Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Oleh-oleh Haji Tak Melulu Kurma, Jemaah Indonesia Juga Kirim Wajan hingga Teko dari Tanah Suci

Kompas.com, 9 Juni 2026, 21:11 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

KOMPAS.com - Kurma, sajadah, dan perlengkapan ibadah masih menjadi oleh-oleh khas yang banyak dibawa jamaah haji dari Tanah Suci.

Namun, layanan kargo yang tersedia selama musim haji mengungkap fakta menarik tentang ragam barang yang dibeli jamaah Indonesia di Arab Saudi.

Tidak sedikit jamaah yang memanfaatkan layanan pengiriman barang untuk mengirim oleh-oleh unik dan berukuran besar yang sulit dibawa dalam bagasi pesawat.

Baca juga: Belanja Oleh-oleh Haji di Al Balad, Jemaah Bisa Tawar-menawar Pakai Bahasa Indonesia

Mulai dari wajan, teko, hingga berbagai peralatan rumah tangga tercatat menjadi isi paket yang dikirim jamaah ke berbagai daerah di Indonesia.

Hal ini seperti diungkap Petugas Pos Indonesia di Makkah, Karyadi, yang mengatakan isi paket kiriman jamaah haji sangat beragam dan sering kali di luar dugaan.

Selain kurma, pakaian, dan perlengkapan ibadah, banyak jamaah yang memilih membawa pulang barang-barang rumah tangga dari Arab Saudi.

Baca juga: Pasar Kakiyah Makkah, Lokasi Favorit Jamaah Haji Indonesia untuk Belanja Oleh-oleh

"Ada wajan, alat-alat rumah tangga, terutama jemaah di daerah Makassar banyak yang kirim teko, sajadah besar, dan lainnya," kata Karyadi kepada tim Media Center Haji (MCH) di Al Waha, Kakiyah, Makkah, Senin (8/6/2026).

Menurut dia, barang-barang tersebut cukup sering ditemukan dalam paket kiriman jamaah yang memanfaatkan layanan kargo Pos Indonesia.

Layanan Kargo Jadi Solusi Bawa Oleh-oleh Lebih Banyak

Layanan kargo menjadi alternatif bagi jamaah yang ingin membawa lebih banyak oleh-oleh tanpa khawatir kelebihan bagasi saat pulang ke Indonesia.

Selama musim haji, PT Pos Indonesia membuka layanan pengiriman barang dari Makkah dan Madinah ke berbagai daerah di Tanah Air.

Untuk menggunakan layanan tersebut, jamaah cukup mendatangi posko Pos Indonesia atau menghubungi petugas yang telah disediakan.

Selanjutnya, seluruh barang yang akan dikirim akan diproses dan dikemas oleh petugas.

"Kami packing semuanya. Jemaah cukup membawa barangnya dalam kantong plastik. Nanti kami yang merapikan ke dalam kardus," ujar Karyadi.

Barang Dikemas Khusus agar Aman Selama Perjalanan

Petugas Pos Indonesia akan menyesuaikan ukuran kardus dengan barang yang dikirim untuk menjaga keamanan paket selama perjalanan.

"Kalau kardusnya terlalu besar atau ada ruang kosong, akan kami sesuaikan supaya barangnya padat dan tidak bergerak-gerak selama perjalanan," katanya.

Setelah proses pengemasan selesai, petugas melakukan pendataan dan menerbitkan nomor resi yang dapat digunakan jamaah untuk melacak posisi barang.

Paket kemudian dikirim ke titik pengumpulan sebelum dibawa ke Jeddah dan diterbangkan menuju Indonesia.

Sesampainya di Tanah Air, barang tetap harus menjalani pemeriksaan Bea Cukai sebelum didistribusikan ke alamat tujuan.

"Proses pengirimannya bisa memakan waktu 7 sampai 12 hari, tapi mengingat kepadatan lalu lintas penerbangan di Jeddah pasca-Armuzna, kemungkinan ada keterlambatan di pengirimannya," ungkap Karyadi.

Tarif Pengiriman Mulai Rp110 Ribu per Kilogram

Tarif pengiriman ke sejumlah wilayah di Indonesia dipatok sebesar 23 riyal atau sekitar Rp110 ribu per kilogram.

Untuk wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), Gorontalo, dan Sulawesi Utara, tarifnya mencapai 25 riyal atau sekitar Rp120 ribu per kilogram.

Sementara pengiriman ke Papua dan sekitarnya dikenakan tarif 30 riyal atau sekitar Rp144 ribu per kilogram.

Setiap jamaah dibatasi maksimal dua kali pengiriman dan memperoleh fasilitas bebas bea masuk sesuai ketentuan yang berlaku.

Air Zamzam Tidak Bisa Dikirim Lewat Kargo

Meski banyak barang dapat dikirim melalui layanan kargo, terdapat sejumlah barang yang dilarang untuk dikirim.

"Barang yang tidak boleh dikirimkan di antaranya air zamzam, zaitun dalam jumlah besar," kata dia.

Salah seorang jamaah asal Sulawesi Tengah, Jumiati, mengaku terbantu dengan adanya layanan kargo tersebut.

Ia berencana mengirim sejumlah oleh-oleh ke kampung halamannya, mulai dari sajadah, sorban, hingga tumbler.

"Pakai kargo, kargo Pos. Belum dikirim, baru mau packing," ujarnya.

Menurut Jumiati, layanan tersebut memudahkan jemaah yang ingin membawa lebih banyak buah tangan tanpa harus khawatir melebihi batas bagasi penerbangan saat kembali ke Indonesia.

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul “Tak Hanya Kurma, Jemaah Haji Kirim Wajan hingga Teko dari Arab Saudi via Pos Indonesia”.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Kemenhaj Akan Tindak Oknum KBIHU yang Diduga Terlibat Penipuan Badal Haji dan Dam
Kemenhaj Akan Tindak Oknum KBIHU yang Diduga Terlibat Penipuan Badal Haji dan Dam
Aktual
Penipuan Dam dan Badal Haji Terbongkar, Kemenhaj Ungkap Modusnya
Penipuan Dam dan Badal Haji Terbongkar, Kemenhaj Ungkap Modusnya
Aktual
Oleh-oleh Haji Tak Melulu Kurma, Jemaah Indonesia Juga Kirim Wajan hingga Teko dari Tanah Suci
Oleh-oleh Haji Tak Melulu Kurma, Jemaah Indonesia Juga Kirim Wajan hingga Teko dari Tanah Suci
Aktual
PPIH Arab Saudi Terima Penghargaan Setelah Lebih dari 135 Ribu Jamaah Haji Indonesia Bayar Dam Lewat Adahi
PPIH Arab Saudi Terima Penghargaan Setelah Lebih dari 135 Ribu Jamaah Haji Indonesia Bayar Dam Lewat Adahi
Aktual
Kemenhaj Siapkan Panduan Kemabruran Haji untuk Pembinaan Jamaah Sepulang dari Tanah Suci
Kemenhaj Siapkan Panduan Kemabruran Haji untuk Pembinaan Jamaah Sepulang dari Tanah Suci
Aktual
Kemenhaj NTB Pastikan Ahli Waris Jamaah Haji yang Wafat Menerima Santunan
Kemenhaj NTB Pastikan Ahli Waris Jamaah Haji yang Wafat Menerima Santunan
Aktual
Masjid Nabawi Distribusikan 235 Ton Air Zamzam Setiap Hari untuk Jemaah
Masjid Nabawi Distribusikan 235 Ton Air Zamzam Setiap Hari untuk Jemaah
Aktual
Arab Saudi Peringatkan Bahaya Diet Tayyibat yang Viral di Sosmed, Ini Alasannya
Arab Saudi Peringatkan Bahaya Diet Tayyibat yang Viral di Sosmed, Ini Alasannya
Aktual
6 Jemaah Haji Asal Kaltim Wafat di Tanah Suci, Sebagian Besar Akibat Kelelahan dan Cuaca Ekstrem
6 Jemaah Haji Asal Kaltim Wafat di Tanah Suci, Sebagian Besar Akibat Kelelahan dan Cuaca Ekstrem
Aktual
Dua Jemaah Haji Ciamis yang Wafat di Tanah Suci Berhak Terima Asuransi Sebesar BPIH
Dua Jemaah Haji Ciamis yang Wafat di Tanah Suci Berhak Terima Asuransi Sebesar BPIH
Aktual
Dua Jemaah Haji Sumsel Wafat di Makkah, Dimakamkan di Sharaya
Dua Jemaah Haji Sumsel Wafat di Makkah, Dimakamkan di Sharaya
Aktual
Serangan Jantung Akut, Jamaah Haji Banyuwangi Wafat di Tanah Suci
Serangan Jantung Akut, Jamaah Haji Banyuwangi Wafat di Tanah Suci
Aktual
Sebelum Adam Diciptakan, Mengapa Malaikat Tahu Manusia Akan Merusak?
Sebelum Adam Diciptakan, Mengapa Malaikat Tahu Manusia Akan Merusak?
Doa dan Niat
Haji Mulai Tinggalkan Madinah, Kota Nabi Bersiap Sambut Gelombang Jamaah Umrah
Haji Mulai Tinggalkan Madinah, Kota Nabi Bersiap Sambut Gelombang Jamaah Umrah
Aktual
Bolehkah Menikahi Perempuan yang Hamil di Luar Nikah? Ini Penjelasan Muhammadiyah
Bolehkah Menikahi Perempuan yang Hamil di Luar Nikah? Ini Penjelasan Muhammadiyah
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com