Editor
JOMBANG, KOMPAS.com — Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) memasuki hari terakhir pada Senin (31/8/2026) setelah berlangsung sejak Kamis (27/8/2026) di Jombang, Jawa Timur.
Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan hadir untuk menutup forum permusyawaratan tertinggi NU tersebut di Gedung Serbaguna (GSG) Kompleks Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang.
Ketua Panitia Lokal Muktamar Ke-35 NU KH Abdurrozaq Sholeh atau Gus Rozaq mengatakan, Prabowo dijadwalkan menutup langsung rangkaian muktamar pada Senin pagi.
Baca juga: Muktamar NU Tetapkan 9 AHWA, Ini Daftar Lengkap dan Perolehan Suaranya
Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBNU Saifullah Yusuf atau Gus Ipul sebelumnya menyebut acara penutupan direncanakan berlangsung sekitar pukul 09.00 WIB.
Panitia lokal menyebut kehadiran Presiden diupayakan sebelum pukul 10.00 WIB.
Dikutip dari NU Online, kehadiran Prabowo dalam acara penutupan melengkapi rangkaian kunjungannya ke Muktamar Ke-35 NU.
Sebelumnya, Prabowo juga membuka muktamar di Lapangan Untung Surapati, Jombang, Kamis (27/8/2026) sore.
Menurut Gus Rozaq, Prabowo memberikan kesan positif terhadap sambutan puluhan ribu muktamirin yang hadir. Pelaksanaan kegiatan selama kunjungan Presiden juga dinilai berlangsung tertib.
Baca juga: Muktamar NU Memanas Jelang Penghitungan AHWA, Panitia: Jangan Kehilangan Adab
Menjelang penutupan, Muktamar Ke-35 NU telah menghasilkan sejumlah keputusan penting terkait kepemimpinan dan organisasi.
Melalui musyawarah tertutup, Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) secara mufakat menetapkan KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU masa khidmah 2026-2031.
Miftachul melanjutkan kepemimpinannya sebagai Rais Aam setelah sebelumnya menduduki posisi yang sama pada periode sebelumnya.
Sementara itu, proses penentuan Ketua Umum PBNU masih berlangsung hingga hari terakhir muktamar.
Sidang Pleno V sebelumnya menetapkan lima calon Ketua Umum PBNU dengan perolehan suara terbanyak.
KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin memperoleh suara terbanyak dengan 472 suara.
Posisi berikutnya ditempati KH Zulfa Mustofa dengan 262 suara, KH Abdussalam Sochib 261 suara, KH Yahya Cholil Staquf 258 suara, dan KH Nusron Wahid 207 suara.
Kelima nama tersebut kemudian diajukan untuk mendapatkan persetujuan tertulis dari Rais Aam terpilih sebelum proses penentuan Ketua Umum PBNU dilanjutkan melalui AHWA.
Muktamar Ke-35 NU juga menghasilkan perubahan penting dalam mekanisme pemilihan Ketua Umum PBNU.
Ketua Umum PBNU yang sebelumnya dipilih langsung oleh muktamirin kini ditentukan melalui mekanisme AHWA.
Perubahan tersebut disepakati dalam Sidang Pleno III.
Dari 552 peserta yang memiliki hak suara, sebanyak 401 suara atau sekitar 73 persen menyatakan setuju terhadap mekanisme baru tersebut.
Muktamirin juga menyepakati larangan bagi Rais Aam dan Ketua Umum PBNU terpilih untuk merangkap jabatan politik.
Keputusan mengenai larangan rangkap jabatan tersebut dicapai melalui musyawarah mufakat tanpa pemungutan suara.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT