Editor
BANDUNG, KOMPAS.com — Belajar di pesantren tidak hanya berlangsung melalui pengajian dan kegiatan di ruang kelas.
Di Pesan Trend atau Sekolah Rimba Indonesia, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, santri juga terlibat dalam pertanian, peternakan, pengolahan limbah, hingga pengembangan produk kopi.
Model pendidikan yang dikembangkan Yayasan Pemuda Hijrah tersebut memadukan kurikulum nasional, pendidikan Al-Qur’an, permakultur, dan keterampilan hidup.
“Pesantren tidak hanya menjadi tempat belajar. Pesantren bisa menjadi ruang untuk membangun manusia yang punya karakter, keterampilan, kemampuan melihat peluang, dan pada akhirnya mampu mandiri,” ujar Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat A Muhaimin Iskandar dalam rilisnya, Selasa (6/10/2026).
Baca juga: Menag Lantik 5 Pejabat Ditjen Pesantren, Ingatkan Nasib Santri di 42.000 Pondok
Menurut Muhaimin, perpaduan pendidikan, kepedulian lingkungan, dan pengembangan potensi lokal memperlihatkan bagaimana pemberdayaan dapat tumbuh dari pesantren.
Ia menekankan bahwa pendidikan perlu memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengenali minat, mengembangkan keterampilan, serta mencoba menciptakan sesuatu.
“Yang penting dalam pemberdayaan adalah bagaimana anak-anak ini tidak hanya disiapkan untuk mencari pekerjaan, tetapi juga memiliki kemampuan untuk menciptakan peluang dan mengembangkan potensi yang ada di sekitarnya,” katanya.
Salah satu potensi lokal yang dikembangkan di kawasan tersebut adalah kopi Arabika.
Perkebunan seluas sekitar 12,7 hektare, ditambah dua hektare lahan baru, dikelola bersama Kelompok Tani Putra Manglayang yang beranggotakan 31 orang.
Pada 2026, produksi kopi mencapai sekitar 50 ton. Dari jumlah tersebut, sekitar 14 ton telah diserap untuk diolah menjadi berbagai produk, sedangkan 36 ton lainnya masih dijual sebagai bahan mentah.
Menurut Muhaimin, kondisi itu membuka kesempatan untuk memperkuat pengolahan pascapanen, pengemasan, dan akses pasar agar masyarakat memperoleh nilai tambah yang lebih besar.
“Di sini kita melihat bagaimana potensi lokal bisa menjadi sumber pemberdayaan. Bukan hanya menghasilkan komoditas, tetapi bagaimana masyarakat memiliki kemampuan untuk mengolah, meningkatkan nilai tambah, dan mendapatkan manfaat yang lebih besar,” ujarnya.
Baca juga: Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat A Muhaimin Iskandar bersama Hanan Attaki di Pesan Trend atau Sekolah Rimba Indonesia di Kabupaten Bandung, Selasa (6/10/2026).Selain pengembangan kopi, kegiatan di Pesan Trend mencakup pertanian berkelanjutan, budidaya maggot, dan pengolahan limbah menjadi kompos.
Kegiatan tersebut menjadi ruang belajar bagi santri untuk mengelola sumber daya, menghadapi persoalan lingkungan, dan mengenali peluang produktif.
Muhaimin menilai inisiatif yang tumbuh dari masyarakat perlu diperkuat melalui pendampingan, akses, dan kolaborasi. Pemerintah, menurutnya, perlu mendukung gerakan yang sudah berjalan agar manfaatnya menjangkau lebih banyak orang.
Ia juga mendorong pesantren dan komunitas lain mengembangkan pemberdayaan sesuai potensi daerah masing-masing.
“Pemberdayaan itu bukan membuat masyarakat bergantung, tetapi membuat masyarakat punya kemampuan untuk berdiri sendiri. Pesantren memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu ruang tumbuhnya kemandirian itu,” kata Muhaimin.
Penggagas dan pendiri kawasan Kampung Pemuda, Ustaz Hanan Attaki, mengatakan pengembangan kawasan tersebut merupakan bagian dari perjalanan gerakan Pemuda Hijrah sejak 2015.
Menurut Hanan, setelah membangun tren hijrah, gerakan tersebut berlanjut pada pengembangan model dan ruang kolaborasi anak muda.
“Periode pertama kami membuat tren, alhamdulillah pada 2015 sampai 2020 lahir tren hijrah di Indonesia. Periode kedua kami membuat model dan lokasi. Kawasan ini salah satunya, sebuah kawasan kolaboratif anak muda,” ujarnya.
“Kalau di kota namanya youth space, karena kami di pegunungan, kami menyebutnya Kampung Pemuda,” lanjut Hanan.
Ia berharap model tersebut dapat dikembangkan di berbagai daerah agar anak muda memiliki tempat untuk belajar, berkolaborasi, dan mengembangkan potensinya.
Bentuknya dapat disesuaikan dengan karakter daerah, termasuk melalui Islamic center, masjid, maupun lingkungan kampung.
“Harapan kami setelah ini bisa scale up di seluruh Indonesia. Ini bukan franchise, tetapi movement. Silakan ditiru dan dikembangkan secara gratis sesuai kebutuhan daerah masing-masing,” katanya.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.