Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Menyalakan Harapan Pascagempa, Mahasiswa ITB Bangun Shelter di NTT

Kompas.com, 11 September 2026, 12:44 WIB
Reni Susanti

Editor

BANDUNG, KOMPAS.com — Kepedulian terhadap korban gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) menggerakkan mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk menghimpun bantuan hingga terjun langsung ke lokasi terdampak.

Melalui gerakan ITB Peduli NTT, para mahasiswa ikut membangun tempat tinggal sementara, memasang instalasi pengolahan air, serta membantu memenuhi kebutuhan masyarakat di pengungsian.

“Dorongan terbesar tentunya panggilan kemanusiaan. Mahasiswa ITB merupakan bagian dari masyarakat sehingga kepedulian perlu diwujudkan menjadi aksi nyata dengan membersamai saudara-saudara di NTT,” ujar Presiden Keluarga Mahasiswa (KM) ITB Nahdah Nabillah dalam rilisnya, Jumat (11/9/2026).

Baca juga: Muhammadiyah Tangani 3.702 Korban Gempa NTT, ISPA Jadi Keluhan Terbanyak

Gerakan tersebut berawal dari inisiatif Kementerian Koordinator Sosial Masyarakat (Kemenko Sosmas) KM ITB. Pengurus mahasiswa kemudian berkomunikasi dengan sejumlah pihak di lingkungan kampus, rektorat, dan Rumah Amal Salman.

Inisiatif itu selanjutnya berkembang menjadi gerakan bersama yang melibatkan berbagai organisasi mahasiswa di ITB.

Keterlibatan para mahasiswa menjadi wujud solidaritas terhadap masyarakat yang sedang menghadapi kesulitan.

Dalam ajaran Islam, kepedulian tidak berhenti pada rasa iba, tetapi diwujudkan melalui upaya meringankan beban sesama sesuai kemampuan masing-masing.

Baca juga: Pascagempa NTT, 300 Tempat Ibadah dan 112 Fasilitas Pendidikan Keagamaan Mulai Ditangani

Menggalang bantuan untuk korban gempa

KM ITB mengonsolidasikan sejumlah organisasi mahasiswa untuk menggalang bantuan. Dana yang dikumpulkan setiap organisasi kemudian disalurkan melalui gerakan ITB Peduli NTT.

Perwakilan Kemenko Sosmas KM ITB, Arfa, mengatakan, KM ITB menjadi wadah bagi organisasi mahasiswa yang ingin menyalurkan bantuan dari anggotanya.

“Inisiatif dari para pemangku kepentingan organisasi mahasiswa dalam penggalangan dana dapat dirasakan. Keterlibatan KM ITB dalam ITB Peduli kami jadikan wadah bagi organisasi mahasiswa untuk menyalurkan bantuan yang telah dikumpulkan,” kata Arfa.

Selain mengoordinasikan bantuan, lima perwakilan KM ITB turut mendampingi Brian Yuliarto ketika mengunjungi daerah terdampak.

Pendampingan dilakukan untuk memetakan kebutuhan masyarakat sekaligus memperkuat koordinasi dengan badan eksekutif mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di NTT.

Konsolidasi tersebut membantu mahasiswa memahami kondisi di lapangan serta menghubungkan bantuan dari lingkungan kampus dengan kebutuhan masyarakat terdampak.

Bangun instalasi air dan shelter

Keterlibatan mahasiswa tidak berhenti pada penggalangan dana. Sejumlah mahasiswa bergabung dengan Tim ITB Peduli NTT Kloter 2 dan terjun langsung ke Kabupaten Manggarai Timur.

Hingga 31 Agustus 2026, tim telah memasang tiga instalasi pengolahan air (IPA) di Rumah Sakit Lapangan Dampek serta lokasi pengungsian Ronting dan Pota.

Sebanyak 21 unit shelter keluarga dan komunal juga telah dibangun di sejumlah lokasi.

Di Ronting, Desa Satar Kampas, tim menyiapkan tiga kelompok masyarakat untuk melanjutkan pembangunan tenda keluarga.

Pelibatan warga tersebut diharapkan dapat mempercepat penyediaan tempat tinggal sementara sekaligus memberi ruang kepada masyarakat untuk mengambil bagian dalam proses pemulihan wilayahnya.

Warga masih merasakan gempa susulan

Bagi mahasiswa, keterlibatan di lapangan memberikan kesempatan untuk melihat langsung kehidupan masyarakat setelah bencana.

Asa, salah seorang mahasiswa yang tergabung dalam Tim ITB Peduli NTT Kloter 2, mengatakan, banyak rumah warga yang roboh di sepanjang perjalanan menuju lokasi terdampak.

Fasilitas mandi, cuci, dan kakus (MCK) masih terbatas. Kebutuhan makanan masyarakat juga banyak dipenuhi melalui dapur komunal yang dikelola warga.

Meski berada dalam situasi pascabencana, Asa melihat masyarakat tetap ramah dan menjaga kerukunan. Kehadiran anak-anak membuat suasana pengungsian tetap hidup.

Namun, warga masih harus menghadapi gempa susulan yang disebut dapat terjadi beberapa kali dalam sehari.

“Warganya ramah sekali. Saya sangat merasakan suasana kampung yang rukun dan hidup karena banyak anak-anak. Namun, gempa masih sering terjadi, bisa sampai lima kali sehari dan getarannya sangat terasa,” ujar Asa.

Selama bertugas, mahasiswa ikut membantu pembangunan puskesmas sementara. Mereka juga memberikan perhatian terhadap kebutuhan hunian sementara.

Banyak rumah warga telah roboh. Sementara itu, sebagian warga yang rumahnya masih berdiri mengalami trauma untuk kembali tinggal di dalam bangunan.

Karena itu, tenda keluarga dan shelter menjadi kebutuhan mendesak bagi masyarakat terdampak.

Mahasiswa dan warga saling belajar

Menurut Asa, mahasiswa dapat berperan sebagai mitra masyarakat melalui pertukaran pengetahuan.

Mahasiswa dapat membagikan wawasan sesuai bidang keilmuannya. Pada saat bersamaan, mereka juga belajar dari pengetahuan dan pengalaman warga lokal, khususnya mengenai kondisi serta kebutuhan teknis di lapangan.

Keterlibatan tersebut mempertemukan gerakan solidaritas yang sebelumnya dibangun di lingkungan kampus dengan kebutuhan nyata masyarakat terdampak bencana.

KM ITB selanjutnya merencanakan pengiriman rombongan mahasiswa melalui kolaborasi dengan program Aksara Mahasiswa Berdampak dari Kementerian Pendidikan Tinggi.

Program lanjutan tersebut diarahkan untuk membantu mempercepat distribusi bantuan dan pembangunan shelter keluarga bagi masyarakat terdampak.

Melalui gerakan ITB Peduli NTT, mahasiswa tidak hanya menghimpun bantuan dari kejauhan.

Mereka juga hadir, bekerja bersama warga, dan mengubah kepedulian menjadi tindakan nyata untuk membantu proses pemulihan setelah bencana.

Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar