Editor
KOMPAS.com - Maulid Nabi menjadi salah satu momentum bagi umat Islam untuk mengungkapkan kecintaan kepada Rasulullah SAW sekaligus mengenang kelahirannya pada bulan Rabiul Awwal.
Salah satunya dengan mengambil hikmah dari kisah para pengikut Nabi Muhammad SAW di masa terdahulu.
Sebuah kisah dalam kitab I‘anatut Thalibin menceritakan seorang pemuda Bashrah yang dikenal sebagai pendosa, tetapi memiliki kecintaan mendalam kepada Nabi Muhammad SAW melalui peringatan Maulid Nabi.
Baca juga: Khutbah Jumat 14 Agustus 2026: Rabiul Awal, Bulan Maulid Nabi
Dilansir dari laman Kemenag, kisah tersebut diceritakan oleh Syekh Abu Bakar bin Muhammad Syatha Ad-Dimyathi dalam kitab I‘anatut Thalibin (Kairo, Mustafal Babil Halabi: 1356 H), juz III, halaman 365.
Baca juga: Kapan Libur Maulid Nabi 2026? Cek Tanggal dan Potensi Cuti Long Weekend
Dikisahkan, pada masa Khalifah Harun ar-Rasyid, terdapat seorang pemuda di Bashrah yang dikenal masyarakat sebagai pendosa. Perilakunya yang dinilai buruk membuat masyarakat merasa risih dan memandangnya dengan hina.
Namun, di balik perilaku tersebut, pemuda itu ternyata menyimpan rasa cinta yang mendalam kepada Nabi Muhammad SAW. Kecintaannya kepada Rasulullah SAW terlihat dari kebiasaannya setiap kali memasuki bulan Rabiul Awwal.
Ia selalu mengenakan pakaian terbaik, memakai wewangian, berhias, mengadakan jamuan sederhana, dan membaca kisah kelahiran Nabi Muhammad SAW. Kebiasaan tersebut terus dilakukannya setiap tahun hingga akhirnya ia meninggal dunia.
Kematian pemuda tersebut pada awalnya tidak mendapatkan perhatian masyarakat Bashrah. Pandangan buruk yang selama ini melekat kepadanya membuat warga tidak merasa perlu memberikan penghormatan terakhir.
Ia pun meninggal dalam keadaan yang sepi, tanpa perhatian dan penghormatan dari masyarakat sekitar. Namun, keadaan berubah setelah hampir seluruh penduduk Bashrah mendengar suara yang sama.
“Wahai penduduk Bashrah, hadirilah jenazah seorang kekasih Allah," demikian suara halus yang menembus dinding hati mereka.
Bisikan tersebut membuat masyarakat terdiam dan bertanya-tanya. Mereka kemudian tergerak untuk mendatangi pemakaman pemuda itu, memberikan doa, serta menyampaikan penghormatan terakhir.
Kisah tersebut berlanjut setelah malam tiba. Banyak penduduk Bashrah bermimpi melihat pemuda itu mengenakan pakaian sutra yang indah.
Karena penasaran dengan keadaan yang dialaminya, pemuda tersebut kemudian ditanya:
“Dengan apa kamu mendapatkan kemuliaan ini?”
“Dengan memuliakan kelahiran Nabi Muhammad SAW,” jawab pemuda tersebut.
Kisah itu memberikan gambaran tentang bagaimana kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW dapat menjadi bagian penting dalam kehidupan seorang Muslim.
Pemuda yang dikenal sebagai pendosa tersebut tetap memiliki rasa cinta kepada Rasulullah SAW dan secara rutin memuliakan kelahirannya.
Kisah ini mengajarkan bahwa kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW tidak hanya dimiliki oleh orang yang dikenal rajin beribadah dan beramal saleh.
Dosa juga tidak semestinya menjadi penghalang bagi seseorang untuk menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah SAW.
Kecintaan tersebut dapat menjadi wasilah turunnya hidayah dan pertolongan Allah sekaligus membuka jalan bagi seseorang untuk memperbaiki diri. Karena itu, seseorang tidak sepatutnya berhenti berbuat baik hanya karena merasa dirinya masih memiliki banyak kekurangan.
Kisah tersebut juga mengingatkan umat Islam agar tidak mudah merendahkan orang lain berdasarkan keadaan lahiriahnya. Seseorang yang terlihat hina di mata manusia bisa saja memiliki amal atau kecintaan yang menjadikannya memperoleh kemuliaan di sisi Allah.
Pemuda dalam kisah tersebut memang dipandang buruk oleh masyarakat, tetapi di dalam hatinya terdapat kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW. Kisah itu menggambarkan bahwa rahmat dan ampunan Allah dapat diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya.
Selain mengandung pelajaran tentang cinta kepada Rasulullah SAW, kisah tersebut juga menegaskan pentingnya menjadikan Maulid Nabi sebagai momentum untuk mengingat Rasulullah.
Peringatan Maulid Nabi dapat menjadi sarana untuk mengenang kelahiran, perjuangan, dan akhlak mulia Nabi Muhammad SAW.
Momentum tersebut juga dapat digunakan untuk memperkuat kecintaan kepada Rasulullah SAW melalui pembacaan kisah kelahiran dan perjalanan hidup beliau.
Dengan demikian, peringatan Maulid Nabi tidak berhenti pada perayaan, tetapi dapat diarahkan untuk menumbuhkan semangat meneladani akhlak Rasulullah.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang