Editor
KOMPAS.com - Sejumlah daerah di Indonesia melaksanakan shalat Istisqa atau shalat meminta hujan sebagai respons atas kemarau berkepanjangan yang menyebabkan kekeringan dan memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Pelaksanaan Shalat Istisqa dilakukan saat kekeringan dan krisis air berpotensi meningkat serta risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) semakin tinggi.
Dilansir dari Antara, shalat istisqa serta doa bersama dilakukan dengan melibatkan jajaran pemerintah daerah, TNI/Polri, organisasi kemasyarakatan, tokoh agama, dan masyarakat setempat.
Baca juga: Shalat Istisqa: Niat, Tata Cara, dan Khutbah Sebagai Ikhtiar Meminta Hujan saat Kemarau Panjang
Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur bersama Aparatur Sipil Negara (ASN) dan masyarakat menggelar Shalat Istisqa di Masjid Nurul Mu’minin, Samarinda, pada Jumat (21/8/2026).
Shalat meminta hujan tersebut menjadi ikhtiar spiritual untuk memohon turunnya hujan guna mengatasi krisis air akibat kemarau panjang.
Baca juga: Niat Shalat Istisqa untuk Meminta Hujan, Lengkap dengan Tata Cara dan Khutbahnya
"Shalat Istisqa ini menjadi momentum bagi kita untuk meningkatkan doa agar segera turun hujan yang cukup dan membawa keberkahan, serta memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan," kata Staf Ahli Gubernur Bidang III Pemprov Kaltim Puguh Harjanto di Samarinda.
Shalat Istisqa juga digelar Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) bersama ribuan umat di Masjid Raya Sabilal Muhtadin, Banjarmasin, pada Selasa (25/8/2026).
Gubernur Kalsel Muhidin mengatakan Shalat Istisqa menjadi ikhtiar pemerintah bersama masyarakat untuk memohon pertolongan Allah SWT agar hujan segera turun di Kalsel, terutama wilayah yang menghadapi kondisi kering dan memiliki potensi karhutla cukup tinggi.
“Alhamdulillah, hari ini kita melaksanakan Shalat Istisqa di halaman Masjid Raya Sabilal Muhtadin. Kami mengharapkan dengan Shalat Istisqa ini Allah menurunkan hujan di Kalsel," ucapnya.
Dewan Masjid Indonesia (DMI) menyerukan umat Islam untuk melaksanakan Shalat Istisqa sebagai respons atas kemarau berkepanjangan yang menyebabkan kekeringan dan memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Ketua Umum Pimpinan Pusat DMI Jusuf Kalla melalui surat tertanggal 21 Agustus 2026 menyerukan pelaksanaan Shalat Istisqa kepada jajaran DMI, pengurus masjid, dan jamaah di seluruh Indonesia.
"Periode musim kemarau yang berkepanjangan yang mengakibatkan peningkatan suhu lingkungan, menyebabkan kekeringan, menimbulkan krisis air dan memicu kebakaran hutan yang meluas di beberapa wilayah Indonesia," tulis Jusuf Kalla dalam surat tersebut.
Seruan Shalat Istisqa tersebut ditujukan kepada pimpinan wilayah, daerah, cabang, dan ranting DMI, serta dewan kemakmuran masjid (DKM), takmir, dan jamaah masjid di seluruh Indonesia.
Selain menggelar Shalat Istisqa, DMI mengimbau khatib mengajak umat untuk bertobat dan memperbanyak istighfar serta berdoa agar terhindar dari bencana dan malapetaka.
"Meminta ampun atas segala dosa (bertobat), memperbanyak istighfar, dan berdoa sungguh-sungguh agar Allah SWT mengabulkan apa yang menjadi kebutuhan umat Islam dan seluruh bangsa ini," demikian seruan tersebut.
DMI menyarankan Shalat Istisqa dilaksanakan di seluruh masjid di Indonesia sepanjang Agustus hingga awal September 2026. Shalat meminta hujan tersebut juga dapat dilaksanakan di lapangan terbuka maupun halaman masjid.
Pelaksanaan Shalat Istisqa berlangsung ketika sejumlah wilayah menghadapi dampak kemarau panjang berupa kekeringan, krisis air, dan meningkatnya potensi karhutla.
Selain ikhtiar melalui Shalat Istisqa, pemerintah juga melakukan langkah penanganan untuk mengendalikan kebakaran hutan dan lahan.
Kementerian Kehutanan (Kemenhut) memastikan pemerintah mengakselerasi operasi terpadu pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan dan Sumatra.
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kemenhut Ristianto Pribadi dalam pernyataan yang diterima di Jakarta, Minggu, mengatakan pemerintah memobilisasi 12.880 personel gabungan dalam penanganan karhutla.
"Sebagai bentuk respons cepat di lapangan, pemerintah memobilisasi kekuatan penuh sebanyak 12.880 personel gabungan dari Manggala Agni Kementerian Kehutanan, TNI, Polri, BNPB, BPBD, pemerintah daerah, Masyarakat Peduli Api (MPA), pelaku usaha, hingga relawan," ujar Ristianto.
Berdasarkan data Kemenhut, 12.880 personel gabungan tersebut dikerahkan dalam operasi pengendalian karhutla di Kalimantan, terutama di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
Operasi penanganan dilakukan melalui pemantauan titik panas, patroli, pemadaman darat dan udara, pembasahan, pendinginan, serta operasi modifikasi cuaca.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT