Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ponpes Bina Insan Mulia Bongkar Rahasia Ledakan Jumlah Santri, KH Imam Jazuli Soroti Kekuatan Medsos

Kompas.com, 31 Mei 2026, 19:48 WIB
Add on Google
Farid Assifa

Editor

KOMPAS.com - Pesantren di era disrupsi teknologi dituntut tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu tumbuh dan memenangkan kepercayaan publik. Semangat itulah yang menjadi fokus utama Workshop Pengasuh Pesantren Batch-2 yang digelar di Joglo Agung Pesantren VIP Bina Insan Mulia 2 Cirebon, Sabtu (30/5/2026).

Kegiatan yang menjadi bagian dari program untuk 5.000 pengasuh pesantren seluruh Indonesia itu dilaksanakan penuh oleh Imam Jazuli Foundation dan menghadirkan para pengasuh pesantren dari berbagai daerah di Jawa Barat.

Lokakarya ini dibuka Direktur Pesantren Kementerian Agama RI Dr Basnang Said, Kakanwil Kemenag Jawa Barat Dr H Dudu Rohman, Kepala Kemenag Kabupaten Cirebon H Slamet MAg, Kepala Kemenag Banjar H Ahmad Fikri Firdaus MAg serta Kepala Kemenag Subang H Dr Badruzzaman.

Kementerian Agama mengapresiasi komitmen KH. Imam Jazuli yang dinilai bersedia berbagi pengalaman secara intensif kepada para pengasuh pesantren.

Ketua PWNU Jawa Barat KH. Juhadi Muhamad SH bersama sejumlah Ketua PCNU dari berbagai daerah di Jawa Barat juga hadir membuka workshop tersebut.

Para tokoh mengaku kagum terhadap kesediaan Pesantren Bina Insan Mulia yang memiliki lebih dari 5.000 santri untuk berbagi pengalaman dan strategi pertumbuhan kepada pesantren lain.

Baca juga: PBNU Gelar PD-PKPNU di Bina Insan Mulia, Siapkan Santri Jadi Penggerak NU di 16 Negara

Panitia menyebut, dari lebih 250 pendaftar, hanya 126 pengasuh pesantren yang lolos seleksi untuk mengikuti workshop tersebut.

“Ini karena syarat untuk mengikuti harus pengasuh, tidak bisa diwakilkan, dan harus memiliki santri minimal 100 orang,” kata panitia.

Dari hasil kuesioner, sebanyak 85 persen peserta mengaku mendapat perspektif baru mengenai peluang lulusan pesantren menembus perguruan tinggi negeri dan mendapatkan beasiswa luar negeri.

“Penjelasan KH Imam Jazuli sebagai konseptor dan eksekutor atas berbagai strategi untuk menembus PTN dalam negeri dan kampus luar negeri di workshop ini membuat kami makin paham dan makin banyak pilihan yang bisa dilakukan oleh pesantren,” ungkap KH Anas Nasrudin dari Ciamis.

KH Hasan Sadili dari Sukabumi juga mengaku memperoleh peta jalan transformasi pesantren yang lebih aplikatif dibanding pelatihan lain yang pernah diikutinya.

“Dari workshop ini saya mendapatkan peta jalan untuk melakukan transformasi di pesantren. Sebelum-sebelumnya, saya sudah beberapa kali mengikuti kegiatan semacam ini untuk pesantren, tetapi bahasannya lebih banyak ke motivasi dan penyadaran, belum ke aksi, apalagi diberi trip dan trik-trik rahasia seperti di workshop ini,” ujarnya.

Sementara itu, KH Apip Ifan Permadi dari Tasikmalaya menilai workshop tersebut membuka wawasan mengenai kekuatan media sosial untuk pertumbuhan pesantren.

“Bagi saya, workshop ini memberi gambaran mengenai dahsyatnya kekuatan medsos bagi yang bisa menggunakan. Kia Imam Jazuli menjelaskan dari pengalaman nyata dan cara-cara menggunakan kekuatan medsos untuk pertumbuhan pesantren. Yang lebih mengagumkan, peserta juga akan diberi pelatihan khusus mengenai digital marketing untuk branding pesantren,” jelas KH Apip Ifan Permadi.

Dalam sambutannya, Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia KH Imam Jazuli menegaskan bahwa pesantren harus mampu menjadi lebih kuat dan relevan di tengah perubahan besar akibat disrupsi teknologi.

Menurutnya, pertumbuhan pesantren sangat ditentukan oleh kualitas pendidikan dan tingkat kepercayaan masyarakat.

“Saya akan berbagi pengalaman agar para pengasuh pesantren bisa menghantarkan lulusannya masuk PTN terdepan dalam negeri dan mendapatkan beasiswa ke kampus-kampus luar negeri. Targetnya, supaya ribuan santri berhasil menjadi orang yang shaleh sekaligus dapat menempati posisi-posisi strategis dalam pembangunan,” tegas Kiai Imam.

“Cukup sedikit saja jumlah santri yang menjadi da’i atau ustadz dalam pengertian hari ini,” tambahnya.

Ia menilai pengasuh pesantren perlu mulai melakukan perubahan di bidang kurikulum, manajemen SDM dan keuangan, branding, digital marketing, hingga strategi menembus kampus unggulan dunia.

“Forum ini lebih bersifat berbagi pengalaman dari hasil yang telah nyata di Bina Insan Mulia, bukan menggurui para kiai, apalagi menyalahkan yang eksisting,” ungkap Kiai Imam di penutupan.

Baca juga: KH Imam Jazuli Gagas Transformasi 5.000 Pesantren di Seluruh Indonesia

Sebagai penutup, panitia menghadirkan berbagai doorprize menarik dari Imam Jazuli Foundation, mulai dari paket ziarah wali songo, wisata dalam negeri, menginap di hotel Aston, hingga hadiah perjalanan ke luar negeri.

Rahasia Ledakan Jumlah Santri Dibongkar di Workshop Pesantren Bina Insan Mulia, Kiai Imam Jazuli Soroti Kekuatan Medsos

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Ponpes Bina Insan Mulia Bongkar Rahasia Ledakan Jumlah Santri, KH Imam Jazuli Soroti Kekuatan Medsos
Ponpes Bina Insan Mulia Bongkar Rahasia Ledakan Jumlah Santri, KH Imam Jazuli Soroti Kekuatan Medsos
Aktual
Penyebab Haji Tertolak, Jemaah Perlu Perhatikan 4 Hal Ini
Penyebab Haji Tertolak, Jemaah Perlu Perhatikan 4 Hal Ini
Aktual
4 Alasan Haji Mardud yang Ibadahnya Tertolak dan Tidak Memberi Manfaat
4 Alasan Haji Mardud yang Ibadahnya Tertolak dan Tidak Memberi Manfaat
Aktual
Jemaah Haji Dilarang Bawa Air Zamzam dalam Koper Saat Pulang, Ini Risikonya
Jemaah Haji Dilarang Bawa Air Zamzam dalam Koper Saat Pulang, Ini Risikonya
Aktual
5 Penyebab Haji Mardud dan Cara Meraih Haji Mabrur
5 Penyebab Haji Mardud dan Cara Meraih Haji Mabrur
Aktual
Seluruh Jemaah Haji Indonesia Tinggalkan Mina, Kemenhaj Siapkan Haji 2027
Seluruh Jemaah Haji Indonesia Tinggalkan Mina, Kemenhaj Siapkan Haji 2027
Aktual
Cerita Anis Saat Badalkan Haji Firdaus, Jemaah yang Hilang dan Wafat di Makkah
Cerita Anis Saat Badalkan Haji Firdaus, Jemaah yang Hilang dan Wafat di Makkah
Aktual
Pendaftaran Beasiswa Indonesia Bangkit Kemenag Diperpanjang hingga 5 Juni 2026
Pendaftaran Beasiswa Indonesia Bangkit Kemenag Diperpanjang hingga 5 Juni 2026
Aktual
Pesan Menag di Waisak 2026: Dharma Jadi Pelita Perdamaian Dunia
Pesan Menag di Waisak 2026: Dharma Jadi Pelita Perdamaian Dunia
Aktual
Wamenhaj Minta Jemaah Haji Fokus Pulihkan Kondisi Fisik Usai Armuzna
Wamenhaj Minta Jemaah Haji Fokus Pulihkan Kondisi Fisik Usai Armuzna
Aktual
Fase Armuzna Selesai, Bus Shalawat Kembali Beroperasi 24 Jam Layani Jemaah Haji Indonesia
Fase Armuzna Selesai, Bus Shalawat Kembali Beroperasi 24 Jam Layani Jemaah Haji Indonesia
Aktual
Bahlil Lahadalia Doakan Seluruh Jemaah Haji Indonesia Jadi Haji Mabrur
Bahlil Lahadalia Doakan Seluruh Jemaah Haji Indonesia Jadi Haji Mabrur
Aktual
Jangan Ditinggalkan, Ini Keutamaan Shalat Dhuha yang Disebutkan Rasulullah SAW
Jangan Ditinggalkan, Ini Keutamaan Shalat Dhuha yang Disebutkan Rasulullah SAW
Aktual
Polda Metro Jaya Buka Posko Pengaduan Korban Dugaan Penipuan Umrah Hanania Group
Polda Metro Jaya Buka Posko Pengaduan Korban Dugaan Penipuan Umrah Hanania Group
Aktual
Sholat Dhuha: Pengertian, Hukum, dan Dalil Kesunnahannya dalam Islam
Sholat Dhuha: Pengertian, Hukum, dan Dalil Kesunnahannya dalam Islam
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com