KOMPAS.com – Waktu terus berjalan tanpa terasa. Bulan Dzulhijjah yang menjadi penutup tahun Hijriah perlahan akan berakhir, menandai datangnya 1 Muharram 1448 Hijriah dan dimulainya lembaran tahun baru bagi umat Islam.
Bagi sebagian orang, pergantian tahun sering dipandang sebagai pergantian angka dalam kalender semata.
Namun dalam tradisi Islam, momen pergantian tahun memiliki makna yang jauh lebih dalam. Ia menjadi waktu untuk berhenti sejenak, menengok perjalanan hidup selama setahun terakhir, lalu bertanya kepada diri sendiri: sudah sejauh mana langkah yang ditempuh mendekatkan diri kepada Allah SWT?
Baca juga: Doa Buka Puasa Zulhijah: Arab, Latin, Arti, dan Waktu Membacanya
Karena itulah banyak ulama menganjurkan umat Islam memperbanyak muhasabah atau introspeksi diri menjelang berakhirnya tahun Hijriah. Salah satu amalan yang populer dilakukan adalah membaca doa akhir tahun Hijriah.
Doa ini berisi pengakuan atas kelemahan manusia, permohonan ampun atas dosa yang telah dilakukan, sekaligus harapan agar Allah SWT menerima amal-amal baik yang telah dikerjakan selama setahun terakhir.
Lantas bagaimana bacaan doa akhir tahun Hijriah? Kapan waktu terbaik membacanya? Dan apa makna yang terkandung di balik doa tersebut?
Berbeda dengan perayaan pergantian tahun pada umumnya yang identik dengan kemeriahan, Islam mengajarkan agar pergantian tahun dijadikan momentum evaluasi diri.
Konsep ini dikenal dengan istilah muhasabah.
Allah SWT berfirman:
"Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok." (QS Al-Hasyr: 18)
Ayat ini sering dijadikan landasan oleh para ulama untuk mendorong umat Islam melakukan evaluasi diri secara berkala.
Dalam buku Di Balik 7 Hari Besar Islam karya Muhammad Sholikhin dijelaskan bahwa pergantian tahun Hijriah merupakan saat yang tepat untuk menghitung kembali amal-amal yang telah dilakukan selama satu tahun.
Bukan hanya kesalahan yang perlu diingat, tetapi juga berbagai nikmat yang telah Allah berikan sepanjang perjalanan hidup.
Muhasabah pada akhirnya bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan menjadi langkah awal untuk memperbaiki masa depan.
Baca juga: Mengenal Bulan Muharram, Pembuka Tahun Hijriah yang Mulia dan Diharamkan untuk Berperang
Tradisi membaca doa akhir tahun telah lama dikenal di berbagai kalangan umat Islam, khususnya di wilayah Nusantara.
Doa ini biasanya dibaca menjelang berakhirnya bulan Dzulhijjah sebagai ungkapan harapan agar Allah SWT mengampuni dosa-dosa yang telah lalu dan menerima seluruh amal saleh yang pernah dilakukan.
Dikutip dari buku Majmu Syarif dan Al-Ma'tsurat karya Sulthan Adam, seorang Muslim dianjurkan memperbanyak muhasabah sejak waktu Ashar hingga menjelang Maghrib pada hari terakhir tahun Hijriah.
Setelah Maghrib, umat Islam kemudian dianjurkan memperbanyak doa dan harapan untuk menghadapi tahun yang baru.
Melalui doa ini, seorang hamba diajak menyadari bahwa selama setahun terakhir mungkin ada banyak kesalahan yang luput dari perhatian, namun tidak pernah luput dari pengetahuan Allah SWT.
Dalam buku Terjemah dan Fadhilah Majmu' Syarif yang disusun Ustaz Rusdianto, disebutkan bacaan doa akhir tahun yang umum diamalkan umat Islam.
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمْ
اللَّهُمَّ مَا عَمِلْتُ فِي هَذِهِ السَّنَةِ مِمَّا نَهَيْتَنِي عَنْهُ فَلَمْ أَتُبْ مِنْهُ وَلَمْ تَرْضَهُ وَلَمْ تَنْسَهُ وَحَلِمْتُ عَلَيَّ بَعْدَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوبَتِي وَدَعَوْتَنِي إِلَى التَّوْبَةِ مِنْهُ بَعْدَ جُرْأَتِي عَلَى مَعْصِيَتِكَ فَإِنِّى أَسْتَغْفِرُكَ فَاغْفِرْلِى.
وَمَا عَمِلْتُ فِيْهَا مِمَّا تَرْضَاهُ وَوَعَدْتَنِي عَلَيْهِ الثَّوَابَ فَأَسْئَلُكَ اللَّهُمَّ يَا كَرِيمُ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ أَنْ تَتَقَبَّلَهُ مِنِّى وَلَا تَقْطَعْ رَجَائِي مِنْكَ يَا كَرِيمُ.
Bismillaahirrahmaanirrahiim. Alhamdu lillaahi rabbil 'aalamiin. Wa shallallaahu 'alaa sayyidinaa Muhammadin wa 'alaa aalihii wa shahbihii wa sallam.
Allaahumma maa 'amiltu fii haadzihis sanati mimmaa nahaitanii 'anhu falam atub minhu wa lam tardhahuu wa lam tansahuu wa halimta 'alayya ba'da qudratika 'alaa 'uquubatii wa da'autanii ilat taubati minhu ba'da jur-atii 'alaa ma'shiyatika fa innii astaghfiruka faghfirlii.
Wa maa 'amiltu fiihaa mimmaa tardhaahu wa wa'adtanii 'alaihits tsawaaba fa as-aluka Allaahumma yaa Kariimu yaa Dzal Jalaali wal Ikraam an tataqabbalahuu minnii wa laa taqtha' rajaa-ii minka yaa Kariim.
Artinya: "Ya Allah, segala perbuatan yang telah aku lakukan selama tahun ini yang Engkau larang dan aku belum bertaubat darinya, sementara Engkau tidak melupakannya dan tetap memberiku kesempatan untuk kembali kepada-Mu, maka aku memohon ampun kepada-Mu, ampunilah aku.
Dan segala amal yang telah aku lakukan yang Engkau ridai serta Engkau janjikan pahala atasnya, aku memohon agar Engkau menerimanya. Wahai Dzat Yang Maha Mulia dan Maha Pemurah, janganlah Engkau putuskan harapanku kepada-Mu."
Baca juga: Kapan Libur Tahun Baru Islam 2026? Cek Jadwal Long Weekend 1 Muharram 1448 Hijriah
Jika diperhatikan, isi doa akhir tahun tidak berisi permintaan duniawi seperti kekayaan, jabatan, atau kemudahan rezeki.
Sebaliknya, inti doa ini adalah permohonan ampun dan harapan agar amal diterima Allah SWT.
Dalam kitab Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa tanda orang yang beriman adalah selalu merasa kurang dalam ibadahnya dan selalu khawatir amalnya tidak diterima.
Karena itu, seorang Muslim dianjurkan tidak hanya memperbanyak amal, tetapi juga memperbanyak doa agar amal tersebut diterima oleh Allah.
Doa akhir tahun mengajarkan sikap rendah hati di hadapan Allah. Sebesar apa pun amal seseorang selama setahun, ia tetap membutuhkan rahmat dan ampunan Allah SWT.
Para ulama menjelaskan bahwa doa akhir tahun umumnya dibaca pada hari terakhir bulan Dzulhijjah.
Menurut penjelasan Muhammad Sholikhin dalam bukunya, doa ini lazim dibaca setelah salat Ashar hingga menjelang Maghrib.
Waktu tersebut dipilih karena secara syariat pergantian hari dalam kalender Hijriah dimulai saat matahari terbenam.
Artinya, setelah masuk waktu Maghrib, tahun Hijriah yang lama telah berakhir dan tahun yang baru dimulai.
Karena itu, banyak majelis taklim dan pesantren mengamalkan doa akhir tahun menjelang Maghrib, kemudian dilanjutkan dengan doa awal tahun setelah Maghrib.
Baca juga: 1 Muharram 1448 H Jatuh 16 Juni 2026, Ini Jadwal Libur Nasional
Para ulama menegaskan bahwa doa akhir tahun bukanlah kewajiban maupun syarat tertentu dalam Islam.
Tidak ada dalil sahih yang secara khusus mewajibkan umat Islam membaca doa tertentu saat pergantian tahun Hijriah.
Namun membaca doa, beristighfar, bermuhasabah, dan memohon ampun kepada Allah merupakan amalan yang dianjurkan setiap waktu.
Karena itu, selama isi doa mengandung kebaikan dan tidak bertentangan dengan syariat, membacanya termasuk bagian dari amalan yang baik.
Setiap tahun yang berlalu sesungguhnya membawa satu pesan penting: usia manusia terus berkurang.
Hari-hari yang telah lewat tidak akan pernah kembali, sementara catatan amal terus bertambah.
Karena itulah, pergantian tahun Hijriah bukan sekadar peristiwa kalender, melainkan pengingat bahwa perjalanan menuju Allah SWT terus berlangsung.
Doa akhir tahun menjadi cara sederhana untuk menutup lembaran lama dengan istighfar dan membuka lembaran baru dengan harapan.
Sebab pada akhirnya, yang paling dibutuhkan seorang hamba bukanlah banyaknya usia, melainkan keberkahan dalam usia yang diberikan Allah SWT.
Maka ketika matahari terakhir di penghujung Dzulhijjah mulai tenggelam, luangkanlah waktu sejenak untuk menundukkan kepala, memohon ampunan, dan menyerahkan seluruh perjalanan hidup kepada Allah SWT. Siapa tahu, itulah doa yang menjadi awal kebaikan di tahun yang baru.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang