Editor
KOMPAS.com - Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi momentum bagi umat Islam untuk mengenang kelahiran Rasulullah sekaligus mengambil pelajaran dari akhlak dan perjuangannya.
Maulid Nabi umumnya diperingati pada 12 Rabiul Awal dengan berbagai kegiatan keagamaan dan sosial di tengah masyarakat.
Baca juga: Maulid Nabi: Sejarah, Makna, dan Tradisi Peringatannya di Indonesia
Di Indonesia, peringatan Maulid Nabi hadir dalam bentuk pengajian, pembacaan selawat, zikir, pembacaan sejarah Nabi hingga kegiatan sosial.
Lebih dari sekadar perayaan, Maulid Nabi dapat menjadi kesempatan untuk memperkuat kecintaan kepada Rasulullah dan menerapkan keteladanannya dalam kehidupan sehari-hari.
Baca juga: Contoh Ucapan Maulid Nabi Muhammad SAW yang Menyentuh, Penuh Makna dan Doa
Salah satu hikmah utama memperingati Maulid Nabi adalah menumbuhkan dan memperkuat rasa cinta kepada Nabi Muhammad SAW.
Melalui pembacaan kisah kehidupan dan perjuangan Rasulullah, umat Islam dapat mengenal lebih dekat sosok yang menjadi teladan dalam menjalankan kehidupan.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyebut peringatan Maulid dapat menjadi sarana menanamkan kecintaan kepada Rasulullah lintas generasi. Kecintaan tersebut diharapkan mendorong umat untuk mengikuti ajaran dan keteladanan beliau.
Maulid Nabi juga menjadi pengingat agar umat Islam tidak hanya mengenal sejarah Rasulullah, tetapi berusaha menerapkan akhlaknya dalam kehidupan sehari-hari.
Al Quran dalam Surah Al-Ahzab ayat 21 menyebut Rasulullah sebagai uswah hasanah atau teladan yang baik bagi orang-orang yang berharap kepada Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah.
Keteladanan tersebut dapat diterapkan melalui sikap jujur, sabar, amanah, adil, penyayang dan peduli terhadap sesama.
Peringatan Maulid Nabi dapat menjadi momentum untuk melakukan refleksi dan memperkuat keimanan kepada Allah SWT serta Rasul-Nya.
MUI pada peringatan Maulid Nabi 2024 mengingatkan agar momentum tersebut digunakan untuk meningkatkan keimanan sekaligus mengenal lebih baik sikap dan kepribadian Rasulullah SAW.
Dengan demikian, peringatan Maulid tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi dapat menjadi dorongan untuk memperbaiki ibadah dan perilaku.
Kisah perjuangan Nabi Muhammad SAW dalam menyampaikan ajaran Islam dapat menjadi pelajaran bagi umat dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
Dalam kegiatan Maulid, kisah atau sirah nabawiyah sering dibacakan agar masyarakat kembali mengingat perjalanan hidup, perjuangan dan keteladanan Rasulullah.
Dari kisah tersebut, umat dapat mempelajari pentingnya kesabaran, keteguhan hati dan keberanian dalam mempertahankan kebenaran.
Maulid Nabi juga menjadi kesempatan bagi umat Islam untuk memperbanyak selawat kepada Nabi Muhammad SAW.
Di berbagai daerah, peringatan Maulid diisi dengan pembacaan selawat dan syair yang berisi pujian kepada Rasulullah. Tradisi tersebut menjadi salah satu bentuk ungkapan kecintaan kepada Nabi.
Selain menjadi bagian dari kegiatan keagamaan, selawat dapat menjadi pengingat agar umat semakin mengenal dan mencintai Rasulullah.
Peringatan Maulid Nabi umumnya dilakukan secara bersama-sama sehingga dapat menjadi sarana mempererat hubungan antarsesama.
Masyarakat dapat berkumpul dalam kegiatan pengajian, pembacaan selawat, doa bersama, makan bersama hingga kegiatan berbagi kepada mereka yang membutuhkan.
Kegiatan tersebut dapat memperkuat kepedulian sosial sekaligus menjaga hubungan baik di tengah masyarakat.
Hikmah penting dari peringatan Maulid adalah menjadikan keteladanan Rasulullah sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Kementerian Agama dalam salah satu kegiatan peringatan Maulid pada 2025 menekankan bahwa Maulid seharusnya tidak hanya menjadi seremoni, tetapi menjadi momentum untuk mengambil hikmah dari perjuangan Rasulullah, memperbanyak selawat dan meneladani akhlaknya.
Karena itu, peringatan Maulid dapat dijadikan waktu untuk mengevaluasi diri, mulai dari hubungan dengan Allah, keluarga, lingkungan hingga masyarakat.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW memiliki bentuk yang beragam di tengah masyarakat. Perbedaan tradisi tersebut tidak mengubah tujuan utama yang ingin diambil, yakni mengenang Rasulullah dan menjadikan kehidupannya sebagai bahan pembelajaran.
Bagi umat Islam, momentum ini dapat diisi dengan kegiatan yang memperkuat ibadah, memperbanyak selawat, mempelajari sejarah Nabi, memperbaiki akhlak dan meningkatkan kepedulian terhadap sesama.
Dengan demikian, hikmah Maulid Nabi tidak hanya dirasakan ketika peringatan berlangsung, tetapi juga melalui perubahan sikap dan perilaku setelahnya.
Keteladanan Rasulullah diharapkan dapat terus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Melalui momentum Maulid, umat Islam dapat memperkuat kecintaan kepada Nabi sekaligus menjadikan akhlak dan perjuangannya sebagai pedoman.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT