KOMPAS.com – Salah satu dialog paling menarik dalam Al-Qur'an terjadi jauh sebelum manusia pertama diciptakan.
Dialog itu berlangsung antara Allah SWT dan para malaikat ketika Allah mengabarkan rencana-Nya untuk menjadikan seorang khalifah di bumi.
Saat itu belum ada Nabi Adam AS. Belum ada manusia, peradaban, peperangan, atau sejarah panjang yang kini memenuhi lembaran kehidupan bumi.
Namun ketika mendengar kabar tentang penciptaan makhluk baru bernama manusia, para malaikat justru mengajukan sebuah pertanyaan yang mengundang rasa penasaran.
Mereka bertanya mengapa Allah hendak menciptakan makhluk yang akan berbuat kerusakan dan menumpahkan darah di bumi.
Pertanyaan ini kemudian menjadi salah satu pembahasan penting dalam kitab-kitab tafsir klasik maupun kontemporer. Para ulama berusaha menjelaskan dari mana para malaikat mengetahui sesuatu yang bahkan belum terjadi.
Apakah mereka melihat masa depan? Apakah Allah memberitahu mereka? Ataukah ada pengalaman sebelumnya yang membuat mereka sampai pada kesimpulan tersebut?
Kisah itu diabadikan Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 30:
"Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, 'Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi.' Mereka berkata, 'Apakah Engkau hendak menjadikan di sana makhluk yang akan berbuat kerusakan dan menumpahkan darah, sedangkan kami senantiasa bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?' Allah berfirman, 'Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.'"
Ayat ini menjadi titik awal pembicaraan tentang hakikat manusia, tugas kekhalifahan, serta hikmah besar di balik penciptaan Adam AS.
Dalam tafsirnya, Imam Abu Ja'far Ath-Thabari menjelaskan bahwa kata khalifah mengandung makna generasi yang saling menggantikan satu sama lain di muka bumi.
Manusia diberi amanah untuk mengelola kehidupan, memakmurkan bumi, dan menjalankan perintah Allah.
Namun sebelum amanah besar itu diberikan, muncul pertanyaan dari para malaikat yang hingga kini masih sering dibahas oleh para ulama.
Baca juga: 6 Peristiwa Besar Bulan Muharram, dari Nabi Adam hingga Tragedi Karbala
Sebagian orang mungkin bertanya, mengapa malaikat sampai mempertanyakan keputusan Allah?
Padahal Al-Qur'an menjelaskan bahwa malaikat adalah makhluk yang selalu taat dan tidak pernah membangkang.
Para mufasir menegaskan bahwa pertanyaan malaikat bukanlah bentuk penolakan, apalagi pembangkangan terhadap kehendak Allah.
Dalam kitab Tafsir Al-Qur'an Al-Azhim, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa para malaikat bertanya untuk mengetahui hikmah di balik penciptaan manusia.
Mereka ingin memahami tujuan penciptaan makhluk yang memiliki potensi melakukan kerusakan, bukan sedang memprotes keputusan Allah.
Karena itu, para malaikat tetap menunjukkan adab yang tinggi kepada Allah SWT. Mereka tidak berkata bahwa penciptaan manusia adalah kesalahan, melainkan meminta penjelasan atas hikmah yang belum mereka ketahui.
Inilah pertanyaan yang paling sering diajukan.
Para ulama tafsir menyampaikan beberapa pendapat yang berbeda.
Pendapat yang paling banyak disebut dalam kitab-kitab tafsir berasal dari riwayat para sahabat dan tabi'in. Sebelum manusia diciptakan, bumi telah dihuni oleh bangsa jin.
Menurut riwayat yang dinukil Ibnu Katsir dari Abdullah bin Abbas dan Abdullah bin Umar, para jin telah mendiami bumi jauh sebelum penciptaan Adam. Mereka saling berperang, membuat kerusakan, dan menumpahkan darah.
Dalam kitab Qashash Al-Anbiya' karya Ibnu Katsir dijelaskan bahwa Allah kemudian mengutus pasukan malaikat untuk mengalahkan kelompok jin yang berbuat kerusakan dan mengusir mereka ke berbagai wilayah terpencil.
Karena pernah menyaksikan kejadian tersebut, para malaikat menduga bahwa makhluk baru yang akan menghuni bumi kemungkinan memiliki perilaku serupa.
Sebagian ulama berpendapat bahwa para malaikat mengetahui hal tersebut karena Allah sendiri mengajarkan atau mengisyaratkannya kepada mereka.
Imam Fakhruddin Ar-Razi dalam Mafatih Al-Ghaib menjelaskan bahwa tidak mustahil Allah memberikan sebagian informasi kepada malaikat mengenai sifat dasar manusia yang memiliki kehendak bebas.
Berbeda dengan malaikat yang selalu taat, manusia memiliki kemampuan memilih antara kebaikan dan keburukan. Dari sinilah muncul kemungkinan terjadinya dosa, konflik, dan pertumpahan darah.
Pendapat lain menyebutkan bahwa para malaikat mengetahui hal tersebut melalui informasi yang tertulis dalam Lauhul Mahfuzh.
Dalam sejumlah riwayat tafsir klasik disebutkan bahwa segala ketentuan Allah telah tercatat sejak awal penciptaan.
Sebagian ulama berpendapat bahwa malaikat mengetahui sebagian informasi itu sehingga memahami apa yang akan terjadi pada keturunan Adam.
Meski demikian, pendapat ini tidak menjadi kesepakatan seluruh ulama dan lebih banyak disebut sebagai salah satu kemungkinan penjelasan.
Ada pula ulama yang menjelaskan bahwa para malaikat menyimpulkan hal tersebut dari karakter makhluk yang diciptakan dari unsur bumi.
Imam Al-Qurthubi dalam Al-Jami' li Ahkam Al-Qur'an menyebutkan bahwa sebagian mufasir memahami pertanyaan malaikat sebagai hasil pengamatan terhadap karakter makhluk yang memiliki dorongan syahwat dan kehendak bebas.
Manusia diciptakan dari tanah, memiliki kebutuhan biologis, keinginan, emosi, dan ambisi. Potensi-potensi itulah yang dapat mendorong manusia kepada kebaikan maupun keburukan.
Baca juga: Benarkah Malaikat Sudah Berhaji 2.000 Tahun Sebelum Nabi Adam Diciptakan?
Jika manusia memiliki potensi berbuat kerusakan, mengapa Allah tetap menciptakannya?
Jawabannya terdapat dalam firman Allah:
"Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."
Kalimat singkat ini menyimpan makna yang sangat dalam.
Menurut Ibnu Katsir, Allah mengetahui bahwa dari keturunan Adam akan lahir para nabi, rasul, orang-orang saleh, syuhada, ulama, dan hamba-hamba pilihan yang mengabdikan hidupnya untuk kebaikan.
Meskipun ada manusia yang melakukan kerusakan, ada pula manusia yang membangun peradaban, menyebarkan ilmu, menegakkan keadilan, dan mengajak kepada kebenaran.
Dalam kitab Tafsir As-Sa'di, Syekh Abdurrahman As-Sa'di menjelaskan bahwa hikmah besar penciptaan manusia jauh lebih luas daripada kerusakan yang mungkin mereka lakukan.
Allah menciptakan manusia untuk diuji, diberi kesempatan memilih, lalu mempertanggungjawabkan pilihannya di hadapan-Nya.
Setelah dialog tersebut, Allah menunjukkan salah satu kelebihan Adam yang belum diketahui para malaikat.
Allah mengajarkan kepada Adam nama-nama berbagai benda dan pengetahuan yang tidak dimiliki malaikat.
Ketika para malaikat tidak mampu menjawab pertanyaan Allah tentang nama-nama tersebut, Adam mampu menjelaskannya.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa ilmu merupakan salah satu bentuk kemuliaan yang diberikan Allah kepada manusia.
Dalam buku Manusia dalam Perspektif Al-Qur'an karya M. Quraish Shihab dijelaskan bahwa kelebihan utama manusia bukan terletak pada kekuatan fisik, melainkan kemampuan berpikir, belajar, dan mengembangkan ilmu pengetahuan.
Karena itulah manusia layak memikul amanah sebagai khalifah di bumi.
Baca juga: Takut Suaranya Menyakiti Nabi, Tsabit bin Qais Menangis Memohon Ampun
Meski Allah menciptakan manusia sebagai khalifah, Al-Qur'an tetap menggambarkan malaikat sebagai makhluk yang sangat mulia.
Mereka tidak pernah lelah beribadah, tidak pernah membangkang, dan selalu melaksanakan perintah Allah.
Dalam Surah Al-Anbiya ayat 20 disebutkan bahwa para malaikat bertasbih kepada Allah siang dan malam tanpa henti.
Karena itu, ketika para malaikat berkata:
"Sedangkan kami senantiasa bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu,"
Mereka sedang menjelaskan kondisi mereka sebagai makhluk yang selalu taat, bukan sedang menyombongkan diri.
Mereka ingin memahami hikmah penciptaan makhluk baru yang berbeda dari mereka.
Dialog antara Allah dan para malaikat mengandung banyak pelajaran bagi manusia.
Pertama, manusia memiliki potensi melakukan kerusakan, tetapi juga memiliki kemampuan melakukan kebaikan yang luar biasa.
Kedua, ilmu merupakan salah satu kemuliaan terbesar yang diberikan Allah kepada manusia.
Ketiga, tidak semua hikmah Allah dapat langsung dipahami makhluk-Nya.
Keempat, amanah sebagai khalifah bukan sekadar kehormatan, melainkan tanggung jawab besar untuk menjaga bumi dan menebarkan kemaslahatan.
Kisah ini juga mengingatkan bahwa sejak awal penciptaannya, manusia telah diberi kepercayaan besar oleh Allah SWT.
Meski memiliki kelemahan dan kecenderungan melakukan kesalahan, manusia juga dibekali akal, ilmu, dan petunjuk agar mampu memilih jalan kebaikan.
Karena itulah, jawaban Allah kepada para malaikat tetap relevan hingga hari ini:
"Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."
Sebuah pengingat bahwa di balik setiap ketetapan Allah selalu ada hikmah yang mungkin belum sepenuhnya mampu dipahami oleh manusia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang