KOMPAS.com – Upaya digitalisasi layanan haji terus digencarkan pemerintah melalui berbagai inovasi, salah satunya lewat aplikasi Haji Umrah Store.
Namun, di balik kemudahan yang ditawarkan, terdapat tantangan nyata di lapangan, terutama terkait kemampuan jemaah lansia dalam mengakses teknologi.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah, Jaenal Effendi, mengakui bahwa tidak semua jemaah siap beradaptasi dengan sistem digital, khususnya kelompok lanjut usia.
“Jemaah lansia tentu memerlukan pendampingan, mulai dari mengunduh aplikasi hingga melakukan transaksi. Jangan sampai salah pesan atau salah bayar,” ujar Jaenal kepada Kompas.com, Kamis (16/4/2026).
Baca juga: Jemaah Haji 2026 Kini Bisa Beli Oleh-oleh Secara Digital via Aplikasi Haji dan Umrah Store
Pernyataan ini menegaskan bahwa digitalisasi layanan haji tidak bisa dilepaskan dari realitas demografis jemaah Indonesia yang banyak didominasi usia lanjut.
Di satu sisi, kehadiran aplikasi seperti Haji Umrah Store menawarkan kemudahan signifikan. Jemaah tidak perlu lagi repot berburu oleh-oleh di pasar-pasar di Makkah atau Madinah.
Semua kebutuhan bisa diakses melalui gawai, mulai dari memilih produk hingga mengatur pengiriman langsung ke rumah di Indonesia.
Namun di sisi lain, transformasi digital ini menuntut kemampuan dasar penggunaan teknologi yang tidak semua jemaah miliki.
Karena itu, Jaenal menekankan pentingnya peran keluarga dalam mendampingi jemaah lansia agar layanan ini benar-benar bisa dimanfaatkan secara optimal.
Baca juga: 4 Tas Jemaah Haji 2026: Ini Fungsi, Ukuran, dan Isi Tiap Jenisnya
Bagi jemaah yang ingin menggunakan layanan ini, prosesnya relatif sederhana dan dirancang agar mudah diikuti:
Setelah masuk, jemaah dapat langsung berbelanja berbagai kebutuhan, mengatur metode pembayaran, serta menentukan alamat pengiriman barang.
Meski terlihat praktis, tahapan ini bisa menjadi tantangan bagi sebagian jemaah lansia, terutama yang belum terbiasa menggunakan aplikasi digital. Di sinilah peran keluarga menjadi sangat penting.
“Kementerian menyediakan platform, tapi dalam penggunaannya tentu perlu dukungan dari keluarga atau pendamping,” kata Jaenal.
Baca juga: Jangan Bawa Ini! Daftar Barang Terlarang di Bagasi Pesawat Haji 2026
Pemerintah sendiri menempatkan aplikasi ini sebagai bagian dari ekosistem layanan haji yang lebih luas.
Selain memudahkan jemaah, platform ini juga membuka ruang bagi pelaku UMKM untuk menjangkau pasar yang selama ini sulit diakses.
Di tengah berbagai perubahan tersebut, pendekatan bertahap dinilai menjadi solusi paling realistis.
Edukasi digital, pendampingan, hingga penyederhanaan fitur aplikasi menjadi langkah yang perlu terus diperkuat.
Pada akhirnya, digitalisasi haji bukan sekadar soal teknologi, melainkan bagaimana memastikan seluruh jemaah, termasuk lansia tetap dapat merasakan kemudahan layanan tanpa kehilangan kenyamanan dalam menjalankan ibadah.
Dengan kombinasi antara inovasi dan pendampingan, transformasi ini diharapkan mampu menjawab kebutuhan jemaah sekaligus mendorong modernisasi layanan haji Indonesia secara menyeluruh.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang