Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Apa Itu Fikih Sosial KH Ali Yafie? Memahami Agama dari Persoalan Masyarakat

Kompas.com, 5 September 2026, 07:39 WIB
Puji Sri Rahayu,
Reni Susanti

Tim Redaksi

Sumber Kemenag

KOMPAS.com — Nama KH Ali Yafie kerap dikaitkan dengan perkembangan pemikiran fikih sosial di Indonesia.

Melalui pendekatan ini, fikih tidak hanya berbicara mengenai ibadah individual, seperti sholat, puasa, zakat, dan haji. Fikih juga berkaitan dengan persoalan yang dihadapi manusia dalam kehidupan bermasyarakat.

Persoalan kemiskinan, keadilan, kesejahteraan hingga kelestarian lingkungan dapat dilihat dalam kerangka tanggung jawab manusia dan kemaslahatan bersama.

Baca juga: Australia Pelajari Dialog Lintas Agama di Masjid Istiqlal, Puji Toleransi dan Islam Moderat di Indonesia

Lantas, apa yang dimaksud dengan fikih sosial dalam pemikiran KH Ali Yafie?

Fikih Tidak Hanya Mengatur Ibadah

Fikih sering kali lebih dikenal masyarakat melalui pembahasan mengenai ibadah dan ketentuan halal-haram.

Namun, cakupan fikih sesungguhnya lebih luas karena kehidupan seorang Muslim tidak hanya berlangsung di ruang ibadah. Manusia juga berhubungan dengan keluarga, masyarakat, lingkungan, ekonomi, serta berbagai persoalan kehidupan lainnya.

Dalam kerangka pemikiran KH Ali Yafie, ajaran Islam perlu memiliki keterkaitan dengan realitas kehidupan tersebut.

Karena itu, memahami hukum Islam tidak cukup hanya dengan mengetahui ketentuan hukumnya. Kondisi masyarakat yang menjadi tempat hukum tersebut diterapkan juga perlu dipahami.

Cara pandang inilah yang menjadi salah satu karakter penting fikih sosial. Syariat ditempatkan sebagai pedoman yang tidak terpisah dari upaya menghadirkan kemaslahatan dalam kehidupan manusia.

Dengan pendekatan tersebut, ulama tidak hanya dituntut memahami sumber-sumber ajaran Islam, tetapi juga memiliki kemampuan membaca persoalan masyarakat.

Baca juga: Di Tengah Arus Globalisasi, Pendidikan Agama Tak Cukup Ajarkan Teori

Kemaslahatan Menjadi Pertimbangan

Fikih sosial berkaitan erat dengan tujuan syariat atau maqashid syariah.

Dalam tradisi usul fikih, dikenal lima kebutuhan pokok manusia yang perlu dijaga, yakni agama (hifzh al-din), jiwa (hifzh al-nafs), akal (hifzh al-'aql), keturunan (hifzh al-nasl), dan harta (hifzh al-mal).

Kerangka tersebut menunjukkan bahwa hukum Islam memiliki hubungan dengan perlindungan kehidupan manusia.

Karena itu, persoalan yang muncul dalam masyarakat dapat dipertimbangkan dengan melihat manfaat (maslahah) maupun kerusakan (mafsadah) yang mungkin ditimbulkannya.

Pendekatan semacam ini memungkinkan fikih berdialog dengan perubahan sosial tanpa harus melepaskan pijakannya pada Al-Qur'an dan Sunnah.

Al-Quran Memerintahkan Keadilan dan Kebaikan

Perhatian terhadap kemaslahatan juga sejalan dengan perintah Al-Qur'an untuk menegakkan keadilan dan melakukan kebaikan.

Allah SWT berfirman dalam Surat An-Nahl ayat 90:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ

Innallāha ya'muru bil-'adli wal-ihsān.

Artinya: "Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan." (QS An-Nahl: 90)
Ayat tersebut menunjukkan pentingnya keadilan dan kebajikan dalam kehidupan seorang Muslim.

Dalam konteks fikih sosial, nilai-nilai tersebut dapat menjadi bagian dari cara melihat persoalan masyarakat.

Dengan demikian, keberagamaan tidak hanya tercermin dalam pelaksanaan ibadah individual, tetapi juga dalam hubungan dengan sesama manusia.
Lingkungan Juga Menjadi Persoalan Fikih

Salah satu perhatian penting dalam pemikiran KH Ali Yafie adalah persoalan lingkungan hidup.

Persoalan lingkungan tidak semata-mata dipandang sebagai persoalan teknis mengenai pencemaran atau kerusakan alam, tetapi juga memiliki dimensi tanggung jawab keagamaan.

Manusia memanfaatkan alam untuk memenuhi kebutuhan hidup. Namun, pemanfaatan tersebut juga membawa tanggung jawab untuk menjaga keberlanjutannya dan tidak menimbulkan kerusakan.

Cara pandang ini memperluas pembicaraan fikih dari hubungan manusia dengan Allah SWT dan sesama manusia menjadi tanggung jawab manusia terhadap lingkungan tempatnya hidup.

Pemikiran tersebut menunjukkan bagaimana fikih dapat digunakan untuk membaca persoalan yang berkembang seiring perubahan zaman.

Mengapa Fikih Sosial Masih Relevan?

Perubahan masyarakat terus melahirkan persoalan-persoalan baru yang tidak selalu ditemukan dalam bentuk yang sama pada masa lalu.

Perkembangan teknologi, perubahan ekonomi, kerusakan lingkungan, kemiskinan, hingga berbagai persoalan sosial membuat umat Islam berhadapan dengan pertanyaan keagamaan yang semakin kompleks.

Di sinilah ijtihad memiliki peranan penting.

Ijtihad memungkinkan persoalan baru dikaji menggunakan sumber dan metodologi hukum Islam sehingga nilai-nilai syariat dapat memberikan jawaban terhadap perkembangan masyarakat.

Fikih sosial karena itu bukan dimaksudkan untuk mengubah prinsip ajaran Islam mengikuti zaman.

Pendekatan tersebut justru berupaya membaca perubahan zaman dengan tetap menggunakan nilai dan kerangka hukum Islam.

Warisan pemikiran KH Ali Yafie menunjukkan bahwa fikih tidak harus berhenti pada pertanyaan mengenai sah atau tidak sah maupun halal dan haram.

Fikih juga dapat menjadi jalan untuk membicarakan kemaslahatan manusia, keadilan sosial, dan tanggung jawab menjaga kehidupan.

Dengan cara pandang tersebut, ajaran Islam tidak hanya hadir di ruang ibadah, tetapi juga memiliki hubungan dengan berbagai persoalan yang dijumpai manusia dalam kehidupan sehari-hari.

Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT



Terkini Lainnya
Doa Menghadapi Bencana: Gempa, Banjir, hingga Gunung Meletus
Doa Menghadapi Bencana: Gempa, Banjir, hingga Gunung Meletus
Doa Harian
Aktivis Muda NU Hendriyanto Attan Raih Gelar Kehormatan dari Keraton Surakarta
Aktivis Muda NU Hendriyanto Attan Raih Gelar Kehormatan dari Keraton Surakarta
Aktual
Dua Patung Bunda Maria Bernuansa Nusantara yang Memikat Putri Mahkota Swedia
Dua Patung Bunda Maria Bernuansa Nusantara yang Memikat Putri Mahkota Swedia
Aktual
Muhammadiyah Tangani 3.702 Korban Gempa NTT, ISPA Jadi Keluhan Terbanyak
Muhammadiyah Tangani 3.702 Korban Gempa NTT, ISPA Jadi Keluhan Terbanyak
Aktual
Pendidikan 24 Jam ala Pesantren Dinilai Relevan dengan Kebutuhan Zaman, Mengapa?
Pendidikan 24 Jam ala Pesantren Dinilai Relevan dengan Kebutuhan Zaman, Mengapa?
Aktual
Apa Itu Fikih Sosial KH Ali Yafie? Memahami Agama dari Persoalan Masyarakat
Apa Itu Fikih Sosial KH Ali Yafie? Memahami Agama dari Persoalan Masyarakat
Aktual
Menjaga Bumi Bisa Dimulai dari Bangunan, Ini Pentingnya Konsep Bangunan Hijau
Menjaga Bumi Bisa Dimulai dari Bangunan, Ini Pentingnya Konsep Bangunan Hijau
Aktual
Mengenang 100 Tahun KH Ali Yafie dan Warisan Islam Moderat untuk Indonesia
Mengenang 100 Tahun KH Ali Yafie dan Warisan Islam Moderat untuk Indonesia
Aktual
5 Rukun Islam: Pengertian, Urutan, Makna, dan Penerapannya
5 Rukun Islam: Pengertian, Urutan, Makna, dan Penerapannya
Doa dan Niat
Doa Nabi Yunus: Arab, Latin, Arti, Keutamaan, dan Cara Mengamalkannya
Doa Nabi Yunus: Arab, Latin, Arti, Keutamaan, dan Cara Mengamalkannya
Doa dan Niat
Tak Hanya Bantuan Pangan, ZISWAF Didorong Lindungi Kelompok Rentan
Tak Hanya Bantuan Pangan, ZISWAF Didorong Lindungi Kelompok Rentan
Aktual
Menag Ajak Siswa Seminari Doakan Korban Gempa Flores
Menag Ajak Siswa Seminari Doakan Korban Gempa Flores
Aktual
Solidaritas untuk Korban Gempa Flores, 20 Ton Beras hingga Ribuan Selimut Disalurkan
Solidaritas untuk Korban Gempa Flores, 20 Ton Beras hingga Ribuan Selimut Disalurkan
Aktual
Supangat Wafat Usai Bertugas di Muktamar NU, GP Ansor Tanggung Pendidikan Anaknya
Supangat Wafat Usai Bertugas di Muktamar NU, GP Ansor Tanggung Pendidikan Anaknya
Aktual
Lebih dari 75.000 Orang Daftar Petugas Haji 2027, CAT Dibagi 2 Gelombang
Lebih dari 75.000 Orang Daftar Petugas Haji 2027, CAT Dibagi 2 Gelombang
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar