Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Arab Saudi Peringatkan Bahaya Diet Tayyibat yang Viral di Sosmed, Ini Alasannya

Kompas.com, 9 Juni 2026, 19:20 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

Sumber Gulf News

KOMPAS.com - Kementerian Kesehatan Arab Saudi mengeluarkan peringatan kepada masyarakat terkait maraknya klaim kesehatan mengenai Diet Tayyibat yang beredar di media sosial.

Peringatan ini muncul setelah sejumlah pasien harus menjalani perawatan intensif karena menghentikan penggunaan insulin dan menggantinya dengan pola makan yang belum terbukti secara ilmiah.

Dilansir dari Gulf News, Otoritas kesehatan Saudi menilai praktik tersebut berisiko menimbulkan komplikasi serius, terutama bagi penderita penyakit kronis yang memerlukan pengobatan berkelanjutan.

Baca juga: Arab Saudi Kirim Timeline Haji 2027, Menhaj Irfan: Indonesia Kekurangan Ratusan Dokter dan Perawat

Masyarakat pun diimbau untuk tidak menjadikan diet tertentu sebagai pengganti terapi medis tanpa konsultasi dengan tenaga kesehatan profesional.

Apa Itu Diet Tayyibat?

Diet Tayyibat merupakan pola makan yang belakangan populer di media sosial di sejumlah negara Arab.

Baca juga: Arab Saudi Bangun Kota Kopi Pertama untuk Ekonomi di Luar Minyak

Para pendukungnya membagi makanan ke dalam kategori yang dianggap boleh dikonsumsi dan makanan yang dinilai berbahaya.

Berbagai versi diet tersebut membatasi atau melarang banyak jenis makanan, seperti telur, daging ayam, kacang-kacangan termasuk lentil dan buncis, beragam sayuran, produk susu, serta beberapa jenis ikan dan makanan laut.

Sebaliknya, pola makan ini mendorong konsumsi nasi, kentang, daging merah, kurma, dan beberapa jenis keju.

Pendukung Diet Tayyibat mengklaim pola makan tersebut dapat membantu mengendalikan penyakit kronis.

Namun, otoritas kesehatan Arab Saudi menegaskan belum ada bukti ilmiah yang cukup untuk mendukung klaim tersebut dan memperingatkan bahwa Diet Tayyibat tidak boleh digunakan sebagai pengganti pengobatan medis yang telah diresepkan dokter.

Sejumlah Pasien Dirawat di ICU Setelah Menghentikan Insulin

Kementerian Kesehatan Arab Saudi menyatakan telah mencatat sejumlah kasus pasien yang membutuhkan perawatan kritis setelah menghentikan konsumsi insulin dan hanya mengandalkan pola makan yang tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat.

Menurut kementerian, penghentian pengobatan yang telah diresepkan untuk penyakit kronis dapat menyebabkan komplikasi serius hingga mengancam keselamatan jiwa pasien.

Dalam pernyataannya, kementerian mengimbau masyarakat agar tidak mengikuti berbagai klaim terapi yang beredar di media sosial terkait Diet Tayyibat.

Otoritas kesehatan menegaskan bahwa hingga saat ini belum terdapat bukti ilmiah yang memadai untuk mendukung penggunaan diet tersebut sebagai pengganti pengobatan medis yang diresepkan dokter.

Risiko Serius bagi Penderita Penyakit Kronis

Peringatan itu juga disampaikan di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap penyebaran informasi kesehatan di internet yang mendorong pasien mengubah atau menghentikan pengobatan tanpa pengawasan tenaga medis.

Kementerian menegaskan bahwa mengurangi atau menghentikan obat diabetes tanpa berkonsultasi dengan dokter dapat menimbulkan dampak kesehatan yang serius.

Risiko tersebut dinilai lebih besar bagi pasien yang memiliki penyakit kronis dan membutuhkan penanganan medis secara berkelanjutan.

Selain itu, otoritas kesehatan mengingatkan bahwa mengikuti pola makan yang belum terbukti secara ilmiah dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan dan komplikasi tertentu.

Menghilangkan kelompok makanan penting tanpa alasan medis yang jelas juga berpotensi menyebabkan kekurangan nutrisi yang dibutuhkan tubuh untuk menjalankan fungsi normalnya.

Pola Makan Sehat Harus Berdasarkan Bukti Ilmiah

Otoritas kesehatan Saudi menekankan bahwa pola makan sehat seharusnya dibangun berdasarkan keseimbangan gizi, variasi makanan, dan panduan nutrisi yang didukung bukti ilmiah.

Sebaliknya, masyarakat diminta tidak mudah mempercayai klaim kesehatan yang belum terbukti dan banyak beredar melalui media sosial.

Kementerian juga meminta pasien yang memiliki penyakit kronis untuk tidak mengubah rencana pengobatan atau menghentikan konsumsi obat tanpa arahan dokter yang merawat.

Masyarakat diimbau memperoleh informasi kesehatan dari sumber resmi dan tepercaya guna menghindari risiko akibat informasi yang menyesatkan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Penipuan Dam dan Badal Haji Terbongkar, Kemenhaj Ungkap Modusnya
Penipuan Dam dan Badal Haji Terbongkar, Kemenhaj Ungkap Modusnya
Aktual
Oleh-oleh Haji Tak Melulu Kurma, Jemaah Indonesia Juga Kirim Wajan hingga Teko dari Tanah Suci
Oleh-oleh Haji Tak Melulu Kurma, Jemaah Indonesia Juga Kirim Wajan hingga Teko dari Tanah Suci
Aktual
PPIH Arab Saudi Terima Penghargaan Setelah Lebih dari 135 Ribu Jamaah Haji Indonesia Bayar Dam Lewat Adahi
PPIH Arab Saudi Terima Penghargaan Setelah Lebih dari 135 Ribu Jamaah Haji Indonesia Bayar Dam Lewat Adahi
Aktual
Kemenhaj Siapkan Panduan Kemabruran Haji untuk Pembinaan Jamaah Sepulang dari Tanah Suci
Kemenhaj Siapkan Panduan Kemabruran Haji untuk Pembinaan Jamaah Sepulang dari Tanah Suci
Aktual
Kemenhaj NTB Pastikan Ahli Waris Jamaah Haji yang Wafat Menerima Santunan
Kemenhaj NTB Pastikan Ahli Waris Jamaah Haji yang Wafat Menerima Santunan
Aktual
Masjid Nabawi Distribusikan 235 Ton Air Zamzam Setiap Hari untuk Jemaah
Masjid Nabawi Distribusikan 235 Ton Air Zamzam Setiap Hari untuk Jemaah
Aktual
Arab Saudi Peringatkan Bahaya Diet Tayyibat yang Viral di Sosmed, Ini Alasannya
Arab Saudi Peringatkan Bahaya Diet Tayyibat yang Viral di Sosmed, Ini Alasannya
Aktual
6 Jemaah Haji Asal Kaltim Wafat di Tanah Suci, Sebagian Besar Akibat Kelelahan dan Cuaca Ekstrem
6 Jemaah Haji Asal Kaltim Wafat di Tanah Suci, Sebagian Besar Akibat Kelelahan dan Cuaca Ekstrem
Aktual
Dua Jemaah Haji Ciamis yang Wafat di Tanah Suci Berhak Terima Asuransi Sebesar BPIH
Dua Jemaah Haji Ciamis yang Wafat di Tanah Suci Berhak Terima Asuransi Sebesar BPIH
Aktual
Dua Jemaah Haji Sumsel Wafat di Makkah, Dimakamkan di Sharaya
Dua Jemaah Haji Sumsel Wafat di Makkah, Dimakamkan di Sharaya
Aktual
Serangan Jantung Akut, Jamaah Haji Banyuwangi Wafat di Tanah Suci
Serangan Jantung Akut, Jamaah Haji Banyuwangi Wafat di Tanah Suci
Aktual
Sebelum Adam Diciptakan, Mengapa Malaikat Tahu Manusia Akan Merusak?
Sebelum Adam Diciptakan, Mengapa Malaikat Tahu Manusia Akan Merusak?
Doa dan Niat
Haji Mulai Tinggalkan Madinah, Kota Nabi Bersiap Sambut Gelombang Jamaah Umrah
Haji Mulai Tinggalkan Madinah, Kota Nabi Bersiap Sambut Gelombang Jamaah Umrah
Aktual
Bolehkah Menikahi Perempuan yang Hamil di Luar Nikah? Ini Penjelasan Muhammadiyah
Bolehkah Menikahi Perempuan yang Hamil di Luar Nikah? Ini Penjelasan Muhammadiyah
Aktual
Sedekah Subuh Setelah Shalat atau Sebelum Azan, Mana Lebih Utama?
Sedekah Subuh Setelah Shalat atau Sebelum Azan, Mana Lebih Utama?
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com