Editor
BANDUNG, KOMPAS.com — Kepedulian terhadap korban gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) menggerakkan mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk menghimpun bantuan hingga terjun langsung ke lokasi terdampak.
Melalui gerakan ITB Peduli NTT, para mahasiswa ikut membangun tempat tinggal sementara, memasang instalasi pengolahan air, serta membantu memenuhi kebutuhan masyarakat di pengungsian.
“Dorongan terbesar tentunya panggilan kemanusiaan. Mahasiswa ITB merupakan bagian dari masyarakat sehingga kepedulian perlu diwujudkan menjadi aksi nyata dengan membersamai saudara-saudara di NTT,” ujar Presiden Keluarga Mahasiswa (KM) ITB Nahdah Nabillah dalam rilisnya, Jumat (11/9/2026).
Baca juga: Muhammadiyah Tangani 3.702 Korban Gempa NTT, ISPA Jadi Keluhan Terbanyak
Gerakan tersebut berawal dari inisiatif Kementerian Koordinator Sosial Masyarakat (Kemenko Sosmas) KM ITB. Pengurus mahasiswa kemudian berkomunikasi dengan sejumlah pihak di lingkungan kampus, rektorat, dan Rumah Amal Salman.
Inisiatif itu selanjutnya berkembang menjadi gerakan bersama yang melibatkan berbagai organisasi mahasiswa di ITB.
Keterlibatan para mahasiswa menjadi wujud solidaritas terhadap masyarakat yang sedang menghadapi kesulitan.
Dalam ajaran Islam, kepedulian tidak berhenti pada rasa iba, tetapi diwujudkan melalui upaya meringankan beban sesama sesuai kemampuan masing-masing.
Baca juga: Pascagempa NTT, 300 Tempat Ibadah dan 112 Fasilitas Pendidikan Keagamaan Mulai Ditangani
KM ITB mengonsolidasikan sejumlah organisasi mahasiswa untuk menggalang bantuan. Dana yang dikumpulkan setiap organisasi kemudian disalurkan melalui gerakan ITB Peduli NTT.
Perwakilan Kemenko Sosmas KM ITB, Arfa, mengatakan, KM ITB menjadi wadah bagi organisasi mahasiswa yang ingin menyalurkan bantuan dari anggotanya.
“Inisiatif dari para pemangku kepentingan organisasi mahasiswa dalam penggalangan dana dapat dirasakan. Keterlibatan KM ITB dalam ITB Peduli kami jadikan wadah bagi organisasi mahasiswa untuk menyalurkan bantuan yang telah dikumpulkan,” kata Arfa.
Selain mengoordinasikan bantuan, lima perwakilan KM ITB turut mendampingi Brian Yuliarto ketika mengunjungi daerah terdampak.
Pendampingan dilakukan untuk memetakan kebutuhan masyarakat sekaligus memperkuat koordinasi dengan badan eksekutif mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di NTT.
Konsolidasi tersebut membantu mahasiswa memahami kondisi di lapangan serta menghubungkan bantuan dari lingkungan kampus dengan kebutuhan masyarakat terdampak.
Keterlibatan mahasiswa tidak berhenti pada penggalangan dana. Sejumlah mahasiswa bergabung dengan Tim ITB Peduli NTT Kloter 2 dan terjun langsung ke Kabupaten Manggarai Timur.
Hingga 31 Agustus 2026, tim telah memasang tiga instalasi pengolahan air (IPA) di Rumah Sakit Lapangan Dampek serta lokasi pengungsian Ronting dan Pota.
Sebanyak 21 unit shelter keluarga dan komunal juga telah dibangun di sejumlah lokasi.
Di Ronting, Desa Satar Kampas, tim menyiapkan tiga kelompok masyarakat untuk melanjutkan pembangunan tenda keluarga.
Pelibatan warga tersebut diharapkan dapat mempercepat penyediaan tempat tinggal sementara sekaligus memberi ruang kepada masyarakat untuk mengambil bagian dalam proses pemulihan wilayahnya.
Bagi mahasiswa, keterlibatan di lapangan memberikan kesempatan untuk melihat langsung kehidupan masyarakat setelah bencana.
Asa, salah seorang mahasiswa yang tergabung dalam Tim ITB Peduli NTT Kloter 2, mengatakan, banyak rumah warga yang roboh di sepanjang perjalanan menuju lokasi terdampak.
Fasilitas mandi, cuci, dan kakus (MCK) masih terbatas. Kebutuhan makanan masyarakat juga banyak dipenuhi melalui dapur komunal yang dikelola warga.
Meski berada dalam situasi pascabencana, Asa melihat masyarakat tetap ramah dan menjaga kerukunan. Kehadiran anak-anak membuat suasana pengungsian tetap hidup.
Namun, warga masih harus menghadapi gempa susulan yang disebut dapat terjadi beberapa kali dalam sehari.
“Warganya ramah sekali. Saya sangat merasakan suasana kampung yang rukun dan hidup karena banyak anak-anak. Namun, gempa masih sering terjadi, bisa sampai lima kali sehari dan getarannya sangat terasa,” ujar Asa.
Selama bertugas, mahasiswa ikut membantu pembangunan puskesmas sementara. Mereka juga memberikan perhatian terhadap kebutuhan hunian sementara.
Banyak rumah warga telah roboh. Sementara itu, sebagian warga yang rumahnya masih berdiri mengalami trauma untuk kembali tinggal di dalam bangunan.
Karena itu, tenda keluarga dan shelter menjadi kebutuhan mendesak bagi masyarakat terdampak.
Menurut Asa, mahasiswa dapat berperan sebagai mitra masyarakat melalui pertukaran pengetahuan.
Mahasiswa dapat membagikan wawasan sesuai bidang keilmuannya. Pada saat bersamaan, mereka juga belajar dari pengetahuan dan pengalaman warga lokal, khususnya mengenai kondisi serta kebutuhan teknis di lapangan.
Keterlibatan tersebut mempertemukan gerakan solidaritas yang sebelumnya dibangun di lingkungan kampus dengan kebutuhan nyata masyarakat terdampak bencana.
KM ITB selanjutnya merencanakan pengiriman rombongan mahasiswa melalui kolaborasi dengan program Aksara Mahasiswa Berdampak dari Kementerian Pendidikan Tinggi.
Program lanjutan tersebut diarahkan untuk membantu mempercepat distribusi bantuan dan pembangunan shelter keluarga bagi masyarakat terdampak.
Melalui gerakan ITB Peduli NTT, mahasiswa tidak hanya menghimpun bantuan dari kejauhan.
Mereka juga hadir, bekerja bersama warga, dan mengubah kepedulian menjadi tindakan nyata untuk membantu proses pemulihan setelah bencana.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT