KOMPAS.com — Kementerian Agama memperingati 100 tahun kelahiran KH Ali Yafie, ulama dan cendekiawan yang banyak meninggalkan pemikiran mengenai fikih, kehidupan beragama, dan kebangsaan.
Peringatan satu abad kelahiran ulama asal Sulawesi itu menjadi momentum untuk kembali melihat pemikirannya mengenai bagaimana ajaran Islam dapat menjawab persoalan masyarakat sekaligus hidup berdampingan di tengah keberagaman Indonesia.
Menteri Agama Nasaruddin Umar menilai KH Ali Yafie sebagai salah satu ulama yang mampu mempertemukan kedalaman ilmu agama dengan persoalan yang berkembang dalam kehidupan masyarakat.
Warisan pemikiran tersebut dinilai tetap relevan ketika masyarakat Indonesia berhadapan dengan berbagai perubahan sosial dan tantangan dalam menjaga kerukunan.
Baca juga: Menag Ajak Siswa Seminari Doakan Korban Gempa Flores
KH Ali Yafie dikenal sebagai ulama dan cendekiawan yang pernah menduduki sejumlah posisi penting dalam organisasi keagamaan, termasuk di Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Dalam perjalanan intelektualnya, KH Ali Yafie banyak memberikan perhatian terhadap fikih dan penerapannya dalam kehidupan masyarakat.
Fikih tidak berhenti sebagai pembahasan mengenai hukum-hukum ibadah, tetapi juga dapat digunakan untuk membaca berbagai persoalan sosial yang dihadapi manusia.
Pemikiran semacam itu membuat pembahasan keislaman memiliki keterkaitan dengan persoalan kehidupan masyarakat, termasuk kemaslahatan, keadilan, lingkungan, dan kehidupan berbangsa.
Dalam masyarakat Indonesia yang terdiri dari berbagai agama, suku, budaya, dan tradisi, cara pandang tersebut juga memberikan ruang bagi ajaran agama untuk hadir tanpa mengabaikan realitas keberagaman.
Baca juga: Kisah Menag Nasaruddin dan Tiga Paus, dari Vatikan hingga Deklarasi Istiqlal
Semangat menjalankan Islam secara moderat memiliki pijakan dalam Al-Qur'an. Salah satunya terdapat dalam Surat Al-Baqarah ayat 143:
وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا
Wa kadzalika ja'alnakum ummatan wasathan.
Artinya: "Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat pertengahan." (QS Al-Baqarah: 143)
Konsep ummatan wasathan kerap menjadi salah satu rujukan dalam pembicaraan mengenai wasathiyah atau jalan tengah dalam kehidupan beragama.
Moderasi dalam beragama bukan berarti mengurangi keyakinan atau ajaran agama. Sikap tersebut berkaitan dengan cara menjalankan agama secara proporsional, menjauhi sikap berlebihan, serta tetap menjunjung keadilan dan kemaslahatan.
Nilai semacam ini menjadi semakin penting di tengah masyarakat majemuk agar perbedaan tidak berkembang menjadi sumber pertentangan.
Salah satu warisan penting KH Ali Yafie adalah perhatiannya terhadap pengembangan fikih agar dapat berdialog dengan persoalan kehidupan.
Pemikiran fikih tidak hanya ditempatkan dalam ruang ibadah individual, tetapi juga berkaitan dengan tanggung jawab sosial manusia.
Pendekatan tersebut antara lain terlihat dari perhatian KH Ali Yafie terhadap persoalan sosial dan lingkungan.
Dengan cara pandang tersebut, ulama tidak hanya berhadapan dengan persoalan halal dan haram, tetapi juga dituntut memahami kondisi masyarakat serta mencari jalan keluar bagi persoalan yang mereka hadapi.
Dialog juga menjadi penting dalam masyarakat yang memiliki latar belakang agama dan budaya yang berbeda.
Perbedaan tidak harus dihilangkan, tetapi dapat dikelola melalui penghormatan terhadap martabat manusia dan pencarian titik temu dalam kehidupan bersama.
Peringatan 100 tahun kelahiran KH Ali Yafie juga menjadi momentum untuk memperkenalkan kembali pemikiran ulama Indonesia kepada generasi muda.
Warisan seorang ulama tidak hanya dapat dilihat dari jabatan yang pernah diembannya, tetapi juga dari gagasan dan keteladanan yang terus dibicarakan setelah ia tiada.
Dalam konteks masyarakat saat ini, pemikiran mengenai keberagamaan yang teguh sekaligus mampu berdialog dengan perubahan zaman menjadi semakin relevan.
Terlebih, ruang digital membuat perbedaan pandangan keagamaan dapat tersebar dan diperdebatkan dengan sangat cepat.
Warisan intelektual KH Ali Yafie menunjukkan pentingnya ilmu, akhlak, dan kemampuan membaca realitas masyarakat berjalan beriringan.
Peringatan satu abad kelahirannya pun menjadi kesempatan untuk kembali melihat bagaimana pemikiran ulama Indonesia dapat memberikan jawaban terhadap persoalan kehidupan beragama dan kebangsaan hari ini.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT