Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jelang 100 Tahun Gontor, UNIDA Siapkan Buku “Hadiah Gontor untuk Indonesia”

Kompas.com, 11 Juli 2026, 22:18 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

KOMPAS.com - Pondok Modern Darussalam Gontor tengah mempersiapkan rangkaian peringatan satu abad berdirinya dengan menghadirkan karya monumental.

Salah satu program yang sedang dirampungkan ialah penyusunan buku berjudul “Hadiah Gontor untuk Indonesia”.

Buku tersebut akan menjadi dokumentasi perjalanan, sistem pendidikan, serta kontribusi Gontor bagi perkembangan umat Islam dan bangsa Indonesia.

Baca juga: Gontor Masuki Usia Seabad, Tokoh Nasional Bicara Masa Depan Pesantren

Penyusunannya juga diharapkan menjadi warisan pemikiran yang dapat menjadi rujukan bagi dunia pendidikan pesantren di Tanah Air.

Rencana penyusunan buku itu mengemuka dalam Sarasehan Guru Besar dan Doktor Alumni Gontor bertema "Sistem dan Nilai Gontor sebagai Wujud Fondasi Pengembangan UNIDA Gontor Menuju World Class University" yang digelar di Hall Lantai 4 Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor, Siman, Ponorogo, Sabtu (11/7/2026).

Baca juga: Apresiasi 100 Tahun Gontor, Wamenag Sebut Kiprah Pesantren Ini Sudah Mendunia

Rektor UNIDA: Buku Akan Rekam Jejak Satu Abad Gontor

Rektor UNIDA Gontor, Prof. Dr. KH. Hamid Fahmy Zarkasyi, mengatakan buku Hadiah Gontor untuk Indonesia akan mengulas perjalanan Pondok Modern Gontor selama hampir satu abad, termasuk kontribusinya dalam melahirkan tokoh-tokoh bangsa dari berbagai bidang.

Menurutnya, buku tersebut juga akan menjelaskan bagaimana sistem pendidikan Gontor berkembang dan menjadi salah satu model pendidikan pesantren modern di Indonesia.

“Dalam rangka 100 tahun ini, kita sedang menyusun buku Hadiah Gontor untuk Indonesia. Buku ini insyaallah akan menulis berbagai langkah perjuangan Gontor, termasuk menghibahkan sistem Pondok Modern Gontor ke Indonesia. Saya yakin pencetus pertama konsep pondok modern di tanah air adalah Gontor,” tegas Prof. Hamid Fahmy Zarkasyi, Sabtu (11/7/2026).

Kekuatan Jejaring Alumni dan Semangat Ukhuwah Gontor

Prof. Hamid menjelaskan salah satu kekuatan utama Gontor terletak pada eratnya ukhuwah atau persaudaraan antarsesama alumni. Ikatan tersebut, menurutnya, tidak hanya terlihat dalam kehidupan sosial, tetapi juga dalam dunia usaha dan pengabdian kepada masyarakat.

Ia menuturkan banyak alumni yang berkiprah di bidang bisnis kemudian kembali mengabdikan diri dengan mendirikan pondok pesantren di daerah masing-masing.

Selain itu, nilai inklusivitas yang dibangun Gontor dinilai mampu menjadi jembatan pemersatu berbagai elemen umat Islam, termasuk organisasi besar seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.

"Puncak dari kuatnya ukhuwah itu adalah ketika alumni Gontor pernah dipercaya menjadi Ketua PP Muhammadiyah dan Ketua PBNU sekaligus. Terbukti NU-Muhammadiyah tidak ada masalah. Identitas penggerak masyarakat inilah yang tidak bisa dipisahkan dari Gontor," paparnya.

Target Terbitkan 100 Buku Akademik

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Hamid juga mengungkapkan UNIDA Gontor menargetkan penerbitan 100 buku akademik yang membahas berbagai sistem dan nilai yang berkembang di lingkungan Gontor.

Menurutnya, kajian mengenai Gontor tidak cukup dirangkum dalam satu penelitian karena memiliki banyak subsistem yang dapat dikaji secara ilmiah.

"Di Gontor ada banyak sistem yang bisa diteliti teorinya satu per satu. Mulai dari sistem pengasuhan, pengajaran bahasa Arab, bahasa Inggris, sistem wakaf, kemandirian ekonomi, hingga formulasi leadership. Bahkan lima Panca Jiwa seperti keikhlasan dan kesederhanaan pun diteliti bagaimana implementasi praktisnya," urai Rektor UNIDA.

Nilai-Nilai Gontor yang Hidup dalam Tradisi

Sementara itu, Presiden UNIDA Gontor sekaligus Pimpinan Pondok Modern Gontor, KH Hasan Abdullah Sahal, menilai kekuatan utama Gontor justru terletak pada nilai-nilai yang tidak sepenuhnya tertulis dalam kurikulum.

Menurutnya, tradisi, budaya, dan keteladanan yang diwariskan para pendiri atau Trimurti menjadi fondasi yang menjaga eksistensi Gontor hingga memasuki usia satu abad.

Kiai Hasan mengatakan banyak alumni yang ingin mendirikan lembaga pendidikan "seperti Gontor", tetapi kesulitan menjelaskan secara rinci unsur yang dimaksud.

“Hal itu menunjukkan kekuatan utama Gontor berada pada nilai-nilai abstrak yang tidak mudah didefinisikan secara tekstual. Di pondok kita ini, lebih banyak hal esensial yang tidak diucapkan daripada yang diucapkan. Inilah keunikan sejati Gontor yang menjaganya tetap kokoh,” pungkas Kiai Hasan Sahal.

Artikel ini telah tayang di TribunJatim.com dengan judul "Sambut Usia 100 Tahun, Pondok Gontor Susun Buku Spesial 'Hadiah Gontor untuk Indonesia". 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Lirik Sholawat Badar Lengkap: Arab, Latin, Arti & Sejarah
Lirik Sholawat Badar Lengkap: Arab, Latin, Arti & Sejarah
Doa Harian
Jelang 100 Tahun Gontor, UNIDA Siapkan Buku “Hadiah Gontor untuk Indonesia”
Jelang 100 Tahun Gontor, UNIDA Siapkan Buku “Hadiah Gontor untuk Indonesia”
Aktual
Jelang Muktamar NU ke-35, KH Zulfa Mustofa Nyatakan Siap Maju Jadi Calon Ketua Umum
Jelang Muktamar NU ke-35, KH Zulfa Mustofa Nyatakan Siap Maju Jadi Calon Ketua Umum
Aktual
Doa Mandi Wajib Pria Keluar Mani (Sengaja/Mimpi) & Tata Cara
Doa Mandi Wajib Pria Keluar Mani (Sengaja/Mimpi) & Tata Cara
Doa Harian
Gus Salam Sambut Penetapan Ponpes Tambakberas sebagai Tuan Rumah Muktamar NU ke-35
Gus Salam Sambut Penetapan Ponpes Tambakberas sebagai Tuan Rumah Muktamar NU ke-35
Aktual
Niat Sholat Tarawih Lengkap: Sendiri, Makmum, Imam (Arab/Latin)
Niat Sholat Tarawih Lengkap: Sendiri, Makmum, Imam (Arab/Latin)
Doa Harian
Ikhfa Artinya Samar: Pengertian, 15 Huruf, Jenis & Contoh
Ikhfa Artinya Samar: Pengertian, 15 Huruf, Jenis & Contoh
Doa Harian
Muktamar NU ke-35 Siapkan Layanan Kesehatan Terpadu, LK PBNU Gandeng RS NU dan Dinkes
Muktamar NU ke-35 Siapkan Layanan Kesehatan Terpadu, LK PBNU Gandeng RS NU dan Dinkes
Aktual
Kisah Umar bin Abdul Aziz, Teladan Pemimpin yang Bisa Memisahkan Fasilitas Negara dan Hak Pribadi
Kisah Umar bin Abdul Aziz, Teladan Pemimpin yang Bisa Memisahkan Fasilitas Negara dan Hak Pribadi
Aktual
Masih Tinggal Serumah, Ini Cara Menjaga Hubungan Harmonis dengan Mertua Menurut Islam
Masih Tinggal Serumah, Ini Cara Menjaga Hubungan Harmonis dengan Mertua Menurut Islam
Aktual
Penyakit Ain dalam Islam: Pengertian, Ciri-Ciri, dan Cara Mengobatinya Menurut Syariat
Penyakit Ain dalam Islam: Pengertian, Ciri-Ciri, dan Cara Mengobatinya Menurut Syariat
Aktual
Ketua DPP PK-Tren KH Ilyas Marwal: Hafiz Al-Qur'an Harus Jadi Dokter, Ilmuwan hingga Pemimpin Bangsa
Ketua DPP PK-Tren KH Ilyas Marwal: Hafiz Al-Qur'an Harus Jadi Dokter, Ilmuwan hingga Pemimpin Bangsa
Aktual
7 Surah dan Ayat Al-Quran yang Dianjurkan untuk Dihafal Sebelum Ajal Menjemput
7 Surah dan Ayat Al-Quran yang Dianjurkan untuk Dihafal Sebelum Ajal Menjemput
Aktual
Melayat Khamenei, Delegasi RI Dorong Perdamaian Konflik Iran-AS di Teheran
Melayat Khamenei, Delegasi RI Dorong Perdamaian Konflik Iran-AS di Teheran
Aktual
Kemenag Ungkap Potensi 10 Juta Santri sebagai Kekuatan SDM Indonesia
Kemenag Ungkap Potensi 10 Juta Santri sebagai Kekuatan SDM Indonesia
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar