Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Ija Suntana
Dosen

Pengajar pada Program Studi Hukum Tata Negara UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Puasa Pemancing dan Penambang Emas

Kompas.com, 27 Februari 2026, 12:53 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

PUASA sudah kita jalani puluhan kali, bahkan sejak kecil. Lapar pernah, haus pernah, sahur dan berbuka tak terhitung jumlahnya.

Namun, kalau puasa sudah puluhan kali, mengapa penyimpangan juga ikut puluhan kali? Mengapa yang berubah sering hanya jadwal makan, bukan cara bertindak?

Harusnya, puasa bukan acara musiman yang datang dan pergi tanpa bekas. Puasa itu bekal laku. Bekal untuk hidup. Bekal untuk mengendalikan diri ketika ada kesempatan menyimpang, ketika ada godaan memanfaatkan jabatan, ketika ada peluang mengambil yang bukan hak.

Menahan lapar itu latihan dasar. Menahan diri itulah tujuan besar. Kalau hanya perut yang berpuasa, hasilnya memang sering “ya begitulah”.

Tubuh patuh, tetapi perilaku tetap longgar. Secara formal menjalankan, tetapi secara moral tidak selalu selaras.

Puasa mengajari kita hal paling mendasar dalam hidup: tidak semua yang bisa dilakukan harus dilakukan. Tidak semua yang bisa diomongkan harus diomongkan. Tidak semua yang ada di depan mata boleh diambil. Tidak semua dorongan perlu dituruti.

Puasa adalah sekolah pengendalian diri. Tanpa pengendalian diri, jabatan, harta, dan kekuasaan mudah berubah menjadi sumber masalah.

Kita sanggup menahan makan dan minum belasan jam setiap hari selama sebulan. Secara kemampuan menahan, jelas kita kuat.

Namun, mengapa dalam urusan lain justru mudah goyah? Mengapa sulit menahan amarah, sulit menahan keserakahan, sulit menahan godaan menyalahgunakan kedudukan?

Masalahnya sudah barang tentu pada cara kita memaknai puasa. Puasa dijalani sebagai kewajiban waktu, bukan sebagai latihan hidup. Ia berhenti di ritual, tidak menembus kebiasaan.

Selesai Ramadan, selesai pula semangat menahan diri. Seolah-olah puasa hanya relevan untuk makan dan minum, bukan untuk sikap dan keputusan.

Dalam konteks jabatan, pesan puasa justru paling relevan. Jabatan itu penuh godaan. Ada akses, ada kuasa, ada peluang.

Di sinilah puasa seharusnya bekerja. Puasa harus membuat kita lebih hati-hati, bukan lebih berani kebablasan. Lebih sadar batas, bukan lebih pandai mencari celah. Puasa yang benar mestinya membuat kekuasaan ikut “berpuasa”.

Karena puasa itu bukan soal terlihat saleh, tetapi soal menjadi lurus. Bukan soal citra, tetapi soal kendali diri.

Kita yang sungguh-sungguh belajar dari puasa akan membawa semangat menahan diri ke mana-mana: menahan diri sebelum salah, berhenti sebelum kebablasan, sadar sebelum merugikan.

Puasa itu bukan formalitas spiritual, melainkan latihan karakter. Kalau puasa tidak berdampak pada kejujuran, tanggung jawab, dan cara menggunakan amanah, maka puasa puluhan kali perlu direnungkan kembali.

Kalau puasa sudah puluhan kali, semestinya ada puluhan lapisan kedewasaan yang terbentuk di diri kita. Ada puluhan rem yang makin kuat. Ada puluhan kesadaran yang makin tajam. Sebab puasa sejati bukan sekadar ibadah yang diulang, tetapi pelajaran yang diresapkan.

Antara pemancing dan penambang emas

Puasa kita ini kadang mirip acara besar para tukang mancing (mohon maaf, tukang mancing dijadikan perumpamaan).

Suasananya heboh, persiapannya serius, perlengkapannya lengkap. Ada yang bawa joran mahal, senar canggih, umpan racikan rahasia. Semua tampak meyakinkan.

Sejak awal sudah ramai. Ada yang sibuk cari spot terbaik, ada yang yakin dengan teori perairan, ada yang sok ahli membaca arah angin.

Semua optimistis. Semua percaya diri. Kail dilempar dengan gaya penuh harapan. Wajah-wajah tegang, seolah-olah ikan di bawah sana sudah antre “menunggu takdir.”

Jam berlalu. Senar tetap tenang. Air tetap setia tanpa gejolak. Sesekali ada yang berteriak girang, “Narikkk… narikkk!” Semua menoleh penuh iri. Ternyata yang naik cuma ikan kecil, kurus, yang bahkan mungkin ikut kaget kenapa dirinya yang terpilih. Bukan ikan besar, bukan ikan legendaris.

Namun, euforia tetap tinggi. Foto tetap diambil. Pose tetap bangga. Ekspresi tetap seperti baru menaklukkan monster laut. Padahal ikan hasilnya lebih mirip camilan pembuka.

Begitulah kadang puasa kita. Ramai di aktivitas, meriah di suasana, tetapi hasil batinnya sering tidak jauh-jauh dari “ikan kurus”.

Lapar dapat, haus dapat, jadwal sahur dan berbuka aman. Namun, perubahan besar yang diharapkan—kesabaran ekstra, kendali diri yang kokoh, kejujuran yang lebih tegas—rasanya belum juga terasa.

Kita seperti para pemancing yang sibuk melempar kail, tetapi jarang benar-benar memikirkan apakah airnya tepat, umpannya pas, caranya sudah benar. Yang penting ramai, yang penting ikut, yang penting suasana hidup. Soal hasil, itu urusan nanti.

Lucunya lagi, kadang yang paling heboh justru yang ikannya paling mungil. Yang teriakannya paling kencang belum tentu yang hasilnya paling mengesankan.

Persis seperti kehidupan kita. Kadang yang paling ramai bicara soal ibadah belum tentu yang paling terasa dampaknya dalam sikap sehari-hari.

Puasa bukan soal seberapa sering kita melempar kail ritual, tetapi seberapa dalam kita memahami “perairan diri”.

Kalau tidak, setiap tahun kita akan tetap ramai di tepi “danau Ramadhan”, penuh harapan, penuh gaya, dan pulang dengan bangga, tapi hanya ikan kurus yang nyangkut.

Barangkali, menjalankan puasa itu harus seperti menambang emas. Menambang emas itu sunyi, berat, penuh kesabaran. Tidak ada gemerlap di permukaan.

Bahkan penambangnya sering tampak lusuh, kotor, tak karuan. Pakaian sederhana, kadang nyaris tanpa atribut kebanggaan. Namun, justru dari proses yang keras dan tidak glamor itulah sesuatu yang luar biasa bisa didapat.

Menambang emas tidak menjanjikan hasil instan. Orang harus menggali, menyaring, memisahkan tanah dan batu, berkali-kali. Banyak yang dibuang, sedikit yang bernilai.

Di situlah letak pelajarannya. Nilai besar tidak lahir dari keramaian atau penampilan, tetapi dari ketekunan dan ketahanan menjalani proses yang tidak selalu nyaman.

Puasa seharusnya bekerja dengan logika yang sama. Ia bukan panggung, bukan pertunjukan, bukan soal terlihat paling sibuk beribadah.

Puasa adalah kerja sunyi dalam diri. Kerja menggali kebiasaan, menyaring keinginan, memisahkan mana dorongan sesaat dan mana kebutuhan sejati. Tidak selalu enak, tidak selalu ringan, tetapi justru di situlah nilai terbentuk.

Dalam menambang emas, orang paham bahwa yang dicari bukan tanahnya, melainkan kandungan berharganya. Tanah hanya media, bukan tujuan.

Begitu juga puasa. Lapar dan haus hanyalah media. Yang dicari adalah “emasnya”: kesabaran, kendali diri, kejujuran, kejernihan sikap.

Penambang emas tidak sibuk mempertontonkan prosesnya. Mereka fokus bekerja. Tidak euforia, tidak ramai pengakuan.

Karena mereka tahu, hasil tidak ditentukan oleh seberapa heboh bekerja, tetapi oleh seberapa tekun menggali.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com