Editor
KOMPAS.com - Kementerian Haji dan Umrah bersama Musyrif Diny (pembimbing ibadah haji) mulai menyiapkan panduan pembinaan kemabruran haji yang akan digunakan sebagai rujukan bagi jamaah setelah kembali ke Indonesia.
Panduan tersebut disusun untuk memastikan nilai-nilai ibadah haji tidak berhenti pada pelaksanaan ritual semata, tetapi berlanjut dalam kehidupan sehari-hari jamaah.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperkuat tujuan penyelenggaraan haji, tidak hanya sukses secara ritual, tetapi juga sukses dalam membangun peradaban dan keadaban masyarakat.
Baca juga: Musyrif Diny: Mina Jadi Madrasah Kesabaran dan Dzikir bagi Jamaah Haji di Hari Tasyrik
Melalui panduan tersebut, pemerintah berharap jamaah haji dapat menjadi agen perubahan sosial yang membawa manfaat bagi lingkungan dan bangsa setelah pulang dari Tanah Suci.
Dilansir dari Antara, Anggota Musyrif Diny Faturahman Kamal mengatakan pihaknya telah bersepakat dengan Direktorat Jenderal Bina Haji untuk menyusun panduan yang dapat menjadi acuan dalam pembinaan kemabruran jamaah haji pascapelaksanaan ibadah di Arab Saudi.
Baca juga: Musyrif Diny Haji Ajak Jemaah Perbanyak Doa dan Zikir Jelang Wukuf di Arafah
“Kami sudah sepakat dengan Dirjen Bina Haji untuk menyusun suatu panduan yang bisa dijadikan sebagai referensi dalam membina kemambruran haji kita pascamereka menunaikan ibadah haji di Tanah Suci,” kata Anggota Musyrif Diny Faturahman Kamal setibanya di Bandara Soekarno-Hatta, Banten, Selasa (9/6/2026).
Menurut Faturahman, penyusunan panduan tersebut merupakan bagian dari target besar penyelenggaraan ibadah haji yang tidak hanya berorientasi pada keberhasilan ritual, tetapi juga pada pembangunan karakter dan peradaban jamaah.
Faturahman menjelaskan Musyrif Diny yang ditugaskan pemerintah memiliki mandat untuk memastikan seluruh rangkaian ibadah yang dijalankan jamaah Indonesia berlangsung sesuai syariat Islam dan kaidah fikih.
Dalam menjalankan tugasnya, Musyrif Diny juga berperan menjembatani berbagai pandangan keagamaan dan fatwa yang berkembang di tengah masyarakat Indonesia.
Menurut dia, terdapat dua prinsip utama yang menjadi pegangan dalam pendampingan ibadah haji pada musim haji tahun ini.
Prinsip pertama adalah penerapan paradigma fikih yang memberikan kemudahan kepada jamaah dalam menjalankan ibadah.
Pendekatan tersebut terutama ditujukan bagi kelompok lanjut usia, penyandang disabilitas, serta jamaah perempuan yang jumlahnya cukup dominan pada musim haji tahun ini.
“Kami sepakat menggunakan paradigma hukum fikih yang memudahkan jamaah sehingga mereka dapat melaksanakan ibadah secara optimal tanpa mengabaikan ketentuan syariat,” ujarnya.
Faturahman menilai pendekatan tersebut penting agar jamaah dapat menjalankan seluruh rangkaian ibadah dengan baik tanpa mengurangi substansi dan ketentuan agama.
Prinsip kedua yang diusung Musyrif Diny adalah menjadikan ibadah haji sebagai sarana transformasi sosial yang melahirkan pribadi berakhlak, beradab, dan memiliki kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa.
Anggota Musyrif Diny lainnya, Afifuddin, mengatakan ibadah haji tidak seharusnya dipahami hanya sebagai pelaksanaan ritual keagamaan semata.
Menurut dia, haji juga merupakan proses pembentukan karakter yang diharapkan mampu memberikan dampak positif bagi kehidupan bermasyarakat setelah jamaah kembali ke daerah masing-masing.
“Kami ingin haji tidak berhenti sebagai pengalaman spiritual di Tanah Suci, tetapi berlanjut menjadi gerakan moral dan sosial yang memberi manfaat bagi masyarakat,” katanya.
Afifuddin turut menyampaikan apresiasi kepada Menteri Agama, Kementerian Agama, dan seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan ibadah haji tahun ini.
Ia menilai pelaksanaan haji 1447 Hijriah/2026 Masehi berjalan dengan baik serta menunjukkan capaian positif dalam aspek pelayanan, pendampingan ibadah, dan penguatan nilai-nilai peradaban di kalangan jamaah Indonesia.
Sementara itu, Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf mengatakan kehadiran para kiai dan ulama dalam Musyrif Diny memiliki peran penting untuk memastikan seluruh rangkaian ibadah haji berjalan sesuai tuntunan agama.
“Alhamdulillah, siang ini saya dan tim dari Kementerian Haji menyambut kedatangan sebagian dari Musyrif Diny, yaitu para kiai, para alim, yang kami undang untuk bergabung dengan kami dalam rangka memastikan semua ritual, semua kegiatan para haji kita memang sesuai dengan setiap aturan yang telah ditentukan dalam agama,” ujar Gus Irfan.
Menurut dia, keterlibatan para ulama dalam pendampingan ibadah menjadi bagian penting untuk menjaga kualitas pelaksanaan haji sekaligus memastikan jamaah memperoleh bimbingan keagamaan yang tepat selama berada di Tanah Suci.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang