BANYUWANGI, KOMPAS.com - Pernahkah Anda merasa layar gawai hari ini dipenuhi berita yang membuat dada sesak?
Mulai dari kebijakan pemimpin yang membingungkan, kasus hukum yang tajam ke bawah tetapi tumpul ke atas, hingga hilangnya nyawa yang seolah tanpa harga.
Jauh sebelum hiruk-pikuk ini menghiasi algoritma media sosial kita, Rasulullah ﷺ sudah memberikan alarm dini melalui sabdanya.
Dari Ibnu 'Ammi 'Ābis al-Ghifārī, Rasulullah ﷺ bersabda:
بادِرُوا بِالأعمالِ خِصالا سِتًّا : إمارةُ السفهاءِ ، و كَثْرَةُ الشُّرَطِ ، و قَطِيعَةُ الرَّحِمِ ، و بَيْعُ الحُكْمِ ، و استخفافًا بِالدَّمِ ، ونَشْوٌ يَتَّخِذُونَ القرآنَ مَزَامِيَرًا ، يُقَدِّمُونَ الرجلَ ليس بأفقهِهِمْ و لا َأعْلَمِهِمْ ، مايُقَدِّمُونَهُ إلَّا لِيُغَنِّيَهُمْ
"Bersegeralah melakukan amal-amal saleh sebelum datang enam perkara: kepemimpinan orang-orang bodoh; banyaknya aparat (represif); terputusnya tali silaturahmi; diperjualbelikannya hukum; diremehkannya pertumpahan darah; serta munculnya generasi muda yang menjadikan Alquran seperti nyanyian..." (HR Ahmad & ath-Thahawi)
Berikut penjelasannya:
Yang dimaksud ialah ketika urusan pemerintahan dan kepemimpinan diserahkan kepada orang-orang yang tidak memiliki kelayakan agama maupun akal.
Mereka adalah orang-orang yang bodoh dalam ilmu dan amal dangkal pemikirannya, lemah pertimbangannya, sehingga kepemimpinan mereka dipenuhi sikap sewenang-wenang, tergesa-gesa, serta kebijakan yang merusak.
Dalam riwayat Imam Ahmad dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhuma disebutkan bahwa Ka'b bin 'Ujrah bertanya:
"Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan kepemimpinan orang-orang bodoh?"
Beliau menjawab:
"Para pemimpin yang akan datang sepeninggalku. Mereka tidak mengikuti petunjukku dan tidak menempuh sunnahku. Barang siapa membenarkan kedustaan mereka dan membantu kezaliman mereka, maka mereka bukan golonganku dan aku bukan golongan mereka; mereka tidak akan mendatangiku di telagaku. Sebaliknya, siapa yang tidak membenarkan kedustaan mereka dan tidak membantu kezaliman mereka, maka mereka termasuk golonganku dan aku termasuk golongan mereka; mereka akan datang kepadaku di telagaku."
Yang dimaksud dengan asy-syurath adalah para aparat, pengawal, atau pembantu para penguasa.
Banyaknya mereka di pintu-pintu penguasa merupakan pertanda meluasnya kezaliman dan tindakan represif.
Mereka dinamakan asy-syurath karena memiliki tanda atau atribut khusus yang membedakan mereka dari masyarakat umum.
Yang dimaksud ialah terputusnya hubungan kekerabatan, baik dengan cara memutus komunikasi, saling memboikot, menyakiti kerabat, maupun enggan berbuat baik kepada mereka.
Padahal Islam sangat menekankan pentingnya menyambung silaturahmi.
Maksudnya ialah hukum diputuskan berdasarkan suap.
Seorang hakim atau pejabat menerima harta agar memenangkan pihak tertentu.
Disebut "jual beli" karena keputusan hukum dipertukarkan dengan uang atau kepentingan dunia.
Yakni hilangnya penghormatan terhadap nyawa manusia.
Pembunuhan dianggap perkara biasa, darah ditumpahkan tanpa rasa takut kepada Allah, dan para pelaku pembunuhan tidak lagi ditegakkan hukuman yang semestinya.
Yang dimaksud ialah muncul generasi muda yang membaca Alquran dengan menjadikannya seperti lagu-lagu dan nyanyian.
Mereka terlalu mengejar irama dan lenggak-lenggok suara hingga melampaui tujuan utama tilawah.
Mereka kemudian:
"Mengedepankan seseorang yang bukan yang paling fakih dan bukan pula yang paling berilmu di antara mereka; mereka hanya mengedepankannya karena ia mampu melagukan Alquran untuk mereka."
Artinya, seseorang dipilih menjadi imam atau qari bukan karena keluasan ilmunya, tetapi semata-mata karena kemerduan suaranya.
Ustadz Ahsanul Falihin, Dai dari Lajnah Dakwah PC Al Irsyad Al Islamiyyah Banyuwangi, menjabarkannya dengan gamblang:
"Mengapa Rasulullah ﷺ memerintahkan kita untuk bergegas? Karena ketika enam perkara ini sudah menguasai sistem sosial, ruang gerak kita untuk beribadah dan berbuat baik akan menyempit drastis. Bayangkan betapa beratnya menjaga integritas saat hukum bisa dibeli, atau menjaga kemurnian niat saat urusan agama sudah bergeser menjadi komoditas panggung hiburan," katanya.
Baca juga: Memaknai Arah Hidup dalam Surat Al-Qiyamah Ayat 36
Lebih lanjut, beliau mengingatkan, "Hadis ini bukan untuk membuat kita putus asa, melainkan sebuah alarm agar kita segera membangun benteng diri dengan amal saleh selagi kondisi masih kondusif. Jangan tunggu sampai badai fitnah itu mengunci ruang gerak kita."
Zaman mungkin terus bergerak maju, namun tantangan moral di dalamnya kian nyata.
Menunda amal hari ini demi janji "besok" adalah celah kelalaian yang paling disukai setan.
"Sebelum badai fitnah akhir zaman itu benar-benar menutup pintu kesempatan, tidak ada pilihan lain bagi kita selain bergegas dan bergerak sekarang juga," ajaknya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang