Editor
KOMPAS.com-Kehidupan kota modern kerap diukur dari megahnya bangunan dan pesatnya pembangunan fisik, padahal peradaban sejati bertumpu pada akhlak dan tanggung jawab moral setiap warganya.
Melalui khutbah Jumat ini, KH Ahmad Saifuddin HAS, S.Ag, MM, Bendahara 1 MUI Kota Tangerang, mengajak jamaah merenungkan kembali makna amanah Ilahi dalam membangun masyarakat madani yang berkeadaban.
Khutbah menekankan pentingnya fondasi spiritual dalam keluarga, peran masjid sebagai pusat pembinaan umat, serta kepemimpinan yang adil dan berintegritas.
Baca juga: Khutbah Jumat 27 Februari 2026: Ibadah Puasa Melatih Kita Jadi Pribadi yang Pandai Bersyukur
Pesan yang disampaikan mengingatkan bahwa kota yang diberkahi bukan hanya berdiri di atas kemajuan infrastruktur, melainkan di atas nilai ketakwaan, keadilan, dan kepedulian sosial yang hidup dalam keseharian masyarakatnya.
Berikut teks khutbah selengkapnya sebagaimana disampaikan khatib, dilansir dari laman MUI.
Khutbah 1
اَلسَّلامُ عَليْكُمْ وَرَحْمَةاُللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلّٰهِ الْكَرِيْمِ الْجَوَّادِ، خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ وَجَعَلَ لَهُ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ، أَنْزَلَ الْغَيْثَ مُبَارَكًا فَأَحْيَا بِهِ الْبِلَادَ، وَأَخْرَجَ بِهِ نَبَاتَ كُلِّ شَيْءٍ رِزْقًا لِلْعِبَادِ. نَحْمَدُهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَمْدَ الطَّائِعِيْنَ الْعُبَّادِ، وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ تَوَكُّلَ الْمُخْبِتِيْنَ الزُّهَّادِ، وَنَعُوذُ بِنُورِ وَجْهِهِ الْكَرِيْمِ مِنَ الْوَعِيْدِ بِسُوءِ الْمِهَادِ، وَنَرْجُوهُ تَحْقِيْقَ الْأَمَلِ فِي الْوَعْدِ وَالْمَعَادِ، وَنَسْأَلُهُ النَّصْرَ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الْأَشْهَادُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ الْمُضِلُّ الْهَادِ، الْمُنَزَّهُ الذَّاتِ عَنِ الْأَشْبَاهِ وَالْأَنْدَادِ، الْفَعَّالُ لِمَا يُرِيدُ وَلَا يَقَعُ فِي مُلْكِهِ إِلَّا مَا أَرَادَ، خَلَقَ سَبْعَ سَمَوَاتٍ طِبَاقًا بِغَيْرِ عِمَادٍ، وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ وَأَرْسَى الْجِبَالَ كَالْأَوْتَادِ، سَبَقَتْ كَلِمَتُهُ أَنَّ مَنْ أَطَاعَهُ عَزَّ فِي الْأَرْضِ وَسَادَ، وَمَنْ كَفَرَ أَمْهَلَهُ وَهُوَ لَهُ بِالْمِرْصَادِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ سَيِّدُ الْأَسْيَاد سَيِّدُ الْأَوَّلِيْنَ وَالْآخِرِيْنَ مِنْ حَاضِرٍ وَبَادٍ، خَيْرُ مَنْ دَعَا وَهَدَى وَبِالْخَيْرِ الْعَظِيْمِ جَادَ، الْمَبْعُوثُ رَحْمَةً فِيْنَا وَبِشَفَاعَتِهِ يُغَاثُ الْعِبَادُ، الْمُبَشِّرُ بِالْأُخُوَّةِ وَالْمَحَبَّةِ وَنَبْذِ الْغِلِّ وَالْأَحْقَادِ، أَشْجَعُ النَّاسِ قَاطِبَةً إِذَا دَعَا دَاعِي الْجِهَادِ، وَأَكْرَمُ النَّاسِ طُرًّا إِذَا عَزَّ مَالٌ أَوْ قَلَّ زَادٌ
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْبَرَرَةِ السَّبَاقِ لَنَا خَيْرُ زَادٍ، مَا نَادَى لِلصَّلَاةِ مُنَادٍ، وَكُلَّمَا ذَكَرَكَ الذَّاكِرُونَ وَغَفَلَ عَنْ ذِكْرِهِ الْغَافِلُونَ إِلَى يَوْمِ التَّنَادِ، أمَّا بَعد
فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى: (وَاعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا وَّبِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْجَارِ ذِى الْقُرْبٰى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْۢبِ وَابْنِ السَّبِيْلِۙ وَمَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُوْرًاۙ)
صدق الله العظيم
Baca juga: Khutbah Jumat 20 Februari 2026: Menjadikan Ramadhan Sebagai Madrasah Ketakwaan
Jamaah Jumat Hafidhakumullah,
Di hari yang mulia ini, mari kita basahi lisan kita dengan syukur kepada Allah SWT, Dzat yang telah menghamparkan bumi sebagai tempat bersinggah dan menghiasi jiwa kita dengan iman sebagai kompas kehidupan.
Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada sang pembawa lentera kebenaran, Baginda Nabi Muhammad SAW, pribadi yang tidak hanya membangun rumah ibadah, namun juga membangun fondasi kemanusiaan yang abadi.
Jamaah Jumat Rahimakumullah,
Kita sering terpukau pada megahnya sebuah kota. Kita memuja gedung-gedung yang mencakar langit dan jalanan aspal yang membelah bumi dengan perkasa. Namun, mari kita merenung sejenak dalam keheningan qalbu; Apalah arti semua itu? Tidakkah sebuah kota sepatutnya ditopang dengan masyarakat madani yang memahami denyut nadi keharmonisan, mengerti tentang keadilan yang harus menyentuh setiap sudut, dan meyakini bahwa akhlak yang mulia harus menghiasi setiap wajah?
Sering kali kita melihat kemacetan bukan hanya di jalan raya, melainkan juga “kemacetan” dalam silaturahmi. Kita melihat polusi bukan hanya di udara, melainkan juga “polusi” dalam kata-kata dan perilaku di lingkungan rumah kita sendiri. Padahal, Islam mendambakan sebuah “masyarakat madani”, sebuah peradaban yang akarnya tertanam kuat di bumi lewat akhlak, sementara cabangnya menjulang ke langit lewat ridha Ilahi.
Allah SWT berfirman dalam surat An-Nisa ayat 36:
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا
Artinya: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, serta hamba sahaya yang kamu miliki. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri.”
Baca juga: Khutbah Jumat 13 Februari 2026: Menyambut Bulan Suci Ramadhan dengan Hati Gembira
Ayat ini menegaskan bahwa masyarakat madani dalam kota yang beradab dimulai dari jalinan kasih kepada orang tua, kerabat, hingga tetangga, baik yang dekat maupun yang jauh.
Jamaah Jumat A’azzakumullah,
Ibnul Qayyim al-Jauziyyah pernah berpesan dengan indah:
“Barang siapa yang menginginkan bangunan yang tinggi, maka hendaklah ia memperkokoh fondasinya.”
Petikan pesan ini tampak sederhana, namun maknanya amat mendalam, khususnya dalam mewujudkan keinginan kita bersama untuk membangun masyarakat madani.
Mari kita bedah analogi masyarakat ini ke dalam tiga level lapisan spiritual:
Keluarga adalah batu bata pertama dari bangunan peradaban. Jika setiap rumah tangga adalah oase ketenangan atau sakinah, maka kota akan menjadi samudera kedamaian. Fondasi ini adalah individu-individu yang lisannya basah dengan dzikir, dan tangannya ringan membantu sesama.
Rasulullah SAW bersabda:
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي
Artinya: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik di antara kalian terhadap keluargaku.” (HR Tirmidzi)
Demikianlah Nabi SAW mengajarkan kepada kita, bahwa kesalehan seorang warga kota tidaklah sempurna jika belum mampu menghadirkan kedamaian bagi istri dan anak-anaknya.
Jika setiap rumah di kota ini dipenuhi dengan tutur kata yang lembut dan akhlak yang mulia yang dibangun bersama, maka kota ini secara otomatis akan berubah menjadi taman-taman surga sebelum kita menginjakkan kaki di akhirat kelak.
Karena mustahil sebuah kota akan beradab jika rumah-rumah di dalamnya masih dipenuhi dengan kata dan sikap yang kasar dan saling mengabaikan.
Maka beruntungnya kita sebagai umat muslim berkesampatan memiliki teladan dunia dan akhirat, sosok agung yang amat memperhatikan keluarganya, mulai dari fondasi utama yaitu akhlak nan luhur, keilmuan yang dalam, serta nafkah lahiriah dan bathiniyah yang senantiasa diteladankan. Nabi Muhammad SAW selalu mencurahkannya sepenuh hati, bukan hanya kepada keluarganya, tetapi juga kepada umatnya. Sehingga sampai saat ini kita dapat merasakan dan meneladani kepribadian mulia itu.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Syekh Yusuf al-Qaradhawi pernah menekankan bahwa masjid dalam sejarah Islam bukanlah gedung yang mati, melainkan jantung yang memompa darah ke seluruh tubuh masyarakat.
Masjid adalah pusat musyawarah, tempat di mana perbedaan dilarutkan dalam sujud, dan tempat di mana kesulitan tetangga menjadi beban bersama.
Masjid adalah jantung yang memompa nafas iman ke seluruh nadi kota. Rasulullah SAW memberikan perumpamaan tentang orang-orang yang hatinya terpaut pada rumah Allah ini dalam salah satu golongan yang akan mendapatkan perlindungan di Hari Kiamat:
وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ
Artinya: “...dan seseorang yang hatinya senantiasa terpaut (terikat) dengan masjid-masjid.” (HR Bukhari dan Muslim)
Makna “terpaut” di sini bukan berarti kita harus berdiam diri sepanjang hari di dalam masjid, namun artinya adalah membawa nilai-nilai masjid; seperti kejujuran, kedisiplinan, dan kesetaraan, ke dalam setiap transaksi dagang kita di pasar, setiap interaksi kita di kantor, dan di mana pun kita berada.
Jika hati setiap warga telah terpaut pada masjid, maka tidak akan ada lagi kecurangan di timbangan, tidak akan ada lagi kebencian di jalanan, karena setiap langkah kita senantiasa dipandu oleh cahaya yang kita jemput dari rumah Allah ini.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Pemimpin adalah atap yang melindungi. Jika atapnya bocor karena ketidakadilan, maka penghuni di bawahnya akan kedinginan atau kepanasan.
Kepemimpinan dalam masyarakat madani merupakan amanah yang harus dipikul dengan prinsip “syura” atau mendengar suara rakyat sebagai bentuk penghormatan atas martabat manusia.
Di dalam Islam, kepemimpinan bukanlah singgasana untuk berbangga diri, melainkan beban amanah yang sangat berat. Dalam doa Rasulullah SAW di bawah ini tersirat peringatan sekaligus panduan bagi setiap orang yang memegang urusan orang lain.
اَللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ، وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ
Artinya: “Ya Allah, barang siapa yang memimpin suatu urusan umatku lalu ia mempersulit mereka, maka persulitlah dia. Dan barang siapa yang memimpin suatu urusan umatku lalu ia bersikap lemah lembut (memudahkan) mereka, maka bersikap lembutlah kepada-Nya.” (HR Muslim)
Betapa dahsyatnya doa Nabi ini. Jadi masyarakat madani hanya bisa terwujud jika para pengambil kebijakan, dari tingkat RT hingga pemimpin tertinggi sebuah negeri, menjadikan “kemudahan bagi rakyat” sebagai kompas utamanya.
Pemimpin yang adil adalah dia yang saat tidur memikirkan perut rakyatnya yang lapar, dan saat terjaga memastikan tidak ada satu pun warganya yang terzalimi haknya.
Kota yang diberkahi bukanlah kota yang pemimpinnya dipuja karena kemegahan pidatonya, melainkan kota yang pemimpinnya dicintai karena kelembutan kasih sayang dan kemudahan layanan yang ia berikan kepada warganya.
Jamaah Jumat yang Dimuliakan Allah,
Namun demikian, jangan biarkan diri kita hanya menjadi angka dalam statistik penduduk. Jadilah “arsitek” kebaikan. Di samping kita menuntut hak pada para pemimpin di negeri ini, namun tanyakanlah juga pada diri sendiri; sudahkah kita memberikan hak jalan bagi tetangga? Sudahkah kita memberikan hak tenang bagi lingkungan?, dan lain sebagainya menyangkut kehidupan yang kita jalani bersama.
Hal ini selaras dengan nasihat ulama kita, Buya Hamka pernah berkata:
“Tegaknya agama karena akhlak, dan tegaknya dunia karena ilmu. Sedangkan indahnya kota tercermin dalam budi pekerti.”
Jamaah Jumat Hafidhakumullah,
Marilah kita tutup lembaran khutbah ini dengan tekad baru. Mari kita bangun kehidupan sehari-hari yang penuh kebaikan, santun, gotong royong yang tulus, dan kepedulian nyata di antara sesama, yang mana semua ini ditopang oleh ketakwaan kita kepada Allah SWT.
Allah SWT berfirman dalam surat Al-Hujurat ayat 13:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
Artinya: “Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.”
Jadi perbedaan yang memang ada di antara kita bukanlah sesuatu yang harus dijadikan alasan untuk berseteru. Adanya perbedaan yang memang dikehendaki Tuhan ini, tidak lain agar kita saling mengenal li-ta’arafu, saling melengkapi, dan bahu-membahu membangun kebaikan, demi terwujudnya masyarakat madani dalam sebuah kota yang diberkahi.
.بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْأَنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْم، وَتَقَبَّلَ اللّٰهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
.أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
.اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
.أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا
.اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
.اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang