Editor
KOMPAS.com - Penyuluh agama Islam menghadapi tantangan yang semakin kompleks seiring perkembangan teknologi, perubahan sosial, dan dinamika kehidupan masyarakat.
Karena itu, penyuluh perlu menguasai ilmu agama sekaligus memahami realitas agar bimbingan yang diberikan tetap relevan dengan kebutuhan warga.
Baca juga: Kemenag Siapkan Materi Edukasi untuk Penyuluh Agama Terkait Isu LGBTQ
Direktur Penerangan Agama Islam Kementerian Agama (Kemenag), Muchlis M. Hanafi, menekankan pentingnya kemampuan membaca kitab sekaligus membaca kehidupan dalam menjalankan tugas penyuluhan.
Pesan tersebut disampaikan saat kegiatan Implementasi Regulasi Kepenyuluhan Jawa Tengah Angkatan II di Aula Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Banyumas, Purwokerto.
Baca juga: 1.350 Penyuluh Agama Lolos Verifikasi Penilaian Kompetensi 2026, Siap Ikuti Tahap Selanjutnya
Muchlis memetakan lima tantangan yang perlu menjadi perhatian penyuluh agama Islam, yakni konflik global, perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI), krisis iklim, tekanan ekonomi dan budaya konsumtif, serta perubahan relasi keluarga dan kehidupan generasi muda.
“Masyarakat yang kita bimbing terus berubah. Pertanyaannya, sumber informasinya, cara belajarnya, dan persoalan hidupnya. Karena itu, penyuluh perlu terus memperbarui pengetahuan dan pendekatannya,” ujar Muchlis, Senin (12/10/2026).
Menurut dia, perubahan global tidak hanya berlangsung di tingkat internasional, tetapi juga memengaruhi kehidupan masyarakat hingga lingkungan keluarga.
Penyuluh perlu memperluas wawasan sekaligus memastikan pendampingan tetap sesuai dengan persoalan yang dihadapi warga.
“Persoalan global kini masuk ke ruang keluarga melalui layar telepon genggam. Karena itu, wawasan penyuluh harus luas, sementara pendampingannya tetap dekat dengan kebutuhan warga,” katanya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Muchlis menekankan pentingnya fiqh al-wāqi‘, yakni kemampuan memahami realitas secara cermat sebelum memberikan bimbingan.
Merujuk pemikiran Ibn al-Qayyim, ia menjelaskan bahwa penyuluh perlu memadukan pemahaman terhadap keadaan dengan penerapan tuntunan agama yang tepat.
“Jangan terlalu cepat menilai sebelum memahami keadaan. Nasihat yang benar membutuhkan pemahaman yang benar terhadap persoalan,” tegasnya.
Selain itu, penyuluh perlu mengembangkan fiqh al-taḥawwulāt, yaitu kepekaan dalam membaca proses dan arah perubahan.
Muchlis mengajak peserta mengambil pelajaran dari Hadis Jibril. Ketika ditanya tentang waktu terjadinya kiamat, Rasulullah SAW tidak menyebutkan waktunya, tetapi menjelaskan tanda-tandanya, termasuk perubahan sosial di tengah masyarakat.
“Penyuluh tidak meramal masa depan, tetapi membaca tanda-tanda perubahan dan menyiapkan bimbingan sejak awal,” ujarnya.
Muchlis menegaskan, penyuluh agama Islam memiliki peran strategis dalam mendukung Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, terutama dalam pembangunan manusia.
Peran tersebut dapat diwujudkan dengan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai gizi, kesehatan, pendidikan, dan pengasuhan anak.
Penyuluh juga dapat membantu masyarakat memperoleh informasi serta mengakses layanan pemerintah yang dibutuhkan.
Menurut Muchlis, Asta Protas Kementerian Agama yang diusung Menteri Agama Nasaruddin Umar sebagai bagian dari implementasi Asta Cita menjadi arah penguatan kerja penyuluhan.
Penekanan Menteri Agama pada kerukunan, ekoteologi, dan nilai-nilai cinta perlu diterjemahkan menjadi pendampingan yang dekat dengan kebutuhan masyarakat.
“Kebijakan baru bermakna ketika sampai dan dirasakan di tingkat desa. Di situlah penyuluh berdiri,” ungkapnya.
Dalam penerapan ekoteologi, Muchlis mengajak penyuluh membangun kebiasaan ramah lingkungan melalui tindakan sederhana.
Langkah tersebut meliputi menghemat air saat berwudu, memilah sampah di masjid, mengurangi makanan terbuang dalam kegiatan keagamaan, serta menanam dan merawat pohon.
Menurutnya, kepedulian terhadap alam merupakan tanggung jawab keimanan yang perlu diwujudkan dalam perilaku sehari-hari.
Muchlis juga mendorong penyuluh mengadaptasi nilai Panca Cinta dalam Kurikulum Berbasis Cinta yang diusung Menteri Agama Nasaruddin Umar.
Kelima nilai tersebut mencakup cinta Allah dan Rasul-Nya, cinta ilmu, cinta lingkungan, cinta diri dan sesama manusia, serta cinta tanah air.
Nilai-nilai tersebut perlu tercermin dalam materi penyuluhan maupun cara penyuluh mendengarkan, berdialog, mengingatkan, dan mendampingi masyarakat.
“Tegas dalam prinsip, bijak dalam pendekatan,” pesannya.
Sebagai langkah konkret, Muchlis mengajak peserta menjalankan program “Satu Penyuluh, Satu Aksi Cinta”.
Melalui program ini, setiap penyuluh diminta memilih satu kebutuhan di wilayah binaannya, melakukan pendampingan selama satu bulan, serta mencatat perubahan dan kendala yang muncul sebagai bahan evaluasi.
Muchlis berharap penyuluh agama Islam terus memperkuat perannya sebagai penghubung antara tuntunan agama dan kehidupan masyarakat melalui dakwah yang mencerdaskan, menenteramkan, dan menumbuhkan kepedulian.
“Penyuluh agama Islam adalah penghubung antara tuntunan agama dan kehidupan masyarakat. Dari Banyumas, kita kuatkan dakwah yang mencerdaskan, menenteramkan, dan menumbuhkan kepedulian,” pungkasnya.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.