Editor
KOMPAS.com - Berikut adalah teks Khutbah Jumat tentang anjuran menyalurkan infaq untuk membantu korban bencana alam sebagai ladang keberkahan, seperti disusun dari teks khutbah pada laman Muhammadiyah.
Baca juga: Imbauan Muhammadiyah: Infak Shalat Jumat 21 Agustus 2026 Disalurkan untuk Korban Gempa Flores
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نبينا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ
عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَتَقْوَى اللَّهِ فَوْزٌ لَنَا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Saat ini, hati kita tersentak dan jiwa kita teruji oleh musibah gempa yang melanda saudara kita di NTT. Kita menyaksikan melalui berita dan laporan, betapa dalamnya luka yang dialami saudara-saudara kita.
Inilah momen krusial, di mana ajaran Islam datang menghadirkan solusi yang menyelamatkan, yaitu melalui amalan Infaq.
Infaq bukan sekadar transfer materi, melainkan sebuah amalan yang meneguhkan solidaritas sosial kita sebagai umat, sekaligus memperkuat keteguhan iman kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sebagaimana dijelaskan dalam Fikih Zakat Kontemporer, kata infāq (إِنفَاق) secara etimologi berasal dari kata nafaqa yang bermakna “habis” atau “berlalu”, karena ia adalah harta yang dikeluarkan. Namun, secara terminologi, para ulama mendefinisikannya dengan indah sebagai: “Perbuatan atau sesuatu yang diberikan kepada orang lain untuk menutupi kebutuhannya, dilakukan dengan ikhlas karena Allah semata.”
Hukum dasar infaq memang sunnah, tetapi dapat berubah menjadi kewajiban sosial atau fardhu kifayah bagi masyarakat. Kondisi darurat, seperti bencana alam yang sedang menimpa mereka merupakan salah satu keadaan yang dapat mengangkat status hukum infaq menjadi sangat mendesak dan utama bagi setiap yang mampu.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Penting untuk kita pahami dan yakini, infaq bukanlah tindakan yang mengurangi harta. Dalam Fikih Zakat Kontemporer ditegaskan bahwa syariat menjanjikan keberuntungan dan rezeki yang bertambah bagi orang yang berinfak. Infaq tidak membuat seseorang miskin—sebaliknya, infaq menjadi pintu rezeki dan jalan menuju keberkahan abadi. Ia adalah investasi akhirat yang hasilnya pasti dan berlipat ganda.
Landasan keyakinan ini kita dapati dengan jelas dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam QS. al-Baqarah ayat 261:
مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ
“Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, dan tiap bulir berisi seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki.”
Ayat yang agung ini menegaskan bahwa pahala infaq dilipatgandakan hingga ratusan kali lipat. Infaq yang kita keluarkan untuk menolong sesama di tengah musibah ini adalah bekal terkuat yang kita siapkan untuk kehidupan setelah dunia fana ini.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Al-Qur’an mengulang perintah berinfaq di berbagai tempat sebagai peringatan keras bagi kita. Salah satunya adalah dalam QS. Al-Munafiqun ayat 10, di mana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَأَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ
“Belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kalian.”
Ayat ini mengandung peringatan yang menghujam: waktu untuk berbuat baik dan beramal saleh tidak selamanya terbuka. Situasi bencana yang menuntut bantuan segera menjadikan infaq kita sebagai tindakan yang bukan hanya penting, tetapi sangat mendesak, mencegah penyesalan di kemudian hari ketika kesempatan beramal telah tertutup.
Lebih lanjut, infaq adalah kebaikan yang kembali kepada diri sendiri, sebagaimana disebutkan dalam QS. at-Taghabun ayat 16:
فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَأَنْفِقُوا خَيْرًا لِأَنْفُسِكُمْ
“Bertakwalah kepada Allah semampu kalian, dengarkanlah, taatilah, dan berinfaqlah; itu lebih baik bagi diri kalian sendiri.”
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Kondisi bencana yang menimpa saudara kita, di mana kebutuhan sosial mencapai titik kritis—logistik terbatas, warga kehilangan harta, dan pemulihan membutuhkan sumber daya masif—adalah panggung nyata bagi kita untuk mengimplementasikan ayat-ayat tersebut. Infaq dalam keadaan ini mewujudkan tiga fungsi utama:
Sarana menolong sesama yang sedang mengalami kesulitan terbesar dalam hidupnya.
Instrumen pemulihan sosial dan penerapan prinsip ta‘āwun (saling tolong-menolong) yang merupakan inti dari ajaran Islam.
Bentuk pengabdian ikhlas kepada Allah, menutupi kebutuhan orang lain demi mengharapkan keridhaan-Nya.
Oleh karena itu, jangan pernah merasa kecil hati dengan jumlah yang kita berikan. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat at-Thalaq ayat 7 memastikan bahwa semua pintu infaq terbuka bagi siapa pun:
لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ
“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya, dan barang siapa disempitkan rezekinya, hendaklah ia memberi dari apa yang Allah berikan kepadanya.”
Pintu infaq terbuka bagi setiap tingkatan kemampuan. Di tengah musibah yang dahsyat, sekecil apa pun bantuan kita memiliki arti yang sangat besar bagi korban yang kehilangan tempat tinggal dan harapan.
Mari kita jadikan musibah ini sebagai ladang amal dan ujian keimanan, dengan bersegera mengeluarkan infaq terbaik kita, demi membantu saudara kita dan meraih keberkahan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَـٰلَمِينَ وَصَلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَىٰ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ
عِبَادَ اللَّهِ اتَّقُوا اللَّـهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Marilah kita tutup ibadah Jumat kita hari ini dengan berdoa kepada Allah Swt.
إِنَّ اللّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ وَرَضِيَ اللّهُ تَعَالَى عَنْ كُلِّ صَحَابَةِ رَسُوْلِ اللّهِ أَجْمَعِينَ
اللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ
اللّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
رَبَّنَا آتِنا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT