Editor
BANDUNG, KOMPAS.com — Anak muda di desa-desa Jawa Barat didorong untuk tidak selalu memandang kota sebagai satu-satunya tempat mencari penghasilan.
Potensi yang selama ini dianggap biasa, mulai dari sawah, sungai, tradisi hingga kuliner, dapat dikembangkan menjadi sumber ekonomi bagi masyarakat.
Staf Ahli Gubernur Jawa Barat Bidang Pemerintahan, Hukum, dan Politik, Benny Bachtiar mengatakan, salah satu tantangan pengembangan desa wisata adalah masyarakat terkadang belum menyadari nilai dari lingkungan dan kehidupan sehari-hari di sekitarnya.
"Masyarakat desa, terutama anak mudanya, selalu berasumsi bahwa untuk mencari uang itu di perkotaan. Mereka tidak sadar, sebetulnya secara ekonomi di desa pun potensinya luar biasa," kata Benny saat memberikan kuliah umum kepada mahasiswa baru Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung.
Baca juga: Budaya Flexing dan Peringatan Surah At-Takatsur tentang Nikmat Dunia
Menurut Benny, sesuatu yang terlihat biasa bagi masyarakat desa belum tentu dipandang sama oleh masyarakat perkotaan maupun wisatawan.
Sawah dan sungai, misalnya, merupakan bagian dari keseharian masyarakat di sejumlah desa.
Namun, bagi masyarakat perkotaan, suasana tersebut justru dapat menjadi pengalaman yang memiliki daya tarik tersendiri.
"Kalau bagi masyarakat desa, sawah dan sungai itu sudah biasa, tidak ada menariknya. Tapi bagi masyarakat perkotaan, itu menjadi luar biasa, menjadi daya tarik tersendiri," ujarnya.
Karena itu, masyarakat perlu mengenali kembali kekayaan yang dimiliki daerahnya sebelum mencari atau menciptakan daya tarik baru.
Benny mengatakan, konsep tersebut sejalan dengan arah pengembangan pariwisata Jawa Barat yang menempatkan kearifan lokal dan kebudayaan sebagai salah satu kekuatan.
Menurut dia, wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia justru banyak mencari pengalaman yang tidak ditemukan di negara asalnya.
"Wisatawan mancanegara datang ke Indonesia itu justru yang dicari adalah kearifan lokalnya, kekuatan budayanya, kekuatan kulinernya," kata Benny.
Artinya, desa tidak selalu harus menciptakan atraksi besar untuk mendatangkan wisatawan.
Tradisi, makanan, kesenian, lingkungan alam, bahkan aktivitas sehari-hari masyarakat dapat memiliki nilai apabila dikelola dengan baik tanpa kehilangan karakter lokalnya.
Benny mencontohkan Desa Wisata Undisan di Bali. Di sana, aktivitas sederhana seperti warga memasak dapat dikemas menjadi pengalaman bagi wisatawan sekaligus memberikan penghasilan kepada keluarga yang terlibat.
"Di Desa Wisata Undisan di Bali, warga memasak saja menjadi atraksi. Itu bisa memberikan pendapatan bagi pemilik rumah tersebut," ujarnya.
Baca juga: Kementerian Kebudayaan Perkuat Kolaborasi Pemajuan Budaya Islam
Menurut Benny, pariwisata seharusnya tidak berhenti pada jumlah wisatawan yang datang. Dampaknya perlu dirasakan lebih luas oleh masyarakat yang tinggal di destinasi tersebut.
"Jadi, dampak ekonomi dari pariwisata ini mesti berdampak multidimensi. Multiplier effect itu mesti berdasarkan itu," kata Benny.
Dalam konteks ini, pengembangan desa wisata juga dapat dipandang sebagai upaya menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat.
Kekayaan alam dan budaya tidak hanya dijaga, tetapi dikelola agar memberikan manfaat ekonomi tanpa kehilangan identitasnya.
Semangat tersebut sejalan dengan nilai kebermanfaatan dalam Islam. Sumber daya yang berada di sekitar manusia bukan semata-mata untuk dinikmati, tetapi juga perlu dijaga dan dikelola secara bertanggung jawab agar manfaatnya dapat dirasakan bersama.
Benny menjelaskan, desa wisata memiliki empat tahapan perkembangan, yakni rintisan, berkembang, maju, dan mandiri.
Menurut dia, desa wisata rintisan menjadi salah satu kelompok yang membutuhkan perhatian besar karena masyarakat masih perlu mengenali potensi dan menentukan arah pengembangannya.
"Rintisan ini yang paling penting sekarang. Supaya bisa melihat potensinya seperti apa, mengembangkannya seperti apa," ujarnya.
Dalam proses tersebut, dukungan pemerintah dapat diberikan sesuai dengan tahapan perkembangan desa.
Desa wisata rintisan, misalnya, dapat memperoleh pendampingan pemerintah kabupaten atau kota. Sementara desa wisata berkembang dapat diperkuat melalui intervensi pemerintah provinsi.
Ketika telah memasuki kategori maju, desa mulai dapat berjalan lebih mandiri meskipun masih membutuhkan pendampingan. Adapun desa wisata mandiri dinilai telah mempunyai kemampuan untuk mengelola dan mengembangkan potensinya sendiri.
Benny mengatakan, jumlah desa wisata di Jawa Barat terus bertambah. Tantangannya kini adalah memperkuat desa-desa tersebut sehingga manfaat pariwisata benar-benar sampai kepada masyarakat.
Benny juga menaruh harapan kepada generasi muda, termasuk mahasiswa, untuk terlibat dalam pengembangan potensi desa.
Menurut dia, mahasiswa ISBI Bandung memiliki berbagai disiplin ilmu yang dapat digunakan untuk membaca kekayaan lokal, mulai dari antropologi hingga seni pertunjukan.
Ia berharap mahasiswa dapat turun langsung ke desa, termasuk melalui program kuliah kerja nyata (KKN), untuk memetakan tradisi, kesenian, kuliner, maupun potensi alam yang dapat dikembangkan.
"Mahasiswa-mahasiswa ini kita harapkan menjadi agen perubahan dalam pengembangan pariwisata yang berbasis kearifan lokal," kata Benny.
Pengalaman tersebut sekaligus dapat mempertemukan pengetahuan yang diperoleh mahasiswa di kampus dengan persoalan nyata di tengah masyarakat.
Wakil Rektor ISBI, indra ridwan menjelaskan, tema pariwisata dan ekonomi kreatif sengaja diperkenalkan kepada mahasiswa baru melalui studium generale.
Sebagai perguruan tinggi seni dan budaya, mahasiswa tidak hanya diharapkan memahami kebudayaan sebagai pengetahuan, tetapi juga memikirkan bagaimana seni dan budaya dapat memberikan dampak bagi masyarakat.
Mahasiswa diharapkan mampu berkreasi, berpikir kritis, dan menghasilkan inovasi yang suatu saat dapat diterapkan dalam pengembangan desa wisata.
Dalam forum tersebut juga mengemuka pandangan bahwa kebudayaan tidak seharusnya hanya dipahami sebagai peninggalan masa lalu yang tidak boleh berubah.
Budaya bersifat dinamis. Tantangannya adalah mengembangkannya mengikuti zaman tanpa kehilangan akar dan identitas lokal. Generasi muda memiliki posisi penting dalam proses tersebut.
Mereka dapat memulai dengan melihat kembali lingkungan tempat tinggalnya. Sawah, sungai, kuliner, kesenian, tradisi hingga kehidupan sehari-hari yang selama ini terasa biasa boleh jadi menyimpan peluang yang belum dikenali.
Dengan pengelolaan yang tepat, kekayaan tersebut tidak hanya menjadi daya tarik wisata, tetapi juga dapat membuka lapangan usaha, menjaga budaya lokal, dan membuat manfaat ekonomi tumbuh dari desa untuk masyarakat desa sendiri.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT