Editor
KOMPAS.com - Pasangan suami istri (pasutri) penjual gudeg di Sleman, Rahudin Hasan (61) dan Siti Koringah (52), akhirnya berhasil berangkat haji 2026 setelah menabung sejak 2009.
Pasutri asal Sleman ini menabung dari hasil usaha sehari-hari yaitu berjualan gudeg untuk mencukupi kebutuhan hidup.
Keterbatasan ekonomi tidak menghalangi tekad keduanya untuk menunaikan ibadah haji.
Dengan menyisihkan penghasilan secara bertahap, biaya haji akhirnya bisa dilunasi dan keberangkatan pun terwujud.
Baca juga: Kisah Dalimin, Calon Jemaah Haji Tertua Asal Klaten yang Keberangkatan Sempat Tertunda karena Sakit
Rahudin Hasan, yang akrab disapa Udin, sebelumnya bekerja sebagai petugas kebersihan di salah satu sekolah dasar.
Ia mengaku penghasilannya saat itu tidak mencukupi kebutuhan bulanan.
Untuk menambah pemasukan, Udin memutuskan meminjam modal dan mulai berjualan gudeg sejak 2009. Ia memulai usaha dengan tenda sederhana di bawah pohon rambutan.
Baca juga: Digitalisasi Haji Terkendala Jemaah Lansia, Dirjen: Perlu Pendampingan Keluarga
Seiring waktu, gudeg buatannya diminati pembeli dan usahanya mulai berkembang. Dari hasil berjualan tersebut, ia dan istrinya mulai menyisihkan pendapatan untuk tabungan haji.
“Ya kemudian mulai menabung sedikit-sedikit, ya nggak mesti. Karena jualan dapatnya berapa, belanjanya berapa, dikurangi untuk tenaga, untuk sehari-hari, untuk kuliah anak, nah sisanya itu yang kami tabung. Kami nabung dari 2009, mendaftarkan haji tahun 2012,” terangnya saat ditemui di Jalan Tajem-Kadisoka 77, Maguwoharjo, Sleman, Kamis (16/4/2026).
Selain menjual gudeg, mereka juga menerima titipan jajan pasar untuk menambah penghasilan sekaligus mempercepat tabungan.
Dari penghasilan yang tidak menentu, pasangan ini berhasil mengumpulkan tabungan sebesar Rp 25 juta.
Untuk memenuhi syarat pendaftaran haji, mereka kemudian mencari pinjaman sebesar Rp 25 juta.
Dengan niat kuat untuk beribadah, keduanya mengaku mendapatkan kemudahan hingga akhirnya mampu melunasi biaya haji.
Mereka akhirnya mendapat kepastian keberangkatan dan dijadwalkan berangkat ke Tanah Suci pada 24 April 2026.
Menjelang keberangkatan, Udin mengaku merasakan campuran perasaan gugup dan siap.
“Rasanya deg-degan, tapi sudah siap. Sebelumnya sudah manasik haji, persiapan fisik juga susah. Kalau sore agak selo (senggang) itu jalan-jalan. Kan jualan ya udah olahraga. Terus belajar juga dari YouTube filosofi-filosofi sai, ya belajar untuk menambah wawasan,” ujarnya.
Selain persiapan fisik dan manasik haji, pasangan ini juga mengikuti perkembangan situasi global. Kondisi konflik di Timur Tengah sempat menimbulkan kekhawatiran.
Meski demikian, Udin memilih untuk tetap yakin dan berserah diri.
“Kekhawatiran ada, tapi ya kita pasrah saja pada Allah SWT. Niat kita ibadah, Allah yang mengatur,” lanjutnya.
Sementara bagi sang istri, Siti Koringah, keberangkatan haji tahun ini menjadi momen istimewa. Tepat pada 9 April 2026, ia merayakan ulang tahunnya yang ke-52.
“Kami nggak pernah merayakan (ulang tahun), tapi ini (naik haji) jadi kado ulang tahun,” ungkapnya.
Ia mengaku sempat pesimis bisa berangkat haji karena keterbatasan ekonomi. Namun, keyakinan dan usaha yang konsisten akhirnya membuahkan hasil.
“Kita dulu pernah berpikir apa mungkin bisa ke sana, soalnya biayanya juga mahal. Terus kita itu cuma jualan kayak gini. Ya tidak menyangka, tapi Alhamdulillah Allah memberikan kemudahan. Karena niatnya ibadah, semuanya diberikan kelancaran. Tes kesehatan juga bagus semua, alhamdulillah,” imbuhnya.
Dalam keseharian, Siti menjalani rutinitas yang padat. Ia mulai memasak gudeg sejak pukul 16.30 hingga 23.00, kemudian beristirahat sejenak sebelum kembali bersiap berjualan pada dini hari.
Sekitar pukul 04.00, ia sudah berada di lokasi untuk menjual gudeg dan jajan pasar.
Meski aktivitas padat, ia tetap menjaga semangat dan kebahagiaan sebagai kunci menjalani usaha dan kehidupan.
“Alhamdulillah semuanya diberikan kemudahan. Kuncinya tu bahagia, kalau pas libur itu saya sama suami muter-muter, jalan-jalan keluar naik motor, ya sampai Kulon Progo. Pokoknya senang-senang saja. Kalau capek ya istirahat, paling ya pijet,” pungkasnya.
Artikel ini telah tayang di TribunJogja.com dengan judul "Menabung Sejak 2009, Pasangan Penjual Gudeg di Sleman Berhasil Kumpulkan Biaya Naik Haji Tahun Ini".
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang