Editor
KOMPAS.com - Dalam ajaran Islam, dikenal istilah penyakit ain, yaitu gangguan yang diyakini dapat terjadi akibat pandangan seseorang yang disertai rasa hasad, dengki, atau kekaguman yang tidak diiringi dengan mengingat Allah SWT.
Konsep ain bersumber dari hadis-hadis Rasulullah SAW dan menjadi bagian dari pembahasan akidah serta ruqyah syar'iyyah.
Meski demikian, penyakit ain tidak dikenal sebagai diagnosis dalam dunia medis. Karena itu, jika seseorang mengalami keluhan fisik atau psikis, pemeriksaan dan penanganan medis tetap perlu dilakukan, sementara ikhtiar secara syariat dapat menjadi pendamping sesuai ajaran Islam.
Baca juga: Penyakit Ain dalam Islam: Pengertian, Dalil, Ciri-Ciri, hingga Cara Mencegah dan Mengobatinya
Ain juga dipahami sebagai pandangan yang berlebihan terhadap seseorang atau sesuatu tanpa disertai zikir kepada Allah SWT.
Dalam ajaran Islam, kondisi tersebut dapat dimanfaatkan setan untuk menimbulkan mudarat sehingga orang yang terkena ain diyakini dapat mengalami gangguan atau musibah dengan izin Allah SWT.
Baca juga: Doa Agar Terhindar dari Penyakit Ain Beserta Artinya
Syaikh Abdul Aziz As-Sadhan hafidzahullahu Ta'ala menjelaskan bahwa apabila keluhan tersebut bukan disebabkan penyakit jasmani atau medis, seseorang yang terkena ain umumnya dapat mengalami beberapa gejala berikut:
Dalam Islam, penyembuhan penyakit ain dilakukan dengan memperbanyak doa, zikir, serta memohon pertolongan kepada Allah SWT. Di samping itu, terdapat beberapa ikhtiar yang dianjurkan dalam syariat.
Apabila penyebab ain tidak diketahui, orang yang diduga terkena ain dianjurkan menjalani ruqyah syar'iyyah dengan membaca ayat-ayat Al-Qur'an dan doa yang diajarkan Rasulullah SAW.
Dalam hadis Aisyah radhiallahu'anha disebutkan bahwa ketika Rasulullah SAW sakit, Malaikat Jibril meruqyah beliau dengan doa berikut:
باسْمِ اللهِ يُبْرِيكَ، وَمِنْ كُلِّ دَاءٍ يَشْفِيكَ، وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إذَا حَسَدَ، وَشَرِّ كُلِّ ذِي عَيْنٍ
Bismillahi yubriik, wa min kulli daa-in yasyfiik, wa min syarri haasidin idza hasad, wa syarri kulli dzii 'ainin.
Artinya: "Dengan nama Allah yang menyembuhkanmu. Ia menyembuhkanmu dari segala penyakit dan dari keburukan orang yang hasad dan keburukan orang yang menyebabkan 'ain." (HR. Muslim No. 2185).
Ruqyah juga dapat disertai dengan membaca Surah Al-Fatihah, Ayat Kursi, dua ayat terakhir Surah Al-Baqarah, Surah Al-Ikhlas, Surah Al-Falaq, dan Surah An-Nas.
Apabila orang yang menyebabkan ain diketahui dan terbukti menjadi penyebabnya, syariat menganjurkan agar orang tersebut mandi.
Selanjutnya, air bekas mandi itu disiramkan sekaligus ke bagian belakang tubuh orang yang terkena ain.
Hal ini berdasarkan hadis dari Ibnu Abbas radhiallahu'anhuma. Rasulullah SAW bersabda:
العين حق ولو كان شيء سابق القدر لسبقته العين ، وإذا استغسلتم فاغسلوا
"'Ain itu benar adanya. Andaikan ada perkara yang bisa mendahului takdir, maka itulah 'ain. Maka jika kalian mandi, gunakanlah air mandinya itu (untuk memandikan orang yang terkena 'ain)." (HR. Muslim No. 2188).
Dalam ajaran Islam, penyakit ain diyakini sebagai sesuatu yang benar adanya berdasarkan hadis Rasulullah SAW.
Namun, tidak setiap penyakit atau musibah dapat langsung disimpulkan sebagai akibat ain.
Karena itu, umat Islam dianjurkan tetap mengedepankan ikhtiar secara syariat melalui doa, zikir, dan ruqyah syar'iyyah, sekaligus melakukan pemeriksaan medis apabila mengalami gangguan kesehatan.
Dengan demikian, ikhtiar lahir dan batin dalam menyembuhkan penyakit ain dapat berjalan beriringan sambil bertawakal kepada Allah SWT.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang