KOMPAS.com – Upaya pemerintah untuk memperkuat ekonomi haji nasional mulai menunjukkan arah yang lebih konkret.
Melalui aplikasi Haji Umrah Store, Indonesia perlahan mencoba merebut pasar oleh-oleh haji yang selama ini didominasi negara lain.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah, Jaenal Effendi, mengungkapkan bahwa platform ini telah diisi ratusan pelaku usaha dalam negeri.
“Untuk aplikasi oleh-oleh haji ini sudah bisa digunakan, dengan kurang lebih sudah ada 600 penjual produk,” ujar Jaenal kepada Kompas.com, Kamis (16/4/2026).
Baca juga: Jemaah Haji 2026 Kini Bisa Beli Oleh-oleh Secara Digital via Aplikasi Haji dan Umrah Store
Kehadiran sekitar 600 UMKM dalam aplikasi tersebut menjadi langkah awal dalam membangun rantai pasok oleh-oleh haji berbasis produk lokal.
Selama ini, banyak produk yang dibeli jemaah di Arab Saudi justru berasal dari Indonesia, namun dipasarkan melalui pihak luar negeri.
Jaenal mencontohkan fenomena tersebut, mulai dari tasbih hingga produk makanan yang sebenarnya diproduksi di dalam negeri.
“Selama ini tasbih yang dibeli di Saudi itu ternyata dari Jepara, cokelat dari Garut. Produk kita diekspor dulu, lalu dijual kembali di sana,” jelasnya.
Melalui aplikasi ini, pola tersebut mulai dibalik. Jemaah kini dapat membeli langsung produk dalam negeri tanpa harus mencarinya di pasar-pasar di Makkah atau Madinah.
Lebih jauh, Jaenal menyoroti bahwa potensi ekonomi haji selama ini banyak dinikmati oleh negara lain, mulai dari sektor pangan hingga suvenir.
Ia menyebut beberapa negara yang selama ini mengambil peran dalam rantai pasok kebutuhan haji, seperti Malaysia, Thailand, hingga China.
“Selama ini banyak dinikmati negara lain, dari beras Thailand, ikan dari Vietnam, sampai oleh-oleh dari China. Sekarang kita ingin manfaat ekonominya juga dirasakan oleh Indonesia,” ungkapnya.
Dengan adanya Haji Umrah Store, pemerintah mencoba menghadirkan ekosistem baru di mana produk UMKM nasional bisa langsung terserap oleh jemaah haji Indonesia.
Baca juga: 4 Tas Jemaah Haji 2026: Ini Fungsi, Ukuran, dan Isi Tiap Jenisnya
Selain memperkuat ekonomi, aplikasi ini juga menawarkan kemudahan bagi jemaah. Salah satu fitur utama adalah sistem pengiriman langsung ke alamat rumah di Indonesia.
“Harapannya nanti sebelum jemaah sampai rumah, oleh-olehnya sudah sampai duluan,” kata Jaenal.
Konsep ini sekaligus menjawab persoalan klasik jemaah, yakni keterbatasan bagasi dan beban bawaan yang kerap berlebihan saat pulang dari Tanah Suci.
Dengan sistem logistik yang terintegrasi, jemaah tidak perlu lagi membawa banyak barang dari Arab Saudi.
Meski berbasis digital, pemerintah menyadari bahwa tidak semua jemaah terbiasa menggunakan aplikasi, terutama kelompok lanjut usia.
Karena itu, Jaenal menekankan pentingnya peran keluarga dalam mendampingi penggunaan aplikasi tersebut.
“Jemaah lansia tentu perlu pendampingan, mulai dari download sampai transaksi. Supaya tidak salah pesan atau salah bayar,” ujarnya.
Pemerintah, dalam hal ini, berperan sebagai penyedia platform yang membuka ruang bagi UMKM untuk berjualan, sekaligus memfasilitasi kebutuhan jemaah.
Baca juga: Jangan Bawa Ini! Daftar Barang Terlarang di Bagasi Pesawat Haji 2026
Peluncuran Haji Umrah Store menjadi bagian dari strategi jangka panjang pemerintah dalam membangun ekosistem ekonomi haji yang terintegrasi.
Selain melibatkan UMKM, platform ini juga membuka peluang kolaborasi dengan sektor lain, seperti logistik dan perbankan untuk sistem pembayaran.
Jaenal menyebut, potensi ekonomi haji Indonesia sangat besar, dengan nilai yang mencapai puluhan triliun rupiah setiap tahunnya.
“Potensinya besar, sekitar Rp18,8 triliun. Ini harus bisa dirasakan oleh pelaku usaha kita,” ujarnya.
Pada akhirnya, inovasi ini tidak hanya bertujuan ekonomi, tetapi juga meningkatkan kualitas layanan bagi jemaah.
Dengan berkurangnya beban logistik dan aktivitas belanja, jemaah diharapkan dapat lebih fokus menjalankan ibadah di Tanah Suci.
Di sisi lain, UMKM dalam negeri mendapatkan akses pasar yang lebih luas melalui jalur yang sebelumnya sulit dijangkau.
Langkah ini menandai perubahan penting dalam penyelenggaraan haji Indonesia, dari sekadar perjalanan ibadah menjadi ekosistem yang menghubungkan spiritualitas, teknologi, dan kekuatan ekonomi nasional.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang