Editor
KOMPAS.com - Ibadah haji menjadi salah satu puncak ibadah bagi umat Islam yang mampu melaksanakannya.
Namun, seorang jemaah perlu memahami sebab-sebab yang dapat membuat haji tidak memberi dampak baik setelah pulang dari Tanah Suci.
Pemahaman ini penting agar ibadah haji tidak hanya sah secara tata cara, tetapi juga membawa perubahan spiritual dan sosial.
Oleh karena itu, jemaah perlu memperbaiki niat, mempelajari manasik, menjaga bekal yang halal, serta menjauhi larangan selama menjalankan ibadah haji.
Baca juga: Seluruh Jemaah Haji Indonesia Tinggalkan Mina, Kemenhaj Siapkan Haji 2027
Dilansir dari laman BPKH, dalam sejumlah literatur, kualitas ibadah haji dibagi ke dalam beberapa tingkatan.
Pertama, haji mardud, yakni haji yang tertolak karena tidak memenuhi syarat dan rukun.
Kedua, haji maqbul, yakni haji yang memenuhi syarat dan rukun, tetapi tidak tampak dampak positif dalam diri seseorang setelah melaksanakan ibadah haji.
Ketiga, haji mabrur, yakni haji yang memenuhi syarat dan rukun serta membawa perubahan baik bagi orang yang melaksanakannya.
Niat menjadi unsur utama dalam pelaksanaan ibadah haji.
Jika seseorang berhaji dengan tujuan mencari popularitas, status sosial, atau pujian dari orang lain, maka nilai ibadah hajinya dapat berkurang.
Seorang Muslim perlu memastikan bahwa ibadah haji dilakukan semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Niat yang ikhlas juga menjadi dasar agar seluruh rangkaian haji dijalankan dengan kesungguhan dan kesadaran spiritual.
Baca juga: Cerita Anis Saat Badalkan Haji Firdaus, Jemaah yang Hilang dan Wafat di Makkah
Haji juga dapat bermasalah apabila pelaksanaannya tidak sesuai dengan ketentuan syariat Islam.
Hal ini bisa terjadi ketika jemaah tidak mempelajari tata cara haji dengan benar, tidak mengikuti bimbingan yang tepat, atau melakukan perbuatan yang dilarang selama ibadah haji.
Karena itu, memahami rukun, wajib, dan larangan haji menjadi hal penting sebelum berangkat ke Tanah Suci.
Kepatuhan terhadap tuntunan syariat merupakan bagian dari ketaatan kepada Allah SWT.
Bekal yang digunakan untuk berhaji juga harus diperhatikan.
Jika biaya atau bekal haji berasal dari harta haram, seperti hasil riba atau perbuatan dosa, maka hal itu dapat memengaruhi kualitas ibadah.
Haji bukan hanya ibadah fisik, tetapi juga ibadah yang menuntut kebersihan hati, jiwa, dan harta.
Karena itu, calon jemaah haji perlu memastikan biaya yang digunakan berasal dari sumber yang halal dan baik.
Kurangnya pemahaman tentang ibadah haji dapat membuat seseorang hanya menjalani haji sebagai rutinitas fisik.
Jika haji dipahami sekadar perjalanan, rekreasi, atau pengalaman sosial, maka makna spiritualnya bisa tidak tercapai.
Ibadah haji seharusnya menjadi momentum untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Haji juga menjadi sarana memperbaiki akhlak, memperkuat ketakwaan, dan meningkatkan kepedulian kepada sesama.
Baca juga: Fase Armuzna Selesai, Bus Shalawat Kembali Beroperasi 24 Jam Layani Jemaah Haji Indonesia
Setiap jemaah tentu berharap ibadah hajinya diterima Allah SWT dan mendapatkan predikat haji mabrur.
Salah satu tanda haji mabrur adalah munculnya perubahan perilaku ke arah yang lebih baik setelah pulang dari Tanah Suci.
Perubahan itu dapat terlihat dari ucapan, sikap, ibadah, dan kepedulian sosial seseorang.
Hal ini sebagaimana sabda Nabi SAW:
عَنْ جَابِرِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ، قِيلَ يَا رَسُولَ اللهِ، وَمَا بِرُّهُ؟ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِطْعَامُ الطَّعَامِ وَطِيبُ الْكَلَامِ وفي رواية لأحمد والبيهقي إِطْعَامُ الطَّعَامِ وَإِفْشَاءُ السَّلَامِ
Artinya: “Dari sahabat Jabir bin Abdillah ra, dari Rasulullah saw. ia bersabda, ‘Haji mabrur tiada balasan lain kecuali surga.” Sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apa (tanda) mabrurnya?” Rasulullah saw. menjawab, “Memberikan makan kepada orang lain dan melontarkan ucapan yang baik,” (HR Ahmad, At-Thabarani, Ibnu Khuzaimah, Al-Baihaqi, dan Al-Hakim).
Ada beberapa hal yang dapat dilakukan jemaah agar ibadah hajinya lebih bermakna dan diharapkan meraih predikat mabrur.
Langkah ini dapat dimulai sejak sebelum berangkat, selama berada di Tanah Suci, hingga setelah kembali ke tanah air.
Jemaah perlu memperkuat niat sebelum menjalankan ibadah haji.
Niat haji sebaiknya ditujukan semata-mata untuk beribadah kepada Allah SWT, bukan untuk mencari gelar, pujian, atau pengakuan sosial.
Niat yang ikhlas akan membantu jemaah menjaga fokus selama menjalankan seluruh rangkaian ibadah.
Keikhlasan juga menjadi fondasi penting dalam meraih haji mabrur.
Memahami rukun dan kewajiban haji menjadi bekal penting bagi setiap jemaah.
Jemaah perlu mempelajari tahapan haji, mulai dari ihram, wukuf di Arafah, mabit, tawaf, sa’i, hingga tahalul.
Dengan pemahaman yang cukup, jemaah dapat menghindari kesalahan yang dapat mengurangi kesempurnaan ibadah.
Jemaah juga perlu mengikuti arahan pembimbing haji selama berada di Tanah Suci.
Selama menjalankan ibadah haji, jemaah harus menjauhi perbuatan yang dilarang.
Perbuatan seperti berbohong, berkata kasar, bertengkar, atau menyakiti sesama jemaah dapat merusak nilai ibadah.
Jemaah perlu menjaga lisan, sikap, dan perilaku selama berada di Tanah Suci.
Kesabaran, akhlak mulia, dan kepedulian kepada sesama menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas ibadah haji.
Baca juga: Bahlil Lahadalia Doakan Seluruh Jemaah Haji Indonesia Jadi Haji Mabrur
Haji mabrur tidak hanya dinilai dari selesainya rangkaian ibadah di Tanah Suci.
Dampak haji seharusnya tampak dalam kehidupan sehari-hari setelah jemaah kembali ke rumah.
Seseorang yang hajinya membawa perubahan baik akan lebih menjaga ibadah, memperbaiki akhlak, dan lebih peduli kepada orang lain.
Karena itu, haji yang berkualitas tidak berhenti pada pelaksanaan manasik, tetapi berlanjut dalam perubahan hidup menuju kebaikan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang