Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bahaya Penggunaan Kantong Kresek untuk Pembungkus Daging Kurban, Ahli Gizi: Mengandung Zat Karsinogen

Kompas.com, 9 Mei 2026, 19:53 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

KOMPAS.com - Perayaan Idul Adha setiap tahun identik dengan pembagian daging kurban menggunakan kantong plastik kresek.

Namun di balik praktik yang dianggap praktis tersebut, tersimpan ancaman bagi kesehatan dan lingkungan.

Penggunaan plastik sekali pakai untuk membungkus daging kurban dinilai masih sangat masif di tengah meningkatnya kesadaran pengurangan sampah plastik.

Baca juga: Harga Sapi Kurban Naik Tajam, Warga Yogyakarta Diprediksi Beralih ke Kambing dan Domba

Karena itu, masyarakat mulai didorong beralih menggunakan wadah yang lebih aman dan ramah lingkungan saat pembagian daging kurban.

Kantong Kresek Disebut Mengandung Zat Berbahaya

Ketua Program Studi Gizi Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta, Agung Nugroho, mengatakan penggunaan kantong plastik tidak hanya berdampak terhadap lingkungan, tetapi juga berpotensi membahayakan kesehatan masyarakat.

Baca juga: Pilih Kambing Jantan atau Betina untuk Kurban? Ini Kata Ulama

Agung menjelaskan, penggunaan kantong kresek hitam atau plastik hasil daur ulang memiliki risiko kesehatan serius karena mengandung zat berbahaya.

Mengacu pada penjelasan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) tahun 2019, sebagian besar plastik kresek berasal dari daur ulang limbah produk pangan, bahan kimia, hingga pestisida.

“Kantong plastik mengandung zat karsinogen dan logam berat seperti timbal yang berisiko bagi kesehatan. Selain itu, plastik sekali pakai membutuhkan waktu sangat lama untuk terurai di alam,” kata Agung, Sabtu (9/5/2026).

Menurutnya, penggunaan kantong plastik untuk membungkus bahan makanan, termasuk daging kurban, sebaiknya mulai dikurangi demi menjaga kesehatan masyarakat sekaligus mengurangi pencemaran lingkungan.

Volume Sampah Plastik Setelah Idul Adha Diprediksi Meningkat

Di sisi lain, ratusan ton sampah plastik diperkirakan kembali muncul saat perayaan Idul Adha akibat penggunaan kantong kresek sekali pakai untuk pembagian daging kurban.

Berdasarkan data Kementerian Pertanian, jumlah hewan kurban pada 2024 mencapai 1,97 juta ekor. Sementara Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memperkirakan timbulan sampah plastik saat Idul Adha 2024 mencapai 608 ton dari sekitar 121,5 juta lembar kantong kresek.

“Momentum Idul Adha seharusnya juga menjadi sarana edukasi untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Kalau separuh umat Islam saja mulai mengurangi penggunaan kantong plastik, dampaknya akan sangat besar bagi keselamatan lingkungan,” ujarnya.

Islam Ajarkan untuk Menjaga Lingkungan

Agung menegaskan kesadaran menjaga lingkungan sebenarnya sejalan dengan nilai-nilai dalam ajaran Islam.

Ia menyebut manusia memiliki tanggung jawab sebagai khalifah di bumi untuk menjaga alam dan tidak membuat kerusakan.

Agung merujuk QS Ar-Rum ayat 41 yang menyoroti kerusakan di darat dan laut akibat ulah manusia, serta QS Al-Qasas ayat 77 yang memerintahkan manusia berbuat baik dan tidak membuat kerusakan di bumi.

“Umat Islam harus menjadi aktor utama dalam gerakan penyelamatan lingkungan. Menjaga lingkungan bukan hanya isu sosial, tetapi juga bagian dari amanah agama,” tegasnya.

Dorong Penggunaan Wadah Reusable untuk Bungkus Daging Kurban

Sebagai solusi, pemerintah dan KLHK mulai mendorong penggunaan wadah ramah lingkungan dan reusable untuk pembagian daging kurban.

Salah satu contoh penerapan dilakukan Masjid Quwatul Islam Perumnas Condongcatur yang sejak 2004 menggunakan kontainer food grade dan wadah reusable untuk distribusi daging kurban.

Wadah tersebut diberi label nama warga agar dapat dipakai kembali setiap tahun dan mengurangi timbulan sampah plastik maupun sampah organik.

“Hasilnya luar biasa. Tidak ada lagi sampah plastik maupun sampah organik pembungkus daging kurban yang menumpuk di tempat sampah,” kata Agung.

Artikel ini telah tayang di TribunJogja.com dengan judul “Pakar Gizi Unisa Ungkap Bahaya Kantong Kresek Buat Daging Kurban: Mengandung Zat Karsinogen”. 

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
 Apa Itu Riya? Pengertian, Contoh, Bahaya, dan Cara Menghindarinya
Apa Itu Riya? Pengertian, Contoh, Bahaya, dan Cara Menghindarinya
Aktual
Kemenag Siapkan 25 Calon Anggota Majelis Masyayikh Periode 2026–2031
Kemenag Siapkan 25 Calon Anggota Majelis Masyayikh Periode 2026–2031
Aktual
Qari Indonesia Muhammad Fauji Ridwan Juara I Tilawah Internasional di Kuala Lumpur
Qari Indonesia Muhammad Fauji Ridwan Juara I Tilawah Internasional di Kuala Lumpur
Aktual
5 Tantangan Penyuluh Agama Islam, dari Krisis Global, AI, hingga Perubahan Kondisi Sosial
5 Tantangan Penyuluh Agama Islam, dari Krisis Global, AI, hingga Perubahan Kondisi Sosial
Aktual
Kemenag Lakukan Rukyatulhilal Awal Jumadil Awal 1448 H, Hilal Tak Terlihat di Jakarta
Kemenag Lakukan Rukyatulhilal Awal Jumadil Awal 1448 H, Hilal Tak Terlihat di Jakarta
Aktual
Kemenhaj Pastikan Tidak Ada Jemaah Umrah Terdampak Situasi di Arab Saudi, Imbau untuk Tetap Tenang
Kemenhaj Pastikan Tidak Ada Jemaah Umrah Terdampak Situasi di Arab Saudi, Imbau untuk Tetap Tenang
Aktual
Respons Situasi di Arab Saudi, Ini Imbauan Resmi Kemenhaj untuk Jemaah Umrah
Respons Situasi di Arab Saudi, Ini Imbauan Resmi Kemenhaj untuk Jemaah Umrah
Aktual
Menhaj Minta Calon Jemaah Haji Belajar dari Mereka yang Gagal Berangkat karena Kendala Kesehatan
Menhaj Minta Calon Jemaah Haji Belajar dari Mereka yang Gagal Berangkat karena Kendala Kesehatan
Aktual
Hukum Menerima Hadiah dari Orang yang Berutang, Apakah Termasuk Riba?
Hukum Menerima Hadiah dari Orang yang Berutang, Apakah Termasuk Riba?
Aktual
Bandara Riyadh Diserang, Keselamatan Jemaah Umrah Jadi Sorotan
Bandara Riyadh Diserang, Keselamatan Jemaah Umrah Jadi Sorotan
Aktual
Doa Belum Terkabul, Apakah Berarti Allah Tidak Menjawabnya?
Doa Belum Terkabul, Apakah Berarti Allah Tidak Menjawabnya?
Aktual
Hukum Menyebarkan Chat Pribadi Tanpa Izin dalam Islam
Hukum Menyebarkan Chat Pribadi Tanpa Izin dalam Islam
Aktual
Masa Tunggu Haji di Sulteng Jadi 14 Tahun, Kuota 2027 Malah Berkurang
Masa Tunggu Haji di Sulteng Jadi 14 Tahun, Kuota 2027 Malah Berkurang
Aktual
Kemenhaj Imbau Jemaah Umrah di Arab Saudi Waspada, Ini Pesan Penting bagi yang Belum Berangkat
Kemenhaj Imbau Jemaah Umrah di Arab Saudi Waspada, Ini Pesan Penting bagi yang Belum Berangkat
Aktual
Adzan di Telinga Bayi hingga di Atas Kuburan, Bagaimana Hukumnya?
Adzan di Telinga Bayi hingga di Atas Kuburan, Bagaimana Hukumnya?
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar