Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jelang Armuzna, Jemaah Haji Diingatkan Tak Habiskan Tenaga untuk Jalan-jalan

Kompas.com, 24 Mei 2026, 15:44 WIB
Add on Google
Khairina

Editor

Sumber MUI

KOMPAS.com - Ketua Musyrif Diny KH Cholil Nafis mengimbau jemaah haji Indonesia tidak terjebak euforia “haji mumpung” selama masa tunggu menjelang puncak haji.

Imbauan itu disampaikan untuk menjaga stamina jemaah sebelum memasuki fase Arafah, Muzdalifah, dan Mina atau Armuzna.

Jemaah diminta membatasi aktivitas fisik yang tidak mendesak, termasuk ziarah dan jalan-jalan yang dapat menguras tenaga.

Menurut Cholil, ibadah haji membutuhkan kekuatan fisik sehingga persiapan energi harus menjadi perhatian utama jemaah sejak berada di Makkah.

Baca juga: Seluruh Jemaah Haji Indonesia Tiba di Saudi, Kemenhaj Matangkan Layanan Armuzna

Jemaah diminta tahan diri

Cholil mengatakan, masa tunggu menjelang Armuzna sebaiknya dimanfaatkan jemaah untuk mengendalikan aktivitas.

Ia mengingatkan agar tenaga tidak dihabiskan untuk kegiatan yang tidak berkaitan langsung dengan persiapan ibadah puncak haji.

"Pertama, kita jangan 'haji mumpung' ketika dalam masa menunggu ini. Jangan sampai tenaga sepenuhnya digunakan untuk hal-hal yang apalagi hanya main-main atau jalan-jalan. Itu dikendali dulu. Tolong fokus kepada penyiapan stamina karena nanti haji membutuhkan fisik yang kuat," ujar KH Cholil Nafis di Makkah, dilansir dari laman MUI, Minggu (24/5/2026).

Menurut Cholil, jemaah perlu mulai menata ritme aktivitas agar kondisi tubuh tetap terjaga saat menjalani rangkaian ibadah di Armuzna.

Baca juga: DPR Minta Pemerintah Siapkan Skenario Darurat Jelang Puncak Haji Armuzna

Perbanyak ibadah di hotel

Sebagai pengganti aktivitas ziarah yang menguras energi, Cholil menyarankan jemaah memperbanyak amalan ibadah di hotel atau ruang tempat menginap.

Wakil Ketua Umum MUI itu mengimbau jemaah lebih fokus berzikir dan beriktikaf sesuai kemampuan fisik masing-masing.

"Jika kondisi fisik tidak memungkinkan, jamaah tidak perlu memaksakan diri setiap waktu shalat harus ke Masjidil Haram. Allah SWT Maha Mengetahui niat baik setiap hamba-Nya," kata Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah, Depok, Jawa Barat.

Cholil juga meminta jemaah memenuhi kebutuhan makanan bergizi dan memastikan waktu istirahat yang cukup.

Menurut dia, persiapan fisik menjadi bagian penting agar jemaah dapat menjalani puncak haji dengan lebih tenang dan kuat.

Jangan gunakan kamera untuk flexing

Selain stamina, Cholil juga menyoroti penggunaan ponsel berkamera oleh jemaah selama berada di Tanah Suci.

Ketua Badan Pengurus DSN MUI itu mengingatkan jemaah agar berhati-hati dan tidak sembarangan merekam, terutama jika berpotensi melanggar privasi orang lain.

CEO Amanah Zakat tersebut juga mengingatkan agar jemaah tidak membuat konten iklan di depan Masjidil Haram.

Secara khusus, Cholil meminta kamera ponsel tidak digunakan untuk kepentingan pamer atau flexing.

"Jangan sampai kita ini me-shooting untuk kepentingan flexing atau untuk pamer. Karena itu akan menghilangkan pahala-pahala ibadahnya atau dapat menjauhkan dari kemabruran hajinya karena akan menimbulkan rasa riya," tegasnya.

Baca juga: Unik, Makanan di Armuzna Juga Bisa Jadi Oleh-oleh Jamaah Haji Indonesia

Tiga tipe jemaah haji

Cholil kemudian memetakan tiga tipe jemaah haji yang perlu menjadi bahan renungan.

Pertama, tipe jemaah yang pamer, yakni orang yang berhaji untuk gaya-gayaan dan mencari pengakuan sosial.

Ia menegaskan, tipe tersebut tidak akan mendapat apresiasi dari Allah SWT.

Kedua, tipe rekreasi, yakni orang yang memandang haji hanya sebagai jalan-jalan atau wisata untuk bersenang-senang.

"Tipe ini tidak akan mendapatkan keutamaan haji yang maksimal," kata ulama kelahiran Sampang, Madura, Jawa Timur.

Ketiga, tipe jemaah yang datang semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, tunduk, dan taat sepenuhnya meski harus mengeluarkan biaya besar serta menguras fisik.

Cholil berharap tipe ketiga tersebut ada pada seluruh jemaah haji Indonesia.

Berharap haji membawa perubahan

Cholil mendoakan seluruh jemaah haji Indonesia diberi kelancaran selama menjalani rangkaian ibadah haji dan mendapat ampunan dari Allah SWT.

Ia juga berharap jemaah haji tahun ini dapat meneladani jejak para ulama terdahulu yang menjadikan haji sebagai momentum perubahan.

"Seperti pada para ulama terdahulu, berangkat haji itu pulangnya bisa bikin perubahan terhadap diri sendiri, bahkan bisa membangun peradaban. Dan itu dilakukan oleh para jamaah haji Indonesia pada saat itu sebelum kemerdekaan, sehingga bisa melahirkan kemerdekaan dari para ulama atau jamaah yang berangkat haji pada saat itu," kata dia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
KH Imam Jazuli Gagas Transformasi 5.000 Pesantren di Seluruh Indonesia
KH Imam Jazuli Gagas Transformasi 5.000 Pesantren di Seluruh Indonesia
Aktual
Jemaah Haji Diimbau Pakai Payung, Suhu Makkah Bisa Capai 47 Derajat Celsius
Jemaah Haji Diimbau Pakai Payung, Suhu Makkah Bisa Capai 47 Derajat Celsius
Aktual
Jamaah Haji Harus Siapkan Fisik karena Akan Tempuh Jalan Kaki 21 Km
Jamaah Haji Harus Siapkan Fisik karena Akan Tempuh Jalan Kaki 21 Km
Aktual
Rute Mina-Jamarat Bisa 7 Km Sehari, Wamenhaj Minta Jemaah Haji Cukup Istirahat
Rute Mina-Jamarat Bisa 7 Km Sehari, Wamenhaj Minta Jemaah Haji Cukup Istirahat
Aktual
Jelang Armuzna, Jemaah Haji Diingatkan Tak Habiskan Tenaga untuk Jalan-jalan
Jelang Armuzna, Jemaah Haji Diingatkan Tak Habiskan Tenaga untuk Jalan-jalan
Aktual
Apa Itu Hari Arafah? Ini Keutamaan dan Amalan yang Dianjurkan
Apa Itu Hari Arafah? Ini Keutamaan dan Amalan yang Dianjurkan
Aktual
Arab Saudi Siapkan Kereta Super Cepat dan Ribuan Bus untuk Layani 1,6 Juta Jamaah Haji 2026
Arab Saudi Siapkan Kereta Super Cepat dan Ribuan Bus untuk Layani 1,6 Juta Jamaah Haji 2026
Aktual
Wukuf di Arafah Jadi Puncak Haji, Ini Doa dan Dzikir yang Dibaca
Wukuf di Arafah Jadi Puncak Haji, Ini Doa dan Dzikir yang Dibaca
Doa dan Niat
Dokter Ibu-Anak di Lampung Ini Layani Pasien dengan Kotak Infak, Terinspirasi Dokter yang Tak Pernah Pasang Tarif
Dokter Ibu-Anak di Lampung Ini Layani Pasien dengan Kotak Infak, Terinspirasi Dokter yang Tak Pernah Pasang Tarif
Aktual
Dulu Berdesakan dan Jalan Kaki, Kini Haji Makin Nyaman Berkat Teknologi dan Kereta Cepat
Dulu Berdesakan dan Jalan Kaki, Kini Haji Makin Nyaman Berkat Teknologi dan Kereta Cepat
Aktual
Baznas Permudah Kurban 2026 lewat Digitalisasi, Bisa Bayar via E-Commerce hingga Mobile Banking
Baznas Permudah Kurban 2026 lewat Digitalisasi, Bisa Bayar via E-Commerce hingga Mobile Banking
Aktual
Firdaus Ditemukan, Istri Ungkap Pesan Haru untuk Petugas di Tanah Suci
Firdaus Ditemukan, Istri Ungkap Pesan Haru untuk Petugas di Tanah Suci
Aktual
Wakapolri Berkoordinasi dengan Otoritas Saudi untuk Perkuat Perlindungan Jamaah Haji Indonesia
Wakapolri Berkoordinasi dengan Otoritas Saudi untuk Perkuat Perlindungan Jamaah Haji Indonesia
Aktual
Ketegaran Nafsiah Dampingi Suami Sejak Berangkat Haji Hingga Harus Dimakamkan di Makkah
Ketegaran Nafsiah Dampingi Suami Sejak Berangkat Haji Hingga Harus Dimakamkan di Makkah
Aktual
Baznas Kota Tangerang Buka Pelatihan Sekuriti Gratis untuk Mustahik
Baznas Kota Tangerang Buka Pelatihan Sekuriti Gratis untuk Mustahik
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com