Editor
KOMPAS.com - Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia (BIMA) Cirebon, KH Imam Jazuli, Lc., MA, menerima kunjungan silaturahmi KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) pada Sabtu (11/07/2026) di Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon.
Kunjungan cicit Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari yang juga Ketua PWNU Jawa Timur dan Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng tersebut menjadi momentum untuk mempererat ukhuwah serta berdiskusi mengenai masa depan Nahdlatul Ulama (NU).
Dalam pertemuan itu, KH Imam Jazuli dan Gus Kikin membahas dinamika internal NU menjelang Muktamar ke-35.
Salah satu agenda penting yang ditekankan adalah mengembalikan ruh gerakan organisasi kepada nilai-nilai yang diwariskan para muassis melalui Qanun Asasi NU dan Muqaddimah Qanun Asasi.
Baca juga: Gus Ghofur Dorong Kitab Kiai Zulfa Jadi Rujukan Bahtsul Masail Muktamar NU
KH Imam Jazuli menyatakan bahwa diskusi panjang berfokus pada pentingnya kembali kepada Qanun Asasi NU.
Ia menekankan agar seluruh pengurus, dari tingkat ranting hingga PBNU, menghayati dan mengimplementasikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
“Kami berdiskusi cukup panjang tentang pentingnya kembali kepada Qanun Asasi NU. Semua pengurus, mulai tingkat ranting hingga PBNU, harus benar-benar menghayati dan mengimplementasikan nilai-nilai yang terkandung dalam Muqaddimah dan Qanun Asasi. Jika nilai-nilai tersebut dijalankan dengan sungguh-sungguh, saya meyakini berbagai kegaduhan yang terjadi belakangan tidak perlu muncul,” ujar KH Imam Jazuli dalam keterangan tertulis, Minggu (12/7/2026)..
Menurutnya, Qanun Asasi bukan sekadar dokumen historis, melainkan pedoman moral, etika, dan arah perjuangan NU. “Abad kedua NU harus ditandai dengan gerakan kembali kepada Qanun Asasi. Sudah saatnya seluruh pengurus dan warga Nahdliyin menjadikannya sebagai kompas moral dalam berpikir, bersikap, dan bertindak. Dari situlah NU akan tetap kokoh menjaga khittah, tradisi, dan orientasi pengabdiannya kepada umat dan bangsa,” tegasnya.
Kedua tokoh juga menyoroti pentingnya memperkuat soliditas organisasi di tengah dinamika menjelang Muktamar.
KH Imam Jazuli menilai NU membutuhkan semangat baru untuk melangkah bersama, meninggalkan sekat-sekat kelompok, dan membangun kolaborasi demi kemajuan jam’iyah.
“Kami sepakat bahwa NU tidak akan menjadi besar hanya karena figur, tetapi karena kekuatan kolektif seluruh pengurus dan warganya. Semangat bergandengan tangan, bahu-membahu, dan saling menguatkan harus menjadi budaya organisasi di semua tingkatan,” katanya.
Ia menambahkan, perbedaan pandangan dalam organisasi adalah hal wajar, namun tidak boleh menghalangi persatuan. “Ke depan, semangat yang harus dibangun bukan lagi ana wal akhor (saya dan yang lain), melainkan Nahnu Nahdiyyun (kita semua adalah Nahdliyin). Kesadaran kolektif inilah yang harus menjadi fondasi gerakan bersama untuk membangkitkan NU yang lebih kuat, lebih berdaya guna, dan mampu menghadirkan peradaban yang maslahat bagi umat, bangsa, dan dunia,” ujar alumni Universitas Al-Azhar Cairo, Mesir itu.
KH Imam Jazuli menilai Gus Kikin sebagai figur yang memiliki modal kuat untuk memimpin Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada periode mendatang.
Penilaian ini didasarkan pada dinamika menjelang Muktamar ke-35 NU yang membutuhkan kepemimpinan yang mampu merangkul seluruh elemen Nahdliyin dan membawa organisasi profesional tanpa meninggalkan tradisi pesantren.
NU membutuhkan sosok pemimpin yang tidak hanya memiliki legitimasi keilmuan dan moral, tetapi juga pengalaman organisasi, kemampuan mempersatukan warga, serta kemandirian dalam mengambil keputusan.
Dalam pandangan saya, Gus Kikin memiliki modal tersebut, terangnya.
Ia menjelaskan, Gus Kikin memiliki kedekatan historis dengan NU sebagai keturunan Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari.
Namun, faktor nasab tidak cukup tanpa rekam jejak kepemimpinan yang nyata.
Nasab adalah amanah, bukan privilege. Yang terpenting adalah bagaimana nilai-nilai perjuangan para muassis diwujudkan dalam kepemimpinan yang melayani umat dan menjaga marwah jam'iyah, katanya.
KH Imam Jazuli juga menyoroti kiprah Gus Kikin sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng.
Pengalaman memimpin Tebuireng menunjukkan kapasitas manajerial sekaligus spiritual.
Dua aspek itu sangat penting ketika memimpin organisasi sebesar NU, ujarnya.
Selain pengalaman kepesantrenan, rekam jejak Gus Kikin sebagai Ketua PWNU Jawa Timur menjadi nilai tambah karena berhasil mengelola organisasi NU di wilayah dengan jumlah warga Nahdliyin terbesar di Indonesia.
Jawa Timur merupakan barometer NU.
Memimpin organisasi sebesar PWNU Jawa Timur membutuhkan kemampuan komunikasi, konsolidasi, dan penyelesaian berbagai dinamika internal.
Pengalaman tersebut menjadi bekal penting apabila diberi amanah di tingkat PBNU, jelasnya.
Kemandirian ekonomi seorang pemimpin juga dinilai penting untuk menjaga independensi organisasi.
Pemimpin yang mandiri secara ekonomi akan lebih leluasa menjaga marwah organisasi, mengambil keputusan berdasarkan kemaslahatan umat, dan tidak mudah terpengaruh oleh kepentingan-kepentingan transaksional, tuturnya.
KH Imam Jazuli menegaskan bahwa Muktamar NU bukan sekadar ajang memilih figur, melainkan momentum menentukan arah organisasi pada abad kedua NU.
Siapa pun yang terpilih harus mampu membawa NU fokus pada agenda strategis, seperti penguatan pendidikan pesantren dan sekolah NU, peningkatan layanan kesehatan, pemberdayaan ekonomi umat, transformasi tata kelola organisasi profesional, serta memperkuat peran NU sebagai mitra strategis pemerintah.
Baca juga: Jelang Muktamar NU ke-35, KH Zulfa Mustofa Nyatakan Siap Maju Jadi Calon Ketua Umum
Yang paling penting bukan siapa yang menang, tetapi bagaimana NU semakin kuat, semakin bermanfaat bagi umat, dan tetap menjadi perekat kebangsaan.
Muktamar harus menjadi ruang persatuan, bukan ruang perpecahan, tegas KH Imam Jazuli.
Ia mengajak seluruh warga Nahdlatul Ulama untuk menyambut Muktamar ke-35 dengan semangat ukhuwah dan khidmah. Mari kita jadikan Muktamar sebagai ikhtiar bersama untuk menghadirkan kepemimpinan terbaik bagi jam'iyah NU.
Perbedaan pilihan adalah bagian dari demokrasi organisasi, tetapi persaudaraan Nahdliyin harus tetap menjadi prioritas utama.
Momentum Muktamar ke-35 NU yang mudik ke kampung halaman ini harus dijadikan titik berangkat menuju kejayaan NU di abad kedua, pungkasnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang