Editor
KOMPAS.com — Kepedulian terhadap sesama merupakan bagian dari ketakwaan yang perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Saat masyarakat menghadapi bencana, termasuk kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kepedulian dapat hadir melalui bantuan untuk meringankan penderitaan mereka sekaligus upaya menjaga lingkungan.
Dalam naskah khutbah Jumat berikut, M Syarofuddin Firdaus, dosen Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus-Sunnah Ciputat, mengingatkan bahwa keimanan seharusnya mendorong seseorang untuk peka terhadap kesulitan orang lain.
Semangat tolong-menolong dapat diwujudkan melalui bantuan kesehatan, makanan, tenaga, maupun tindakan sederhana sesuai kemampuan.
Baca juga: Khutbah Jumat 16 Oktober 2026: Ini Hal yang Akan Kita Pertanggungjawabkan di Hari Kiamat
Khutbah ini juga mengajak umat Islam meneladani kedermawanan Utsman bin Affan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat.
Berikut naskah khutbah Jumat tentang pentingnya membantu korban karhutla, memperkuat persaudaraan, dan merawat bumi sebagai amanah Allah, dikutip dari NU Online:
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، نَحْمَدُهُ عَلَى نِعَمِهِ الَّتِي لَا تُحْصَى، وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ، وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ مَنْ اتَّقَى اللَّهَ جَعَلَ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ، وَاعْلَمُوا أَنَّ مِنْ تَمَامِ التَّقْوَى حُسْنَ الْأَدَبِ مَعَ اللَّهِ وَمَعَ رَسُولِهِ وَمَعَ عِبَادِهِ. قال الله تعالى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
Kaum muslimin yang dimuliakan Allah
Marilah kita meningkatkan ketakwaan kita dengan sebaik-baiknya. Ketakwaan sendiri tidak hanya fokus pada ranah diri sendiri, tapi juga turut memperhatikan kondisi sekitar.
Sebab Islam tidak hanya mengajarkan untuk memikiran dan memperbaiki hubungan antara hamba dengan Tuhan, tetapi juga mengajarkan solidaritas sosial, terlebih sesama muslim.
Di tengah berbagai persoalan yang melanda negeri ini, ada satu nilai yang perlu terus kita gaungkan dan hidupkan kembali, yaitu solidaritas sosial dan kepedulian terhadap sesama.
Nilai ini semakin penting ketika saudara-saudara kita di berbagai daerah harus menghadapi bencana asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang telah berlangsung selama berbulan-bulan tanpa penanganan yang tuntas.
Bencana asap menjadi ancaman bagi kesehatan dan keberlangsungan hidup masyarakat. Gangguan pernapasan, terbatasnya aktivitas anak-anak, hingga kesulitan mencari nafkah menjadi kenyataan yang harus dihadapi, terutama oleh anak-anak, lansia, orang yang sedang sakit, dan keluarga yang tetap harus bekerja di tengah kondisi berbahaya.
Di sinilah solidaritas sosial menemukan maknanya yang sesungguhnya. Sebab, musibah bukan hanya menguji kemampuan seseorang untuk bertahan, tetapi juga menguji sejauh mana kepedulian kita terhadap penderitaan orang lain. Ketika sebagian saudara kita kesulitan mendapatkan udara bersih, kesehatan mereka terancam, dan penghasilan keluarga terganggu, sudah semestinya kita menyadari bahwa penderitaan tersebut bukanlah urusan mereka semata.
Solidaritas berarti menyadari bahwa penderitaan orang lain merupakan bagian dari tanggung jawab kemanusiaan kita bersama. Kepedulian tidak selalu harus diwujudkan melalui tindakan besar. Ia dapat dimulai dari perhatian sederhana, bantuan yang tulus, penyebaran informasi yang bermanfaat, hingga dukungan nyata bagi mereka yang terdampak.
Hal ini sebagaimana firman Allah dalam surat al-Ma'idah ayat 2:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ
Artinya: “Dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa.” (QS. al-Ma’idah: 2).
Kaum muslimin yang dimuliakan Allah Syekh al-Maraghi dalam kitab Tafsir al-Maraghi, juz 6 halaman 46, menjelaskan bahwa saling menolong dalam kebaikan dan ketakwaan merupakan salah satu ajaran penting dalam Al-Qur’an. Artinya, kita tidak cukup hanya berbicara tentang kebaikan, tetapi juga harus melakukannya dalam kehidupan sehari-hari.
Terutama ketika ada orang lain yang sedang mengalami kesulitan, kita perlu hadir untuk membantu mereka. Sebab, keimanan seharusnya membuat kita lebih peduli terhadap sesama dan tergerak untuk meringankan beban mereka.
Hal ini mewajibkan manusia untuk saling membantu satu sama lain dalam setiap hal yang membawa manfaat bagi individu maupun kelompok, baik dalam urusan agama maupun dunia. Selain itu, sikap ini juga dilakukan dalam setiap bentuk ketakwaan yang dapat menjauhkan mereka dari kerusakan dan bahaya.
Nabi Muhammad sendiri telah memberikan gambaran yang indah tentang persaudaraan antar sesama. Di dalam hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim yang cukup populer disebutkan:
الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا
Artinya:
“Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya seperti sebuah bangunan; sebagian menguatkan sebagian yang lain.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Bangunan tidak akan kokoh jika setiap bagiannya berdiri sendiri. Demikian pula masyarakat. Kita tidak mungkin menjalani kehidupan dengan baik jika hanya memikirkan keselamatan diri sendiri, sementara orang-orang di sekitar kita sedang mengalami kesulitan.
Kaum muslimin yang dimuliakan Allah Imam Ibnu Batthal ketika mensyarahi hadis ini di dalam kitabnya, Syarh Shahih al-Bukhari juz 9 hal. 227 mengatakan bahwa hadis ini menjadi dalil kebolehan seorang mukmin menolong yang lain dalam perkara dunia dan akhirat.
Artinya, menolong orang lain tidak mesti hanya masalah akhirat seperti mengingatkan masalah pahala dan dosa, sorga dan neraka. Namun bisa juga dalam urusan dunia, terlebih itu menyangkut hajat banyak orang.
Dalam sejarah, Utsman bin Affan pernah mencontohkan tentang kebaikan ini, sebagaimana terekam di dalam riwayat Musnah Ahmad. Ketika Rasulullah tiba di Madinah, kaum muslimin membutuhkan sumber air yang layak diminum. Rasulullah kemudian mendorong umat Islam untuk membeli sumur Rumah (pemiliknya beragama Yahudi) agar manfaatnya dapat dinikmati bersama. Sayyiduna Utsman yang mendengar itu kemudian membeli sumur tersebut dengan hartanya sendiri, tanpa bantuan harta yang lain, serta menjadikannya sumber air bagi kaum Muhajirin dan Anshar.
Dari kisah tersebut kita dapat mengambil pelajaran kalau Nabi tidak hanya mengajarkan doa ketika masyarakat mengalami kesulitan (termasuk masalah air), tetapi juga mendorong tindakan nyata untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Dan sahabat Utsman langsung berinisiatif untuk membantu persoalan yang menjadi hajat orang banyak itu. Harta yang dimilikinya digunakan untuk menebarkan manfaat untuk orang banyak. Kaum muslimin ketika itu pun langsung bergembira karena masalah air menjadi sirna.
Dalam konteks kita hari ini, ketika saudara-saudara kita menghadapi asap karhutla, kita memang tidak dapat membeli udara bersih sebagaimana sayydiuna Utsman membeli sumur tadi.
Namun, kita dapat meneladani semangatnya: membantu warga terdampak, menyediakan kebutuhan kesehatan sesuai kemampuan, mengantarkan makanan kepada keluarga yang kesulitan, serta mendukung petugas yang berjuang memadamkan api. Selain itu, kepedulian juga berarti tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan, dan ikut menjaga lingkungan agar kebakaran tidak meluas. Membantu korban itu penting, tetapi mencegah munculnya korban jauh lebih baik.
Kaum muslimin yang dimuliakan Allah
Inilah bagian dari ukhuwah wathaniyah, yaitu persaudaraan sebagai sesama warga bangsa negara. Allah menggambarkan semangat mendahulukan kepentingan saudara dalam firman-Nya:
وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ
Artinya: “Mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka juga memerlukan.” (QS. al-Hasyr: 9).
Memang, ayat ini berbicara tentang kaum Anshar yang menyambut dan membantu kaum Muhajirin. Mereka tidak menjadikan perbedaan asal-usul sebagai penghalang untuk berbagi.
Inilah semangat yang sama perlu kita rawat sebagai sesama warga Indonesia. Kita mungkin berbeda suku, bahasa, organisasi, dan pilihan politik, tetapi keselamatan lingkungan dan kemanusiaan merupakan kepentingan bersama.
Tidak semua orang mampu memadamkan api atau memberikan bantuan besar. Namun, setiap orang dapat mengambil bagian. Ada yang membantu tetangga lanjut usia, ada yang memberikan masker sesuai kebutuhan, ada yang menjaga lingkungan, dan ada yang menyumbangkan tenaga maupun harta. Kecil bagi kita belum tentu kecil bagi orang yang menerimanya.
Marilah kita membiasakan diri melihat kesulitan orang lain bukan sekadar sebagai berita yang segera berlalu, melainkan sebagai panggilan untuk berbuat sesuatu. Semoga Allah menjadikan kita pribadi yang peka terhadap penderitaan sesama, menguatkan persaudaraan di tengah perbedaan, serta membimbing kita untuk menjaga bumi sebagai amanah-Nya.
بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ.
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا اَمَرَ، اَشْهَدُ اَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ اِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَبِهِ وَ كَفَرَ، وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَاِئِقِ وَالْبَشَرِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِهِ وَ اَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْراً اَمَّابَعْدُ : فَيَاعِبَادَ ﷲ... اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَاتَّقُوْا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرٍ. إِنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ قَوْلًا كَرِيْمًا: ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠّٰﻪَ ﻭَﻣَﻼَﺋِﻜَﺘَﻪُ ﻳُﺼَﻠُّﻮْﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ، ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬﺎَ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺀَﺍﻣَﻨُﻮْﺍ ﺻَﻠُّﻮْﺍ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠِّﻤُﻮْﺍ ﺗَﺴْﻠِﻴْﻤًﺎ ...ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ وَسَلِّمْ ﻋَﻠَﻰسَيِّدِنَا ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁلهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْن. اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْنَا وَأَصْلِحْ أَحْوَالَنَا، وَأَصْلِحْ مَنْ فِي صَلَاحِهِمْ صَلَاحُنَا وَصَلَاحُ الْمُسْلِمِيْنَ، وَأْهْلِكْ مَنْ فِي هَلَاكِهِمْ صَلاحُنَا وَصَلَاحُ الْمُسْلِمِيْنَ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى، وَنَسْأَلُكَ التَّوْفِيقَ وَالسَّدَادَ فِي جَمِيعِ أُمُورِنَا، وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ يَسْتَخِيرُونَكَ فِي أُمُورِهِمْ، وَيَرْضَوْنَ بِقَضَائِكَ وَقَدَرِكَ، وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ. عٍبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.