Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Belajar dari Nabi Yusuf, Kendalikan Krisis Ekonomi dan Pangan

Kompas.com, 4 Oktober 2026, 13:04 WIB
Reni Susanti

Editor


KOMPAS.com — Menghadapi ancaman krisis pangan membutuhkan persiapan sebelum masa sulit datang.

Pelajaran tersebut tergambar dalam kisah Nabi Yusuf yang memberikan arahan kepada kerajaan Mesir untuk menghadapi tujuh tahun paceklik.

Muhammad Zainul Mujahid, alumnus Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Situbondo yang kini mengabdi di Pondok Pesantren Manhalul Ma’arif, menjelaskan bahwa Nabi Yusuf tidak hanya membaca pertanda krisis, tetapi juga menawarkan langkah untuk menghadapinya.

“Nabi Yusuf tidak hanya membaca tanda-tanda yang akan terjadi, tetapi juga menawarkan langkah antisipasi,” kata Zainul dikutip dari NU Online, Minggu (4/10/2026).

Baca juga: 5 Doa Nabi Yusuf agar Wajah Bercahaya dan Dijaga dari Fitnah

Menurutnya, kisah Nabi Yusuf mengajarkan pentingnya mengendalikan konsumsi, menyiapkan cadangan pangan, dan menjaga hasil panen agar dapat digunakan pada masa sulit.

Bermula dari mimpi raja Mesir

Zainul menjelaskan, kisah tersebut bermula ketika raja Mesir bermimpi melihat tujuh sapi gemuk dimakan tujuh sapi kurus.

Raja juga melihat tujuh bulir gandum hijau dan tujuh bulir lainnya yang kering.

Raja kemudian meminta penjelasan mengenai mimpi tersebut. Namun, orang-orang yang dimintai pendapat tidak mampu memberikan penafsiran yang meyakinkan.

Seorang pelayan raja yang pernah berada di penjara bersama Nabi Yusuf kemudian teringat akan kemampuannya menakwilkan mimpi. Ia menemui Nabi Yusuf untuk menanyakan makna mimpi raja.

Nabi Yusuf menjelaskan bahwa Mesir akan mengalami tujuh tahun masa subur, kemudian disusul tujuh tahun masa sulit.

Penjelasan itu disertai arahan agar masyarakat memanfaatkan masa subur untuk bercocok tanam dan menyiapkan persediaan pangan.

Baca juga: Kisah Nabi Yusuf, Ketika Iman Mengalahkan Nafsu dan Kekuasaan

Menyiapkan cadangan sebelum paceklik

Arahan Nabi Yusuf diabadikan dalam Surat Yusuf ayat 47–49. Dalam ayat tersebut, masyarakat diminta bercocok tanam selama tujuh tahun berturut-turut dan menyimpan hasil panen di tangkainya, kecuali sebagian kecil untuk dimakan.

Persediaan itu kemudian digunakan untuk menghadapi tujuh tahun paceklik. Setelah masa sulit tersebut, datang tahun ketika manusia kembali memperoleh hujan dan dapat mengolah hasil pertanian.

Zainul merujuk penjelasan Muhammad Sayyid Thanthawi dalam At-Tafsirul Wasith lil Qur’anil Karim.

Menurut penjelasan tafsir tersebut, Nabi Yusuf tidak sekadar menakwilkan mimpi, tetapi juga memberikan nasihat mengenai tindakan yang perlu dilakukan.

Dengan demikian, pengetahuan tentang ancaman krisis diikuti langkah persiapan untuk melindungi masyarakat.

Mengendalikan konsumsi dan menjaga hasil panen

Menurut Zainul, terdapat dua langkah penting dalam strategi Nabi Yusuf. Pertama, mengendalikan konsumsi selama masa subur agar sebagian hasil panen dapat disimpan.

Kedua, menyimpan gandum tetap pada bulir atau tangkainya untuk menjaga kualitasnya selama penyimpanan.

“Petunjuk Nabi Yusuf ini, selain mengajarkan masyarakat mengendalikan konsumsi, juga mengajarkan tentang seni bertahan hidup dengan cara menyimpan makanan agar tetap awet dan tahan lama,” ujarnya.

Zainul juga merujuk penjelasan Ibnu Asyur dalam At-Tahrir wat Tanwir. Dalam tafsir tersebut, penyimpanan gandum pada bulirnya dijelaskan sebagai upaya melindungi biji-bijian dari hama.

Pengurangan konsumsi pada masa subur memungkinkan masyarakat menyisihkan persediaan untuk digunakan ketika produksi pangan terganggu.

Pelajaran bagi pemerintah dan masyarakat

Zainul menilai kisah Nabi Yusuf relevan dengan kebutuhan mengantisipasi gangguan produksi pertanian dan ketidakpastian ekonomi.

Sebagai konteks, BMKG memprediksi El Niño bertahan hingga awal 2027. Informasi tersebut menjadi salah satu dasar untuk meningkatkan kesiapsiagaan terhadap kondisi iklim.

Menurut Zainul, kisah Nabi Yusuf memperlihatkan pentingnya pemimpin yang mampu membaca ancaman sekaligus menyiapkan kebijakan untuk menghadapi krisis.

“Pemerintah diharapkan mampu membuat kebijakan yang memperkuat ketahanan pangan, menjaga ketersediaan bahan pokok, memperkuat sektor pertanian serta memastikan masyarakat tetap memiliki akses terhadap pangan ketika terjadi gangguan produksi,” katanya.

Sementara itu, masyarakat dapat mengambil pelajaran untuk menghindari perilaku konsumtif dan menyisihkan sebagian sumber daya sebagai persiapan menghadapi kondisi yang tidak menentu.

Bagi Zainul, kesiapan menghadapi masa sulit perlu dibangun ketika keadaan masih memungkinkan, sebagaimana Nabi Yusuf mengarahkan masyarakat menyiapkan cadangan pada masa subur.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Olah Eceng Gondok, Lulusan UIN Bandung Terpilih Belajar di Inggris
Olah Eceng Gondok, Lulusan UIN Bandung Terpilih Belajar di Inggris
Aktual
Kemenag: 4,63 Juta Santri Terverifikasi, Bukan Angka Final Jumlah Santri Nasional
Kemenag: 4,63 Juta Santri Terverifikasi, Bukan Angka Final Jumlah Santri Nasional
Aktual
Belajar dari Nabi Yusuf, Kendalikan Krisis Ekonomi dan Pangan
Belajar dari Nabi Yusuf, Kendalikan Krisis Ekonomi dan Pangan
Aktual
'Hanya Bercanda' Bukan Alasan Menyakiti Orang Lain, Ini Batasannya dalam Islam
"Hanya Bercanda" Bukan Alasan Menyakiti Orang Lain, Ini Batasannya dalam Islam
Aktual
Di Madrasah Fakfak, Buku dan Listrik Terbatas, Ada Kelas Tanpa Papan Tulis
Di Madrasah Fakfak, Buku dan Listrik Terbatas, Ada Kelas Tanpa Papan Tulis
Aktual
Anggota DPR Usulkan Sex Toy di Lapas, MUI: Haram
Anggota DPR Usulkan Sex Toy di Lapas, MUI: Haram
Aktual
Menag Ajak Masyarakat Jadi Agen Perlinsos, Ini Cara Daftarnya
Menag Ajak Masyarakat Jadi Agen Perlinsos, Ini Cara Daftarnya
Aktual
Kiai Adrian La Tansa: Membangun Keluarga Perlu Kerja Sama Suami Istri
Kiai Adrian La Tansa: Membangun Keluarga Perlu Kerja Sama Suami Istri
Aktual
MUI Tegaskan 'Sex Toy' bagi Warga Binaan Lapas Hukumnya Haram
MUI Tegaskan "Sex Toy" bagi Warga Binaan Lapas Hukumnya Haram
Aktual
Rekrutmen Pejabat Publik dalam Islam: Prinsip, Kriteria, dan Dalilnya
Rekrutmen Pejabat Publik dalam Islam: Prinsip, Kriteria, dan Dalilnya
Aktual
Penjelasan Mati Syahid dalam Islam: Pengertian, Jenis Penyebab, dan Dalilnya
Penjelasan Mati Syahid dalam Islam: Pengertian, Jenis Penyebab, dan Dalilnya
Aktual
Kiai Imjaz Masuk Syuriyah PBNU, Siap Kawal Penguatan Otoritas Ulama dan Transformasi Pesantren
Kiai Imjaz Masuk Syuriyah PBNU, Siap Kawal Penguatan Otoritas Ulama dan Transformasi Pesantren
Aktual
Shalat Istikharah: Dalil, Niat, Tata Cara, Waktu, Doa, dan Keutamaannya
Shalat Istikharah: Dalil, Niat, Tata Cara, Waktu, Doa, dan Keutamaannya
Doa dan Niat
MUI dan Forum Abu Dhabi Bahas Penguatan Islam Wasathiyyah dan Perdamaian Dunia
MUI dan Forum Abu Dhabi Bahas Penguatan Islam Wasathiyyah dan Perdamaian Dunia
Aktual
Kuota Haji Pakistan 2027 Skema Pemerintah Sudah Penuh, 107.526 Jemaah Terdaftar
Kuota Haji Pakistan 2027 Skema Pemerintah Sudah Penuh, 107.526 Jemaah Terdaftar
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar