KOMPAS.com – Di tengah pergantian tahun Hijriah, umat Islam kembali memasuki salah satu bulan yang dimuliakan Allah SWT, yaitu Muharram.
Bulan ini bukan sekadar penanda awal tahun dalam kalender Islam, tetapi juga menjadi momentum untuk memperbanyak ibadah dan memperbaiki diri.
Di antara amalan yang paling dianjurkan pada bulan Muharram adalah puasa Asyura yang dilaksanakan setiap tanggal 10 Muharram.
Meski hanya berlangsung satu hari, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa puasa ini memiliki keutamaan luar biasa, yakni dapat menghapus dosa-dosa selama setahun yang telah berlalu.
Karena itu, banyak ulama menyebut puasa Asyura sebagai salah satu ibadah sunnah yang pahalanya sangat besar dibandingkan dengan ringan dan singkatnya amalan tersebut.
Lalu, bagaimana sejarah puasa Asyura? Mengapa hari ini begitu istimewa? Dan benarkah puasa sehari dapat menjadi sebab diampuninya dosa selama setahun?
Baca juga: Jadwal Lengkap Puasa Sunnah Juni 2026: Ada Ayyamul Bidh, Tasua, dan Asyura
Muharram termasuk satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah SWT. Keempat bulan tersebut adalah Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.
Allah SWT berfirman:
"Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram." (QS At-Taubah: 36)
Dalam kitab Lathaif al-Ma'arif, ulama besar abad ke-8 Hijriah, Ibnu Rajab Al-Hanbali, menjelaskan bahwa Muharram memiliki kedudukan istimewa karena disebut langsung oleh Rasulullah SAW sebagai "Syahrullah" atau bulan Allah.
Rasulullah SAW bersabda:
"Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, yaitu Muharram." (HR Muslim)
Menurut Ibnu Rajab, penyandaran nama Muharram kepada Allah menunjukkan kemuliaan yang tidak dimiliki bulan-bulan lainnya.
Karena itu, memperbanyak ibadah pada bulan ini menjadi kesempatan berharga bagi setiap Muslim untuk membuka lembaran tahun baru dengan amal saleh.
Baca juga: Kalender Islam Juni 2026: Catat Tanggal 1 Muharram 1448 H dan Tahun Baru Islam
Hari Asyura ternyata telah dikenal jauh sebelum Islam datang.
Dalam riwayat sahih yang diriwayatkan Imam Muslim, Ibnu Abbas RA menceritakan bahwa ketika Rasulullah SAW hijrah ke Madinah, beliau mendapati kaum Yahudi berpuasa pada tanggal 10 Muharram.
Rasulullah SAW kemudian bertanya alasan mereka melaksanakan puasa tersebut.
Mereka menjawab bahwa hari itu merupakan hari ketika Allah menyelamatkan Nabi Musa AS dan Bani Israil dari kejaran Firaun. Sebagai bentuk rasa syukur atas pertolongan Allah, Nabi Musa berpuasa pada hari tersebut.
Mendengar penjelasan itu, Rasulullah SAW bersabda:
"Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian."
Beliau kemudian berpuasa pada hari Asyura dan memerintahkan para sahabat untuk melaksanakannya.
Dikutip dari buku Fiqih Kontroversi Jilid 2 karya H.M. Anshary, peristiwa tersebut menunjukkan bahwa Islam menghormati para nabi terdahulu dan melanjutkan tradisi ibadah yang bersumber dari wahyu Allah selama tidak mengalami penyimpangan.
Keutamaan terbesar puasa Asyura terdapat dalam hadits yang diriwayatkan Abu Qatadah RA.
Ketika Rasulullah SAW ditanya tentang pahala puasa Asyura, beliau menjawab:
"Puasa Asyura dapat menghapus dosa setahun yang telah lalu." (HR Muslim)
Hadits ini menjadi salah satu dalil yang paling sering dikutip para ulama ketika menjelaskan besarnya pahala puasa 10 Muharram.
Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan penghapusan dosa adalah dosa-dosa kecil yang dilakukan seorang Muslim selama setahun terakhir.
Adapun dosa besar tetap membutuhkan taubat yang sungguh-sungguh disertai penyesalan dan tekad untuk tidak mengulanginya.
Meski demikian, para ulama menilai keutamaan ini tetap sangat besar.
Dalam kitab Riyadhus Shalihin beserta syarahnya, Imam An-Nawawi menyebut puasa Asyura sebagai sunnah muakkadah, yaitu sunnah yang sangat dianjurkan karena Rasulullah SAW secara konsisten mengerjakannya.
Baca juga: Kapan Puasa 1 Muharram 1448 H? Catat Tanggal, Niat, dan Keutamaannya
Pertanyaan ini sering muncul di kalangan umat Islam.
Menurut para ulama, puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus. Puasa merupakan bentuk penghambaan total kepada Allah yang melibatkan kesabaran, pengendalian hawa nafsu, keikhlasan, dan ketundukan terhadap perintah-Nya.
Dalam buku Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa puasa memiliki kekuatan spiritual yang mampu membersihkan hati dari berbagai penyakit batin.
Ketika seseorang berpuasa dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, ia sedang melatih dirinya untuk meninggalkan sesuatu yang halal demi menaati perintah Allah. Dari sinilah lahir ketakwaan yang menjadi tujuan utama puasa.
Karena itu, tidak mengherankan apabila Allah memberikan ganjaran yang sangat besar bagi orang yang menjalankannya.
Menjelang akhir hayatnya, Rasulullah SAW menyampaikan keinginan untuk membedakan praktik puasa umat Islam dengan kaum Yahudi.
Beliau bersabda:
"Jika aku masih hidup sampai tahun depan, sungguh aku akan berpuasa pada hari kesembilan." (HR Muslim)
Dari hadits ini, para ulama kemudian menganjurkan puasa Tasu'a pada tanggal 9 Muharram sebagai pendamping puasa Asyura.
Dalam buku Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab, Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa tingkatan puasa Muharram yang paling utama adalah berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram secara bersamaan.
Sebagian ulama bahkan menganjurkan menambah puasa tanggal 11 Muharram agar semakin berbeda dari tradisi kaum Yahudi.
Baca juga: Nama-Nama Bulan Hijriah dan Artinya, Urut dari Muharram hingga Dzulhijjah
Berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia yang diterbitkan Kementerian Agama RI, 10 Muharram 1448 Hijriah bertepatan dengan Kamis, 25 Juni 2026.
Karena jatuh pada hari Kamis, umat Islam berkesempatan memperoleh dua keutamaan sekaligus, yaitu puasa Asyura dan puasa sunnah Kamis yang rutin dikerjakan Rasulullah SAW.
Sementara itu, puasa Tasu'a dapat dilaksanakan sehari sebelumnya, yakni Rabu, 24 Juni 2026.
Berikut bacaan niat puasa Asyura:
نَوَيْتُ صَوْمَ عَاشُوْرَاءَ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma 'Asyuraa sunnatan lillaahi ta'aalaa.
Artinya: "Aku berniat puasa Asyura sunnah karena Allah Ta'ala."
Tahun baru Islam sering kali berlalu tanpa banyak perhatian. Padahal Muharram menghadirkan kesempatan berharga untuk memperbaiki hubungan dengan Allah SWT.
Puasa Asyura mengajarkan bahwa perubahan besar tidak selalu dimulai dari amalan yang berat.
Terkadang satu hari yang diisi dengan ibadah, keikhlasan, dan ketaatan mampu menghadirkan keberkahan yang luar biasa.
Di tengah kesibukan hidup, puasa Asyura menjadi pengingat bahwa Allah selalu membuka pintu ampunan bagi hamba-Nya.
Hanya dengan satu hari berpuasa, seorang Muslim berpeluang mendapatkan penghapusan dosa selama setahun yang lalu, sebagaimana dijanjikan Rasulullah SAW.
Karena itu, ketika 10 Muharram tiba, jangan biarkan kesempatan istimewa ini berlalu begitu saja.
Bisa jadi, amalan sederhana yang dilakukan dengan penuh keikhlasan menjadi sebab datangnya ampunan, keberkahan, dan perubahan hidup yang lebih baik di hadapan Allah SWT.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang