Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Menag Ajak Hijrah dari Curiga ke Saling Percaya di Tahun Baru Islam

Kompas.com, 15 Juni 2026, 17:31 WIB
Khairina

Editor

Sumber Kemenag

KOMPAS.com - Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak umat Islam dan seluruh masyarakat Indonesia memaknai Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriah sebagai momentum hijrah.

Menag menyampaikan pesan tersebut menjelang pergantian Tahun Baru Islam 1448 H di Jakarta, Senin (15/6/2026).

Menurut Menag, hijrah perlu diwujudkan melalui sikap saling percaya, menjaga persatuan, memperkuat kepedulian, dan mengabdi bagi bangsa serta kemanusiaan.

Ia juga mengajak masyarakat memulai perubahan dari diri sendiri agar nilai hijrah tidak berhenti sebagai peringatan tahunan.

Baca juga: Menag Ajak Umat Islam Maknai Tahun Baru Hijriah 1448 H dengan Semangat Kasih Sayang

Hijrah dari curiga ke saling percaya

Menag mengatakan, Tahun Baru Islam menjadi pengingat untuk memperbaiki kualitas diri dan hubungan sosial.

Menurut dia, hijrah tidak hanya dimaknai sebagai perpindahan tempat, tetapi juga perubahan sikap menuju kehidupan yang lebih baik.

“Hijrah mengajak kita untuk berpindah dari sikap saling curiga menuju saling percaya, dari perpecahan menuju persatuan, dari sikap apatis menuju kepedulian, serta dari orientasi pada kepentingan pribadi menuju pengabdian yang lebih luas bagi masyarakat, bangsa, dan kemanusiaan,” ujar Menag di Jakarta, Senin (15/6/2026).

Pesan tersebut disampaikan Menag dalam konteks kehidupan masyarakat yang menghadapi berbagai tantangan sosial dan perbedaan pandangan.

Perkuat dialog dan toleransi

Menag juga mengajak masyarakat memperkuat dialog, toleransi, dan persaudaraan kebangsaan.

Menurut dia, nilai-nilai tersebut merupakan bentuk nyata dari semangat hijrah dalam menghadapi perubahan zaman.

"Di tengah era disrupsi yang ditandai oleh menguatnya sikap individualistik, perbedaan pandangan, dan berbagai tantangan sosial yang kompleks, nilai-nilai hijrah perlu kita wujudkan dalam bentuk kesediaan untuk membangun dialog, memperkuat toleransi, dan merawat persaudaraan kebangsaan," tegas Menag.

Menag menilai perbedaan tidak seharusnya menjadi sumber perpecahan.

Sebaliknya, perbedaan dapat menjadi kekuatan apabila dikelola untuk kemaslahatan bersama.

“Bangsa yang besar bukanlah bangsa yang bebas dari perbedaan, melainkan bangsa yang mampu menjadikan perbedaan sebagai kekuatan untuk melangkah demi kemaslahatan bersama,” lanjutnya.

Baca juga: Menag Dorong Pesantren Tampil Menjawab Tantangan Masa Depan

Teladani hijrah Rasulullah SAW

Menag mengatakan, semangat hijrah juga menjadi bentuk peneladanan atas peristiwa hijrah Rasulullah SAW.

Peristiwa tersebut diperingati umat Islam dalam momentum Tahun Baru Hijriah.

Menurut Menag, hijrah Rasulullah SAW mengajarkan bahwa kemajuan peradaban tidak hanya ditopang kekuatan dan kecakapan.

Kemajuan juga membutuhkan persaudaraan, keadilan, serta kepedulian terhadap kemaslahatan bersama.

Perubahan dimulai dari diri sendiri

Menag mengajak masyarakat memulai perubahan dari diri sendiri.

Menurut dia, masa depan lahir dari keberanian untuk berubah, bukan hanya dari harapan.

Pesan itu sejalan dengan firman Allah dalam Surah Ar-Ra’d ayat 11 bahwa Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.

“Semangat hijrah adalah semangat untuk terus bertumbuh, memperbaiki kualitas diri, memperkuat integritas, serta menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi sesama. Dengan semangat itu, umat akan semakin kuat menghadapi berbagai tantangan zaman dan semakin mampu berkontribusi bagi kemajuan bangsa,” ungkapnya.

Menag ucapkan Selamat Tahun Baru Islam

Menag juga menyampaikan ucapan Selamat Tahun Baru 1 Muharam 1448 Hijriah kepada masyarakat Indonesia.

Ia berharap Tahun Baru Islam membawa rahmat dan keberkahan bagi bangsa Indonesia.

“Atas nama Menteri Agama Republik Indonesia, saya, Nasaruddin Umar, mengucapkan Selamat Tahun Baru 1 Muharam 1448 Hijriah. Semoga Allah SWT senantiasa membimbing setiap langkah kita, melimpahkan rahmat dan keberkahan-Nya kepada bangsa Indonesia,” tutup Menag.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com