Editor
KOMPAS.com - Bulan Safar merupakan bulan kedua dalam kalender Hijriah setelah Muharam.
Menjelang pergantian bulan, banyak umat Islam mencari informasi mengenai kapan 1 Safar 1448 Hijriah dimulai berdasarkan ketetapan pemerintah, Nahdlatul Ulama (NU), dan Muhammadiyah.
Selain itu, Safar juga memiliki sejarah penamaan yang menarik sekaligus sering dikaitkan dengan mitos sebagai bulan pembawa kesialan.
Baca juga: 3 Amalan Bulan Safar yang Dianjurkan dalam Islam Lengkap dengan Dalilnya
Padahal, Islam telah menegaskan bahwa anggapan tersebut tidak memiliki dasar dalam syariat.
Dilansir dari Baznas Kota Semarang, awal bulan Safar 1448 Hijriah pada 2026 memiliki perbedaan penetapan antara pemerintah, NU, dan Muhammadiyah. Berikut jadwal awal Safar 1448 Hijriah:
Meski terdapat perbedaan penetapan awal bulan, ketiga kalender tersebut sama-sama menunjukkan bahwa 29 Safar 1448 H bertepatan dengan Kamis, 13 Agustus 2026.
Setelah itu, umat Islam akan memasuki bulan Rabiul Awal, yang dikenal sebagai bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Mengutip penjelasan Majelis Ulama Indonesia (MUI), kata Safar berasal dari kata shafar yang berarti "kosong" atau shufrah yang berarti "warna kuning", sebagaimana dijelaskan dalam kitab Lisanul 'Arab karya Ibnu Mandzur.
Nama tersebut berkaitan dengan kebiasaan masyarakat Arab pada masa lampau yang meninggalkan kampung halaman untuk berperang atau melakukan perjalanan jauh sehingga permukiman mereka menjadi kosong.
Keterangan serupa juga dijelaskan dalam kitab Al-Mufasshal fi Tarikhil 'Arab Qablal Islam. Dalam kitab tersebut disebutkan istilah Shafira an-Nasu minna shafaran, yang menggambarkan kondisi sebuah kampung yang ditinggalkan penduduknya.
Pada masa Arab Jahiliyah, sebagian masyarakat meyakini bulan Safar sebagai bulan yang membawa kesialan. Karena keyakinan tersebut, mereka menghindari berbagai aktivitas penting, seperti bepergian, menikah, maupun memulai pekerjaan.
Islam kemudian meluruskan kepercayaan tersebut melalui hadis Rasulullah SAW. Dalam hadis riwayat Imam Muslim, Nabi Muhammad SAW bersabda:
"Tidak ada penyakit yang menular secara sendirinya tanpa izin Allah, tidak ada hantu bergentayangan dan tidak ada shafar." (HR Muslim)
Sementara itu, dalam hadis riwayat Imam Bukhari, Rasulullah SAW juga menegaskan bahwa keyakinan masyarakat Jahiliyah mengenai kesialan bulan Safar tidak benar.
Beliau menjelaskan bahwa seluruh peristiwa terjadi atas kehendak Allah SWT, bukan karena adanya bulan tertentu yang membawa sial.
Dalam ajaran Islam, tidak ada bulan yang dianggap membawa nasib buruk atau kemalangan.
Safar memiliki kedudukan yang sama dengan bulan-bulan Hijriah lainnya sebagai bagian dari ciptaan Allah SWT.
Karena itu, umat Islam tidak perlu merasa khawatir menjalankan berbagai aktivitas, termasuk bekerja, bepergian, maupun melangsungkan pernikahan pada bulan Safar. Yang dianjurkan adalah mengisi bulan tersebut dengan amal saleh, memperbanyak ibadah, dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang