Editor
KOMPAS.com — Bulan Maulid Nabi dapat menjadi momentum bagi umat Islam untuk kembali membaca sirah Nabi Muhammad SAW.
Melalui sirah, umat Islam tidak hanya mengenal perjalanan hidup Rasulullah SAW, tetapi juga menemukan berbagai keteladanan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Keteladanan tersebut tidak hanya terlihat ketika Rasulullah SAW berdakwah atau memimpin umat.
Di dalam rumah, misalnya, Rasulullah turut membantu keluarganya. Beliau juga menunjukkan kasih sayang kepada anak dan cucu serta memperlakukan orang-orang di sekitarnya dengan baik.
Karena itu, mencintai Rasulullah SAW tidak cukup hanya diungkapkan melalui lisan. Kecintaan tersebut juga perlu diwujudkan dengan meneladani akhlak dan perilaku beliau.
Baca juga: Khutbah Jumat: Bahaya Rokok bagi Diri, Keluarga, dan Masa Depan
Tema tersebut dapat disampaikan dalam khutbah Jumat pada bulan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Berikut naskah khutbah Jumat bertema "Bulan Maulid, Kembali Membaca Sirah Nabawiyah untuk Diteladani" yang ditulis Sunnatullah, pengajar Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam, Kokop, Bangkalan, Jawa Timur dan dikutip dari Nu Online:
الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَنْزَلَ الْأَحْكَامَ لِإِمْضَاءِ عِلْمِهِ الْقَدِيمِ، وَأَجْزَلَ الْإِنْعَامَ لِشَاكِرِ فَضْلِهِ الْعَمِيمِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ الْبَرُّ الرَّحِيمُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الْمَبْعُوثُ بِالدِّيْنِ الْقَوِيمِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ أَفْضَلَ الصَّلَاةِ وَالتَّسْلِيمِ.
أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ الْكَرِيْمِ، فَإِنِّي أُوْصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ الْحَكِيْمِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Ma'asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Sudah seyogianya kita mengucapkan syukur alhamdulillahi rabbil 'alamin atas segala nikmat dan karunia yang telah Allah SWT berikan kepada kita.
Atas karunia-Nya, kita masih diberikan kesempatan untuk berkumpul di tempat mulia ini guna menunaikan kewajiban shalat Jumat.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga dan para sahabatnya.
Di tengah derasnya godaan dunia dan beragam fitnah zaman, tidak ada bekal yang lebih berharga bagi kita selain ketakwaan.
Dengan takwa, kita memiliki pegangan yang kuat dalam menjalani kehidupan dan tidak mudah terbawa berbagai godaan.
Oleh karena itu, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan dengan menjalankan segala perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya.
Ma'asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Salah satu cara menghidupkan bulan Maulid adalah kembali membaca sirah Nabawiyah.
Di dalamnya terdapat akhlak, perjuangan, dan teladan mulia Nabi Muhammad SAW yang tidak hanya untuk diketahui, tetapi juga diteladani dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan membaca sirah, kita tidak hanya mengenal siapa Rasulullah SAW, tetapi juga mengetahui bagaimana kehidupan, ibadah, perjuangan, kesabaran, serta akhlak beliau.
Al-Quran menegaskan bahwa pada diri Rasulullah SAW terdapat teladan yang patut diikuti.
Allah SWT berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Artinya:
"Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah." (QS Al-Ahzab: 21)
Ayat tersebut menegaskan bahwa Rasulullah SAW merupakan teladan bagi umat Islam.
Keteladanan itu bukan sekadar untuk dikagumi, tetapi untuk diikuti dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Imam Abu Ja'far At-Thabari dalam Jami'ul Bayan fi Ta'wilil Qur'an menjelaskan:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ: أَنْ تَتَأَسَّوْا بِهِ وَتَكُونُوا مَعَهُ حَيْثُ كَانَ، وَلَا تَتَخَلَّفُوا عَنْهُ
Artinya:
"Sungguh, pada diri Rasulullah benar-benar terdapat suri teladan yang baik bagi kalian. Maksudnya, hendaknya kalian meneladani Rasulullah, menyertainya di mana pun beliau berada, dan tidak berpaling darinya."
Dengan demikian, mencintai Rasulullah SAW tidak cukup hanya diungkapkan melalui lisan.
Kecintaan kepada beliau semestinya menemukan bentuknya dalam perilaku, mulai dari bagaimana kita berbicara, memperlakukan orang lain, menjalani kehidupan keluarga, bermasyarakat, hingga menghadapi berbagai persoalan.
Ma'asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Sirah Rasulullah SAW menyimpan begitu banyak keteladanan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Keteladanan tersebut tidak hanya terlihat ketika beliau berada di masjid, memimpin umat, maupun menyampaikan wahyu.
Di dalam rumah dan di tengah keluarga, kita juga menemukan Rasulullah SAW sebagai sosok yang penuh kasih, rendah hati, dan ringan tangan.
Sebagai seorang suami, Rasulullah SAW tidak menempatkan dirinya sebagai orang yang hanya menunggu untuk dilayani. Beliau turut membantu pekerjaan dan keperluan keluarganya.
Ummul Mukminin Aisyah RA pernah ditanya mengenai apa yang dilakukan Rasulullah SAW ketika berada di rumah. Ia menjawab:
كَانَ يَكُونُ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ تَعْنِي خِدْمَةَ أَهْلِهِ فَإِذَا حَضَرَتْ الصَّلَاةُ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ
Artinya:
"Nabi biasa membantu pekerjaan keluarganya. Ketika waktu shalat tiba, beliau keluar untuk melaksanakan shalat." (HR Bukhari)
Rasulullah SAW adalah seorang nabi sekaligus pemimpin umat. Namun, kedudukan tersebut tidak membuat beliau merasa terlalu tinggi untuk membantu keluarganya.
Beliau tetap hadir sebagai suami yang ringan tangan, dekat dengan keluarga, dan tidak segan membantu pekerjaan rumah.
Karena itu, seorang suami yang membantu istrinya membersihkan rumah, menyiapkan keperluan keluarga, atau mengerjakan pekerjaan rumah lainnya sesungguhnya sedang mengikuti salah satu teladan Rasulullah SAW.
Perbuatan yang terlihat sederhana tersebut mencerminkan akhlak berupa kerendahan hati, kepedulian, dan kemauan berbagi tanggung jawab dalam keluarga.
Ma'asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Keteladanan Rasulullah SAW tidak berhenti pada perannya sebagai seorang suami.
Beliau juga memberikan teladan mengenai pentingnya menunjukkan kasih sayang kepada anak dan cucu.
Dikisahkan, suatu ketika Rasulullah SAW mencium Hasan bin Ali, cucunya.
Al-Aqra' bin Habis yang melihatnya kemudian mengatakan bahwa ia mempunyai sepuluh anak, tetapi tidak pernah mencium seorang pun dari mereka.
Rasulullah SAW kemudian bersabda:
إِنَّ مَنْ لَا يَرْحَمُ لَا يُرْحَمُ
Artinya:
"Sungguh, siapa saja yang tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi."
Hadis tersebut mengajarkan bahwa kasih sayang bukanlah tanda kelemahan.
Sebaliknya, kasih sayang merupakan bagian dari akhlak seorang Muslim.
Rasulullah SAW menunjukkan bahwa anak-anak membutuhkan perhatian dan ungkapan kasih sayang dari keluarganya.
Boleh jadi, yang paling lama tinggal dalam ingatan seorang anak bukanlah seberapa mahal hadiah yang pernah diberikan kepadanya, melainkan seberapa hangat ia dipeluk dan seberapa sering ia merasa dicintai keluarganya.
Karena itu, jika ingin meneladani Rasulullah SAW, marilah kita menghadirkan akhlak beliau di rumah.
Jadilah suami yang ringan tangan, orangtua yang penuh kasih, kakek yang hangat, serta anggota keluarga yang membuat rumah menjadi tempat yang nyaman bagi orang-orang di dalamnya.
Keteladanan Rasulullah SAW bukan hanya untuk dibaca dalam kitab-kitab sirah, tetapi juga untuk dihidupkan dalam keluarga dan kehidupan sehari-hari.
Ma'asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Keteladanan Rasulullah SAW juga terlihat dari cara beliau memperlakukan orang yang berada di bawah tanggungannya.
Beliau tidak menjadikan kedudukan sebagai alasan untuk bersikap kasar dan bertindak sewenang-wenang.
Hal tersebut tergambar dari kesaksian Anas bin Malik yang melayani Rasulullah SAW selama bertahun-tahun.
Anas berkata:
خَدَمْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ سِنِينَ وَمَا كُلُّ أَمْرِي كَمَا يُحِبُّ صَاحِبِي أَنْ يَكُونَ مَا قَالَ لِي فِيهَا أُفٍّ وَلَا قَالَ لِي لِمَ فَعَلْتَ هَذَا وَأَلَّا فَعَلْتَ هَذَا
Artinya:
"Aku telah melayani Rasulullah selama sepuluh tahun. Tidak semua urusanku sesuai dengan yang disukai Rasulullah. Namun, beliau tidak pernah mengatakan kepadaku, 'ah', tidak pula mengatakan, 'Mengapa engkau melakukan ini?' atau, 'Mengapa engkau tidak melakukan ini?'"
Ma'asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Apa yang telah kita dengar hanyalah sebagian kecil dari sekian banyak keteladanan Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari.
Masih begitu banyak akhlak, sikap, dan perilaku beliau yang layak kita kenal dan teladani.
Karena itu, bulan Maulid dapat menjadi momentum untuk kembali membaca sirah Nabawiyah agar kita semakin mengenal kehidupan Rasulullah, semakin mencintai beliau, dan yang terpenting semakin mampu menerapkan keteladanannya.
Imam Ibnu Hazm dalam Jawami' as-Sirah mengatakan:
مَنْ أَرَادَ خَيْرَ الْأَخِرَةِ وَحِكْمَةَ الدُّنْيَا وَعَدْلَ السِّيْرَةِ وَالْاِحْتِوَاءَ عَلىَ مَحَاسِنِ الْأَخْلَاقِ كُلِّهَا وَاسْتِحْقَاقِ الْفَضَائِلِ بِأَسْرِهَا، فَلْيَقْتَدِ بِمُحَمَّدٍ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلْيَعْتَمِدْ أَخْلَاقَهُ وَسِيَرَهُ مَا أَمْكَنَهُ
Artinya:
"Siapa saja yang menginginkan kebaikan akhirat, kebijaksanaan dunia, keseimbangan hidup, mencakup keutamaan akhlak, serta memperoleh segala keutamaan, maka hendaklah ia meneladani Nabi Muhammad SAW dan menjadikan akhlak serta jalan hidup beliau sebagai pedoman, semampunya."
Semoga dengan mengenal kehidupan Rasulullah SAW, kita semakin mencintai beliau serta mampu meneladani akhlak dan perjuangannya dalam kehidupan sehari-hari.
Semoga momentum Maulid Nabi membawa keberkahan bagi kita semua.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلَهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمُ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ.
اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ
أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ.
وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وِالْأَمْوَاتِ.
اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT