Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Survei Litbang Kompas: 23,3 Persen Warga Berencana Mudik Lebaran 2026, Kendaraan Pribadi Mendominasi

Kompas.com, 24 Februari 2026, 13:10 WIB
Farid Assifa

Editor

Sumber Kompas.id

KOMPAS.com — Survei terbaru Litbang Kompas menunjukkan sebanyak 23,3 persen responden menyatakan berencana mudik ke luar kota pada Lebaran 2026. Angka ini sedikit menurun dibandingkan tahun 2025 yang mencapai 25,7 persen .

Survei yang dilakukan pada Januari 2026 itu melibatkan 1.200 responden di 38 provinsi melalui metode wawancara tatap muka.

Dengan tingkat kepercayaan 95 persen dan margin of error ±2,83 persen, survei ini memotret potensi pergerakan pemudik dan pola perjalanan masyarakat saat Lebaran tahun ini .

Baca juga: Daftar Lengkap Mudik Gratis Lebaran 2026: Jadwal, Syarat, dan Cara Daftar

Puncak Keberangkatan Jelang Lebaran

Berdasarkan rencana keberangkatan, puncak arus mudik diperkirakan terjadi pada H-1 Idul Fitri (20 Maret 2026), dengan 11,9 persen responden memilih tanggal tersebut untuk berangkat. Selain itu, lonjakan juga terlihat pada H-2 (10 persen) dan H-3 (7,6 persen) Idul Fitri.

Data ini menunjukkan kecenderungan masyarakat memaksimalkan periode cuti bersama dan libur nasional untuk perjalanan mudik.

Kendaraan Pribadi Mendominasi

Dari sisi moda transportasi utama, sepeda motor menjadi pilihan terbanyak (25,5 persen), disusul mobil pribadi (11,8 persen). Sementara itu, bus antar kota (9,6 persen) dan pesawat (5,2 persen) berada di posisi berikutnya.

Dominasi kendaraan pribadi mengindikasikan potensi kepadatan lalu lintas di jalur darat, terutama di wilayah Jawa yang selama ini menjadi pusat arus mudik nasional.

Rombongan 1–5 Orang Paling Banyak

Sebanyak 78,6 persen responden menyebutkan akan mudik bersama 1 hingga 5 orang anggota keluarga . Mayoritas perjalanan juga direncanakan berlangsung selama 4–7 hari (48,6 persen), sementara 35,1 persen memilih durasi 1–3 hari .

Temuan ini memperlihatkan pola mudik keluarga inti dengan durasi sedang, yang berpotensi meningkatkan okupansi kendaraan pribadi.

Biaya Mudik Tembus Rp 2,5 Juta

Dari sisi anggaran, 38 persen responden memperkirakan biaya perjalanan mudik lebih dari Rp 2,5 juta. Sebanyak 20,2 persen menganggarkan Rp 500.001–Rp 1 juta, dan 23,7 persen di kisaran Rp 100.000–Rp 500.000 .

Angka ini menunjukkan tekanan pengeluaran rumah tangga saat Lebaran tetap tinggi, seiring kebutuhan transportasi, konsumsi, hingga oleh-oleh.

Jawa Barat hingga Jawa Timur Jadi Tujuan Favorit

Provinsi tujuan mudik terbanyak adalah Jawa Barat (22,7 persen), Jawa Tengah (21,8 persen), dan Jawa Timur (19,3 persen).

Konsentrasi tujuan di Pulau Jawa mengindikasikan kepadatan lalu lintas antarprovinsi di wilayah tersebut.

Kepuasan Transportasi Relatif Baik

Menariknya, dalam evaluasi pelayanan Lebaran 2025, moda perkeretaapian mendapat nilai kepuasan tertinggi dibanding moda lain, terutama pada aspek sarana dan manajemen transportasi.

Temuan ini dapat menjadi rujukan pemerintah dalam mengantisipasi lonjakan pemudik 2026 dengan mendorong pemanfaatan transportasi massal.

Baca juga: Diskon 50 Persen dari Angkasa Pura di Momen Mudik Lebaran 2026, Berlaku di 37 Bandara

Secara keseluruhan, survei Litbang Kompas memprediksi arus mudik Lebaran 2026 tetap signifikan dengan dominasi kendaraan pribadi dan konsentrasi perjalanan di Pulau Jawa.

Pemerintah dan pemangku kepentingan transportasi perlu mengantisipasi potensi kepadatan, terutama pada H-2 hingga H-1 Idul Fitri.

Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT



Terkini Lainnya
Jelang Muktamar NU, Jombang Siapkan 99 Masjid untuk Memuliakan Tamu
Jelang Muktamar NU, Jombang Siapkan 99 Masjid untuk Memuliakan Tamu
Aktual
80 Persen Orang Indonesia Alami Karies, Begini Cara Mencegah Menurut Medis dan Sunnah
80 Persen Orang Indonesia Alami Karies, Begini Cara Mencegah Menurut Medis dan Sunnah
Aktual
Jelang Muktamar NU, Kiai Matin: Dekatlah kepada Yang Kuasa, Bukan yang Berkuasa
Jelang Muktamar NU, Kiai Matin: Dekatlah kepada Yang Kuasa, Bukan yang Berkuasa
Aktual
Sinta Nuriyah dan Machfudhoh Aly Ubaid Diusulkan Masuk AHWA Muktamar NU
Sinta Nuriyah dan Machfudhoh Aly Ubaid Diusulkan Masuk AHWA Muktamar NU
Aktual
5.000 Jemaah Ikuti Istigasah Pra-Muktamar NU Hari Ini, Ratusan Personel Dikerahkan
5.000 Jemaah Ikuti Istigasah Pra-Muktamar NU Hari Ini, Ratusan Personel Dikerahkan
Aktual
Childfree dalam Pandangan Islam, Apakah Dilarang?
Childfree dalam Pandangan Islam, Apakah Dilarang?
Aktual
Berebut NU
Berebut NU
Aktual
Biaya Haji 2027 Diusulkan Naik 22,8 Persen, Ini Sejumlah Pemicunya
Biaya Haji 2027 Diusulkan Naik 22,8 Persen, Ini Sejumlah Pemicunya
Aktual
Generasi Muda Dinilai Tak Siap Kerja, Gontor Tawarkan Pendidikan Holistik Pesantren
Generasi Muda Dinilai Tak Siap Kerja, Gontor Tawarkan Pendidikan Holistik Pesantren
Aktual
Miyos Gangsa Dimulai, Tradisi Sekaten di Keraton Yogyakarta Menyambut Maulid Nabi 2026
Miyos Gangsa Dimulai, Tradisi Sekaten di Keraton Yogyakarta Menyambut Maulid Nabi 2026
Aktual
Biaya Haji 2027 Diusulkan Rp 107,34 Juta, BPKH Ingatkan Risiko Rp 6,87 Triliun
Biaya Haji 2027 Diusulkan Rp 107,34 Juta, BPKH Ingatkan Risiko Rp 6,87 Triliun
Aktual
Kirab Merah Putih, Ribuan Pemuda Serukan Persatuan di Tengah Keberagaman
Kirab Merah Putih, Ribuan Pemuda Serukan Persatuan di Tengah Keberagaman
Aktual
Hukum Memelihara Anjing dalam Islam, Benarkah Membuat Malaikat Tidak Masuk Rumah?
Hukum Memelihara Anjing dalam Islam, Benarkah Membuat Malaikat Tidak Masuk Rumah?
Aktual
Masjid Tua Wapauwe, Jejak Sejarah Islam di Maluku yang Bertahan Sejak 1414
Masjid Tua Wapauwe, Jejak Sejarah Islam di Maluku yang Bertahan Sejak 1414
Aktual
Thaharah Sebelum Shalat: Cara Bersuci, Najis yang Dibersihkan, Jenis Air, hingga Aturan Tayamum
Thaharah Sebelum Shalat: Cara Bersuci, Najis yang Dibersihkan, Jenis Air, hingga Aturan Tayamum
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar