BANYUWANGI, KOMPAS.com - Pernahkah Anda melihat kawanan unta atau hewan ternak yang dilepas begitu saja di padang rumput yang luas?
Mereka berjalan tanpa arah, makan sesuka hati, tanpa ada penggembala yang mengawasi, mendisiplinkan, atau menuntun mereka pulang.
Dalam bahasa Arab klasik, kondisi unta yang dibiarkan telantar tanpa arah ini disebut sebagai ibil suda.
Sayangnya, sebagian manusia modern hari ini acap kali mengadopsi falsafah hidup layaknya ibil suda dengan menjalani hari sekadar untuk memenuhi hasrat biologis, memuja kebebasan mutlak tanpa batas, dan mengabaikan nilai-nilai moral agama.
Mereka mengira bahwa hidup ini hanyalah panggung sandiwara yang akan selesai begitu saja saat tirai kematian ditutup.
Baca juga: Kajian Islam: Utamakan Shalat dan Ajakan Berhenti Membandingkan Hidup di Media Sosial
Namun, benarkah manusia diciptakan hanya untuk dibiarkan telantar tanpa tujuan?
Melalui Al-Qur'an, Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā melayangkan sebuah pertanyaan retoris yang tajam untuk menggugah kesadaran manusia yang mulai mati rasa:
أَيَحْسَبُ الْإِنسَنُ أَن يُتْرَكَ سُدًى
"Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?" - (QS Al-Qiyamah: 36)
Kata suda dalam ayat tersebut memuat makna yang sangat dalam menurut para ahli tafsir.
Setidaknya ada tiga dimensi makna yang saling berkaitan:
Ayat ini hadir sebagai bantahan keras.
Allah menegaskan bahwa manusia bukanlah makhluk kebetulan, dan dunia ini bukanlah tempat bermain tanpa aturan.
Menanggapi fenomena manusia yang kerap melupakan hakikat penciptaannya, Dai dari Lajnah Dakwah PC Al Irsyad Al Islamiyyah Banyuwangi, Ustadz Ahsanul Falihin, memberikan catatan mendalam.
Ia mengingatkan bahwa status manusia sebagai makhluk yang dibebani syariat (mukallaf) adalah sebuah kepastian yang tidak bisa diganggu gugat.
"Manusia bukanlah binatang yang hidup tanpa aturan, bukan pula benda mati yang tidak memiliki konsekuensi. Allah telah memuliakan kita dengan akal, dan konsekuensi logis dari adanya akal tersebut adalah taklif, yaitu pembebanan syariat. Sungguh sebuah kemustahilan yang nyata bagi kemahabijaksanaan Allah jika Dia menciptakan manusia, memberinya fasilitas hidup, lalu membiarkannya begitu saja tanpa perintah, larangan, dan pertanggungjawaban di akhirat kelak," urai Ustadz Ahsanul Falihin.
Melalui penuturan para ulama dan pesan tegas dari Surat Al-Qiyamah ayat 36 ini, umat disadarkan kembali pada realitas yang sesungguhnya.
Manusia diciptakan untuk sebuah misi mulia: beribadah kepada Allah dan memakmurkan bumi dengan syariat-Nya.
Setiap helai napas, ketikan jemari, langkah kaki, hingga keputusan-keputusan besar yang kita ambil di dunia ini sedang dicatat dengan rapi.
Kehidupan memiliki sistem pertanggungjawaban yang mutlak.
Baca juga: 7 Surat Penenang Hati dalam Al-Quran untuk Dibaca saat Cemas dan Gelisah Menghadapi Cobaan Hidup
Siapa pun yang menabur kebaikan, sekecil zarah pun, akan melihat balasannya.
Sebaliknya, setiap keburukan yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, akan dimintai pertanggungjawabannya.
Pada akhirnya, menyadari bahwa kita tidak hidup sudā (sia-sia) adalah langkah awal untuk menjalani hidup dengan penuh kehati-hatian, bermartabat, dan terarah.
Sebab, setelah dunia yang fana ini berakhir, ada pengadilan akhirat yang telah menanti.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang