Editor
KOMPAS.com — Menghadapi ancaman krisis pangan membutuhkan persiapan sebelum masa sulit datang.
Pelajaran tersebut tergambar dalam kisah Nabi Yusuf yang memberikan arahan kepada kerajaan Mesir untuk menghadapi tujuh tahun paceklik.
Muhammad Zainul Mujahid, alumnus Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Situbondo yang kini mengabdi di Pondok Pesantren Manhalul Ma’arif, menjelaskan bahwa Nabi Yusuf tidak hanya membaca pertanda krisis, tetapi juga menawarkan langkah untuk menghadapinya.
“Nabi Yusuf tidak hanya membaca tanda-tanda yang akan terjadi, tetapi juga menawarkan langkah antisipasi,” kata Zainul dikutip dari NU Online, Minggu (4/10/2026).
Baca juga: 5 Doa Nabi Yusuf agar Wajah Bercahaya dan Dijaga dari Fitnah
Menurutnya, kisah Nabi Yusuf mengajarkan pentingnya mengendalikan konsumsi, menyiapkan cadangan pangan, dan menjaga hasil panen agar dapat digunakan pada masa sulit.
Zainul menjelaskan, kisah tersebut bermula ketika raja Mesir bermimpi melihat tujuh sapi gemuk dimakan tujuh sapi kurus.
Raja juga melihat tujuh bulir gandum hijau dan tujuh bulir lainnya yang kering.
Raja kemudian meminta penjelasan mengenai mimpi tersebut. Namun, orang-orang yang dimintai pendapat tidak mampu memberikan penafsiran yang meyakinkan.
Seorang pelayan raja yang pernah berada di penjara bersama Nabi Yusuf kemudian teringat akan kemampuannya menakwilkan mimpi. Ia menemui Nabi Yusuf untuk menanyakan makna mimpi raja.
Nabi Yusuf menjelaskan bahwa Mesir akan mengalami tujuh tahun masa subur, kemudian disusul tujuh tahun masa sulit.
Penjelasan itu disertai arahan agar masyarakat memanfaatkan masa subur untuk bercocok tanam dan menyiapkan persediaan pangan.
Baca juga: Kisah Nabi Yusuf, Ketika Iman Mengalahkan Nafsu dan Kekuasaan
Arahan Nabi Yusuf diabadikan dalam Surat Yusuf ayat 47–49. Dalam ayat tersebut, masyarakat diminta bercocok tanam selama tujuh tahun berturut-turut dan menyimpan hasil panen di tangkainya, kecuali sebagian kecil untuk dimakan.
Persediaan itu kemudian digunakan untuk menghadapi tujuh tahun paceklik. Setelah masa sulit tersebut, datang tahun ketika manusia kembali memperoleh hujan dan dapat mengolah hasil pertanian.
Zainul merujuk penjelasan Muhammad Sayyid Thanthawi dalam At-Tafsirul Wasith lil Qur’anil Karim.
Menurut penjelasan tafsir tersebut, Nabi Yusuf tidak sekadar menakwilkan mimpi, tetapi juga memberikan nasihat mengenai tindakan yang perlu dilakukan.
Dengan demikian, pengetahuan tentang ancaman krisis diikuti langkah persiapan untuk melindungi masyarakat.
Menurut Zainul, terdapat dua langkah penting dalam strategi Nabi Yusuf. Pertama, mengendalikan konsumsi selama masa subur agar sebagian hasil panen dapat disimpan.
Kedua, menyimpan gandum tetap pada bulir atau tangkainya untuk menjaga kualitasnya selama penyimpanan.
“Petunjuk Nabi Yusuf ini, selain mengajarkan masyarakat mengendalikan konsumsi, juga mengajarkan tentang seni bertahan hidup dengan cara menyimpan makanan agar tetap awet dan tahan lama,” ujarnya.
Zainul juga merujuk penjelasan Ibnu Asyur dalam At-Tahrir wat Tanwir. Dalam tafsir tersebut, penyimpanan gandum pada bulirnya dijelaskan sebagai upaya melindungi biji-bijian dari hama.
Pengurangan konsumsi pada masa subur memungkinkan masyarakat menyisihkan persediaan untuk digunakan ketika produksi pangan terganggu.
Zainul menilai kisah Nabi Yusuf relevan dengan kebutuhan mengantisipasi gangguan produksi pertanian dan ketidakpastian ekonomi.
Sebagai konteks, BMKG memprediksi El Niño bertahan hingga awal 2027. Informasi tersebut menjadi salah satu dasar untuk meningkatkan kesiapsiagaan terhadap kondisi iklim.
Menurut Zainul, kisah Nabi Yusuf memperlihatkan pentingnya pemimpin yang mampu membaca ancaman sekaligus menyiapkan kebijakan untuk menghadapi krisis.
“Pemerintah diharapkan mampu membuat kebijakan yang memperkuat ketahanan pangan, menjaga ketersediaan bahan pokok, memperkuat sektor pertanian serta memastikan masyarakat tetap memiliki akses terhadap pangan ketika terjadi gangguan produksi,” katanya.
Sementara itu, masyarakat dapat mengambil pelajaran untuk menghindari perilaku konsumtif dan menyisihkan sebagian sumber daya sebagai persiapan menghadapi kondisi yang tidak menentu.
Bagi Zainul, kesiapan menghadapi masa sulit perlu dibangun ketika keadaan masih memungkinkan, sebagaimana Nabi Yusuf mengarahkan masyarakat menyiapkan cadangan pada masa subur.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.