya kita dipanggil,” kata dr Intan.
Tak jarang mereka juga membantu pasien miskin yang kesulitan biaya ambulans, bahkan menjemput jenazah warga yang meninggal dunia.
“Yang enggak bayar, yang bayar yang kasih infak dia di situ,” katanya.
Ruang Pendaftaran Rumah Sehat Baznas di Lampung Tengah, Provinsi Lampung, Jumat (22/5/2026).Namun pelayanan berbasis kemanusiaan itu tentu bukan tanpa tantangan.
Masalah biaya operasional dan obat-obatan menjadi persoalan yang hampir selalu menghantui.
“Kalau operasional telat, ya telat saya bayar obat. Nanti ditanya-tanya jatuh tempo,” ujarnya.
Meski demikian, dr Intan tetap bertahan.
Baca juga: Dari Mustahik ke Muzaki, Program Kurban BAZNAS 2026 Ubah Nasib Peternak Desa
Baginya, pengabdian bukan soal menjadi kaya, melainkan soal kebermanfaatan bagi orang lain.
“Sedekah enggak nunggu kaya,” katanya singkat.
Di tengah hiruk-pikuk dunia medis yang sering diidentikkan dengan tarif mahal dan layanan eksklusif, kisah dr Intan dan putrinya menghadirkan wajah lain pelayanan kesehatan: sederhana, tulus, dan manusiawi.
Dari sebuah kotak infak kecil di sudut ruangan, mereka menjaga harapan banyak orang agar tetap bisa berobat tanpa rasa takut pada biaya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang