Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Daun Sirih Disulap Jadi Sabun, Cara Mahasiswa Muhammadiyah Ajari Siswa Hidup Bersih

Kompas.com, 14 Agustus 2026, 15:53 WIB
Reni Susanti

Editor

MALANG, KOMPAS.com — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Muhammadiyah-'Aisyiyah (KKN MAs) Kelompok 98 mengajak siswa SDN 2 Wringinsongo memanfaatkan daun sirih menjadi sabun cuci tangan herbal.

Pelatihan yang digelar di Desa Wringinsongo, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, Jawa Timur tersebut diikuti siswa kelas IV, V, dan VI.

Penanggung jawab program, Gibran, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan mengenalkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) sekaligus menunjukkan kepada anak-anak bahwa tanaman di sekitar rumah dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari.

"Melalui program ini, kami ingin menanamkan kesadaran sejak dini kepada siswa bahwa menjaga kebersihan tangan tidak harus mahal," ujar Gibran dalam rilisnya, Jumat (14/8/2026).

Baca juga: Cerita Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nashir 42 Tahun Jadi Jurnalis hingga Kantongi Kartu Wartawan Utama

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa mengenalkan daun sirih sebagai salah satu tanaman obat keluarga (TOGA) yang secara tradisional banyak dimanfaatkan untuk kebersihan.

Daun sirih yang digunakan dalam pelatihan diperoleh dari pekarangan warga dan kebun TOGA di Desa Wringinsongo.

"Daun sirih yang ada di pekarangan rumah warga memiliki khasiat antiseptik yang sangat baik. Kami berharap adik-adik di SDN 2 Wringinsongo bisa mempraktikkannya secara mandiri di rumah bersama keluarga," kata Gibran.

Cara Membuat Sabun Daun Sirih

Pembuatan sabun diawali dengan mencuci dan mengiris tipis daun sirih. Daun tersebut kemudian direbus menggunakan 300 mililiter air selama sekitar 15 menit.

Setelah air rebusan berubah kecoklatan, cairan didinginkan dan disaring untuk memperoleh ekstrak daun sirih.

Mahasiswa kemudian menyiapkan 700 mililiter air hangat dan mencampurkannya secara bertahap dengan Sodium Lauryl Sulfate (SLS), bahan pembentuk busa yang lazim digunakan dalam produk pembersih.

Setelah larutan tercampur, ekstrak daun sirih yang telah dingin dimasukkan. Pewarna dan minyak esensial dapat ditambahkan sebagai bahan pelengkap.

Campuran tersebut kemudian didiamkan selama beberapa jam hingga busa berkurang sebelum dimasukkan ke dalam botol pompa.

Mahasiswa juga mengajarkan cara mencuci tangan dengan benar. Siswa diminta menggosok telapak dan punggung tangan, sela-sela jari, serta bagian bawah kuku selama sedikitnya 20 detik sebelum membilasnya menggunakan air bersih.

Kenalkan Potensi Bahan Alam kepada Anak

Kepala SDN 2 Wringinsongo Sulis Setiowati mengapresiasi pelatihan tersebut karena memberikan pengalaman belajar secara langsung kepada para siswa.

Menurut Sulis, anak-anak tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai pentingnya menjaga kebersihan tangan, tetapi juga belajar memanfaatkan bahan yang tersedia di lingkungan mereka.

"Pelatihan ini tidak hanya mengajarkan anak-anak pentingnya menjaga kebersihan tangan, tetapi juga memberikan wawasan kreatif bahwa bahan alami di sekitar kita seperti daun sirih bisa diolah menjadi barang yang sangat berguna," ujar Sulis.

KKN MAs merupakan program pengabdian masyarakat lintas perguruan tinggi Muhammadiyah dan 'Aisyiyah di Indonesia.

Program tersebut mempertemukan mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi untuk melakukan kegiatan pemberdayaan masyarakat secara kolaboratif.

Pada tahun ini, mahasiswa peserta antara lain berasal dari Universitas Muhammadiyah Jambi, Universitas Muhammadiyah Malang, Universitas Muhammadiyah Bandung, Universitas Muhammadiyah Gombong, Universitas Muhammadiyah Purwokerto.

Kemudian Universitas Muhammadiyah Surabaya, Universitas Muhammadiyah Bone, Universitas Muhammadiyah Makassar, Universitas Muhammadiyah Palembang, Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya, dan Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Libur Lebaran 2027 Sesuai SKB 3 Menteri: Libur Nasional, Cuti Bersama, dan Potensi Libur Panjang
Libur Lebaran 2027 Sesuai SKB 3 Menteri: Libur Nasional, Cuti Bersama, dan Potensi Libur Panjang
Aktual
Kemenhaj Ungkap 50 Persen Biro Umrah Tidak Aktif, Ini Penyebabnya
Kemenhaj Ungkap 50 Persen Biro Umrah Tidak Aktif, Ini Penyebabnya
Aktual
Teks Ikrar dan Doa Upacara Hari Kesaktian Pancasila 2026 Resmi Kemenbud
Teks Ikrar dan Doa Upacara Hari Kesaktian Pancasila 2026 Resmi Kemenbud
Aktual
Kisah Abu Darda, Sahabat Nabi yang Memilih Ilmu daripada Kemewahan
Kisah Abu Darda, Sahabat Nabi yang Memilih Ilmu daripada Kemewahan
Aktual
Husnuzan, Tawadhu, dan Qanaah Sering Tertukar, Apa Bedanya?
Husnuzan, Tawadhu, dan Qanaah Sering Tertukar, Apa Bedanya?
Aktual
Kenapa Nabi Beristighfar 70–100 Kali Sehari? Ini Penjelasannya
Kenapa Nabi Beristighfar 70–100 Kali Sehari? Ini Penjelasannya
Aktual
Kemenhaj Minta Travel Umrah Pastikan Layanan Jamaah Terpenuhi Sejak Berangkat Hingga Kepulangan
Kemenhaj Minta Travel Umrah Pastikan Layanan Jamaah Terpenuhi Sejak Berangkat Hingga Kepulangan
Aktual
Susunan Acara dan Teks Doa Upacara Hari Kesaktian Pancasila 2026 Resmi Kemenbud
Susunan Acara dan Teks Doa Upacara Hari Kesaktian Pancasila 2026 Resmi Kemenbud
Aktual
Link Download PDF Teks Doa Upacara Hari Kesaktian Pancasila 2026 Resmi Kemenbud
Link Download PDF Teks Doa Upacara Hari Kesaktian Pancasila 2026 Resmi Kemenbud
Aktual
Teks Doa Upacara Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober 2026 Resmi Kemenbud
Teks Doa Upacara Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober 2026 Resmi Kemenbud
Aktual
Bolehkah Menggabungkan Niat Puasa Qadha dan Senin Kamis?
Bolehkah Menggabungkan Niat Puasa Qadha dan Senin Kamis?
Aktual
Mengapa Rasulullah Melarang Tidur Tengkurap? Ini Hadis dan Hikmahnya
Mengapa Rasulullah Melarang Tidur Tengkurap? Ini Hadis dan Hikmahnya
Aktual
Kenapa Imam Mengeraskan Bacaan pada Subuh, Maghrib, dan Isya?
Kenapa Imam Mengeraskan Bacaan pada Subuh, Maghrib, dan Isya?
Aktual
Menag Lantik 5 Pejabat Ditjen Pesantren, Ingatkan Nasib Santri di 42.000 Pondok
Menag Lantik 5 Pejabat Ditjen Pesantren, Ingatkan Nasib Santri di 42.000 Pondok
Aktual
Gus Baha: Berketuhanan Harus Membuat Kita Adil dan Menghormati yang Berbeda
Gus Baha: Berketuhanan Harus Membuat Kita Adil dan Menghormati yang Berbeda
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar