Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Muktamar NU Memanas Jelang Penghitungan AHWA, Panitia: Jangan Kehilangan Adab

Kompas.com, 30 Agustus 2026, 17:29 WIB
Reni Susanti

Editor

Sumber NU Online

JOMBANG, KOMPAS.com — Panitia Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) mengingatkan seluruh pihak agar tidak kehilangan adab dalam menyampaikan aspirasi menyusul situasi yang memanas menjelang penghitungan tabulasi Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA), Minggu (30/8/2026).

Ketua Panitia Lokal Muktamar Ke-35 NU KH Abdurrozaq Sholeh atau Gus Rozaq meminta seluruh pihak menjaga marwah NU sekaligus menghormati Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, sebagai tempat berlangsungnya Muktamar.

"Jangan mengotori bumi Tambakberas. Jangan sampai kehilangan adab dalam menyampaikan aspirasi," kata Gus Rozaq dikutip dari NU Online, Minggu (30/8/2026).

Baca juga: Massa Gus Yusuf Demo di Lokasi Muktamar NU, Gus Yahya Imbau Tenang

Seruan tersebut disampaikan setelah terjadi dinamika di sekitar arena Muktamar.

Menjelang penghitungan tabulasi AHWA, personel Barisan Ansor Serbaguna (Banser), Pagar Nusa, dan panitia keamanan lokal SIGAP disiagakan untuk menjaga kawasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum.

Gus Rozaq mengingatkan bahwa Tambakberas bukan sekadar lokasi penyelenggaraan Muktamar Ke-35 NU.

Pesantren tersebut memiliki hubungan panjang dengan perjalanan Nahdlatul Ulama. Salah seorang pendiri NU, KH Abdul Wahab Hasbullah, tumbuh dan memulai perjuangannya dari lingkungan Tambakberas.

Karena itu, Gus Rozaq meminta dinamika dalam proses Muktamar tidak sampai mencoreng nama NU maupun Pondok Pesantren Bahrul Ulum.

"Jangan sampai kejadian tadi mencoreng nama NU, mencoreng nama Bahrul Ulum. Sterilkan lokasi. Kawal acara sampai selesai," ujarnya.

Baca juga: Muktamar NU Memanas, Massa Gus Yusuf Coba Terobos Arena Sidang Usai Keputusan Iddah

Banser hingga Pagar Nusa Diminta Tetap Humanis

Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor Addin Jauharudin mengatakan, Banser bersama Pagar Nusa dan panitia keamanan lokal bertugas memastikan seluruh rangkaian Muktamar berjalan aman.

"Tugas kita mengamankan lokasi Muktamar, antara Banser, Pagar Nusa, dan panitia lokal," kata Addin.

Menurut dia, pengamanan merupakan bagian dari pelayanan terhadap peserta Muktamar atau muktamirin.

Karena itu, personel keamanan diminta menjalankan tugas tanpa mengganggu persidangan dan tetap mengedepankan pendekatan humanis.

"Agar keamanan berjalan lancar, kita ini melayani para muktamirin," ujarnya.

Seruan serupa disampaikan Ketua Umum Pagar Nusa Muchamad Nabil Haroen atau Gus Nabil.

Menurut Gus Nabil, perbedaan pendapat maupun dinamika dalam forum sebesar Muktamar merupakan sesuatu yang wajar.

Namun, perbedaan tersebut harus tetap disampaikan dengan menjaga adab, persaudaraan, dan kondusivitas.

"Kita harus bisa menjaga kondusivitas. Ada dinamika itu wajar," kata Gus Nabil.

Ingatkan Sejarah Tambakberas

Gus Nabil juga mengingatkan para peserta dan pihak yang berada di sekitar arena Muktamar mengenai posisi Tambakberas dalam sejarah Nahdlatul Ulama.

Ia menyebut KH Abdul Wahab Hasbullah atau Mbah Wahab sebagai salah seorang tokoh penting NU yang memiliki hubungan erat dengan Tambakberas.

"Di tanah Tambakberas ini ada Mbah Wahab Hasbullah. Jangan mengotori Tambakberas. Siapa pun yang akan merusak NU akan berhadapan dengan kita. Ini adalah khidmah kita," ujarnya.

Meski menyampaikan peringatan tegas, Gus Nabil meminta personel keamanan tetap memprioritaskan pendekatan humanis.

"Utamakan humanis dalam melayani siapa pun. Namun, jika tidak bisa dan ada kegaduhan, maka kita tindak tegas," katanya.

Seluruh unsur keamanan, lanjut dia, telah bersepakat mengawal jalannya Muktamar hingga seluruh agenda berakhir.

"Kita sepakat untuk mengawal. Muktamar NU ini tinggal sedikit lagi selesai," ujar Gus Nabil.

Sebelumnya, situasi di sekitar arena Muktamar sempat memanas setelah Sidang Pleno IV menetapkan ketentuan masa iddah selama satu tahun dari jabatan politik bagi calon Rais Aam dan Ketua Umum PBNU.

Sejumlah massa kemudian berupaya mendekati dan menerobos arena persidangan. Petugas keamanan mempertahankan barikade dan sempat melantunkan shalawat untuk meredam situasi.

Muktamar Ke-35 NU berlangsung pada 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.

Salah satu agenda utama Muktamar adalah menentukan Rais Aam dan Ketua Umum PBNU untuk periode kepengurusan berikutnya.

Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT

Baca tentang


Terkini Lainnya
Muktamar NU Memanas Jelang Penghitungan AHWA, Panitia: Jangan Kehilangan Adab
Muktamar NU Memanas Jelang Penghitungan AHWA, Panitia: Jangan Kehilangan Adab
Aktual
Massa Gus Yusuf Demo di Lokasi Muktamar NU, Gus Yahya Imbau Tenang
Massa Gus Yusuf Demo di Lokasi Muktamar NU, Gus Yahya Imbau Tenang
Aktual
Muktamar NU Memanas, Massa Gus Yusuf Coba Terobos Arena Sidang Usai Keputusan Iddah
Muktamar NU Memanas, Massa Gus Yusuf Coba Terobos Arena Sidang Usai Keputusan Iddah
Aktual
Menjaga Kearifan Lokal, Cara Membuka Jalan Rezeki dari Desa
Menjaga Kearifan Lokal, Cara Membuka Jalan Rezeki dari Desa
Aktual
Pesan Alissa Wahid untuk Pemimpin Baru PBNU: Kembalikan Kepercayaan Warga NU
Pesan Alissa Wahid untuk Pemimpin Baru PBNU: Kembalikan Kepercayaan Warga NU
Aktual
Maulid Nabi, Kemenimipas Galang Rp 1,8 Miliar untuk NTT dan Santuni Anak Yatim
Maulid Nabi, Kemenimipas Galang Rp 1,8 Miliar untuk NTT dan Santuni Anak Yatim
Aktual
Benarkah Tidur Setelah Subuh Tidak Baik dalam Islam? Ini Penjelasannya
Benarkah Tidur Setelah Subuh Tidak Baik dalam Islam? Ini Penjelasannya
Aktual
Gus Ipang Bocorkan Kesiapan Kiai Imam Jazuli Masuk Bursa Ketum PBNU
Gus Ipang Bocorkan Kesiapan Kiai Imam Jazuli Masuk Bursa Ketum PBNU
Aktual
Mars Fatayat NU: Lirik, Makna, dan Sejarah Singkat Fatayat Nahdlatul Ulama
Mars Fatayat NU: Lirik, Makna, dan Sejarah Singkat Fatayat Nahdlatul Ulama
Aktual
Voting Muktamar NU Putuskan Ketum PBNU Dipilih AHWA, Ini Mekanismenya
Voting Muktamar NU Putuskan Ketum PBNU Dipilih AHWA, Ini Mekanismenya
Aktual
Muktamar NU Putuskan Ketum PBNU Dipilih Lewat AHWA, 401 Suara Setuju
Muktamar NU Putuskan Ketum PBNU Dipilih Lewat AHWA, 401 Suara Setuju
Aktual
Bandung Menuju Kota Kuliner, AKAR Soroti Restoran Nonhalal dan Fasilitas Ibadah
Bandung Menuju Kota Kuliner, AKAR Soroti Restoran Nonhalal dan Fasilitas Ibadah
Aktual
Muktamar NU Usul UKT PTN Tak Hanya Berdasarkan Pekerjaan Orangtua
Muktamar NU Usul UKT PTN Tak Hanya Berdasarkan Pekerjaan Orangtua
Aktual
Badan Usaha Milik Ansor Rambah Bisnis Kendaraan Listrik dan Panel Surya
Badan Usaha Milik Ansor Rambah Bisnis Kendaraan Listrik dan Panel Surya
Aktual
Fatayat NU Bawa Isu Perempuan dan Anak ke Muktamar Ke-35 NU
Fatayat NU Bawa Isu Perempuan dan Anak ke Muktamar Ke-35 NU
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar