Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Menjaga Kearifan Lokal, Cara Membuka Jalan Rezeki dari Desa

Kompas.com, 30 Agustus 2026, 15:11 WIB
Reni Susanti

Editor


BANDUNG, KOMPAS.com — Anak muda di desa-desa Jawa Barat didorong untuk tidak selalu memandang kota sebagai satu-satunya tempat mencari penghasilan.

Potensi yang selama ini dianggap biasa, mulai dari sawah, sungai, tradisi hingga kuliner, dapat dikembangkan menjadi sumber ekonomi bagi masyarakat.

Staf Ahli Gubernur Jawa Barat Bidang Pemerintahan, Hukum, dan Politik, Benny Bachtiar mengatakan, salah satu tantangan pengembangan desa wisata adalah masyarakat terkadang belum menyadari nilai dari lingkungan dan kehidupan sehari-hari di sekitarnya.

"Masyarakat desa, terutama anak mudanya, selalu berasumsi bahwa untuk mencari uang itu di perkotaan. Mereka tidak sadar, sebetulnya secara ekonomi di desa pun potensinya luar biasa," kata Benny saat memberikan kuliah umum kepada mahasiswa baru Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung.

Baca juga: Budaya Flexing dan Peringatan Surah At-Takatsur tentang Nikmat Dunia

Menurut Benny, sesuatu yang terlihat biasa bagi masyarakat desa belum tentu dipandang sama oleh masyarakat perkotaan maupun wisatawan.

Sawah dan sungai, misalnya, merupakan bagian dari keseharian masyarakat di sejumlah desa.

Namun, bagi masyarakat perkotaan, suasana tersebut justru dapat menjadi pengalaman yang memiliki daya tarik tersendiri.

"Kalau bagi masyarakat desa, sawah dan sungai itu sudah biasa, tidak ada menariknya. Tapi bagi masyarakat perkotaan, itu menjadi luar biasa, menjadi daya tarik tersendiri," ujarnya.

Karena itu, masyarakat perlu mengenali kembali kekayaan yang dimiliki daerahnya sebelum mencari atau menciptakan daya tarik baru.

Kearifan Lokal Jadi Kekuatan

Benny mengatakan, konsep tersebut sejalan dengan arah pengembangan pariwisata Jawa Barat yang menempatkan kearifan lokal dan kebudayaan sebagai salah satu kekuatan.

Menurut dia, wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia justru banyak mencari pengalaman yang tidak ditemukan di negara asalnya.

"Wisatawan mancanegara datang ke Indonesia itu justru yang dicari adalah kearifan lokalnya, kekuatan budayanya, kekuatan kulinernya," kata Benny.

Artinya, desa tidak selalu harus menciptakan atraksi besar untuk mendatangkan wisatawan.

Tradisi, makanan, kesenian, lingkungan alam, bahkan aktivitas sehari-hari masyarakat dapat memiliki nilai apabila dikelola dengan baik tanpa kehilangan karakter lokalnya.

Benny mencontohkan Desa Wisata Undisan di Bali. Di sana, aktivitas sederhana seperti warga memasak dapat dikemas menjadi pengalaman bagi wisatawan sekaligus memberikan penghasilan kepada keluarga yang terlibat.

"Di Desa Wisata Undisan di Bali, warga memasak saja menjadi atraksi. Itu bisa memberikan pendapatan bagi pemilik rumah tersebut," ujarnya.

Baca juga: Kementerian Kebudayaan Perkuat Kolaborasi Pemajuan Budaya Islam

Menurut Benny, pariwisata seharusnya tidak berhenti pada jumlah wisatawan yang datang. Dampaknya perlu dirasakan lebih luas oleh masyarakat yang tinggal di destinasi tersebut.

"Jadi, dampak ekonomi dari pariwisata ini mesti berdampak multidimensi. Multiplier effect itu mesti berdasarkan itu," kata Benny.

Dalam konteks ini, pengembangan desa wisata juga dapat dipandang sebagai upaya menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat.

Kekayaan alam dan budaya tidak hanya dijaga, tetapi dikelola agar memberikan manfaat ekonomi tanpa kehilangan identitasnya.

Semangat tersebut sejalan dengan nilai kebermanfaatan dalam Islam. Sumber daya yang berada di sekitar manusia bukan semata-mata untuk dinikmati, tetapi juga perlu dijaga dan dikelola secara bertanggung jawab agar manfaatnya dapat dirasakan bersama.

Dari Desa Rintisan hingga Mandiri

Benny menjelaskan, desa wisata memiliki empat tahapan perkembangan, yakni rintisan, berkembang, maju, dan mandiri.

Menurut dia, desa wisata rintisan menjadi salah satu kelompok yang membutuhkan perhatian besar karena masyarakat masih perlu mengenali potensi dan menentukan arah pengembangannya.

"Rintisan ini yang paling penting sekarang. Supaya bisa melihat potensinya seperti apa, mengembangkannya seperti apa," ujarnya.

Dalam proses tersebut, dukungan pemerintah dapat diberikan sesuai dengan tahapan perkembangan desa.

Desa wisata rintisan, misalnya, dapat memperoleh pendampingan pemerintah kabupaten atau kota. Sementara desa wisata berkembang dapat diperkuat melalui intervensi pemerintah provinsi.

Ketika telah memasuki kategori maju, desa mulai dapat berjalan lebih mandiri meskipun masih membutuhkan pendampingan. Adapun desa wisata mandiri dinilai telah mempunyai kemampuan untuk mengelola dan mengembangkan potensinya sendiri.

Benny mengatakan, jumlah desa wisata di Jawa Barat terus bertambah. Tantangannya kini adalah memperkuat desa-desa tersebut sehingga manfaat pariwisata benar-benar sampai kepada masyarakat.

Anak Muda Bisa Menjadi Agen Perubahan

Benny juga menaruh harapan kepada generasi muda, termasuk mahasiswa, untuk terlibat dalam pengembangan potensi desa.

Menurut dia, mahasiswa ISBI Bandung memiliki berbagai disiplin ilmu yang dapat digunakan untuk membaca kekayaan lokal, mulai dari antropologi hingga seni pertunjukan.

Ia berharap mahasiswa dapat turun langsung ke desa, termasuk melalui program kuliah kerja nyata (KKN), untuk memetakan tradisi, kesenian, kuliner, maupun potensi alam yang dapat dikembangkan.

"Mahasiswa-mahasiswa ini kita harapkan menjadi agen perubahan dalam pengembangan pariwisata yang berbasis kearifan lokal," kata Benny.

Pengalaman tersebut sekaligus dapat mempertemukan pengetahuan yang diperoleh mahasiswa di kampus dengan persoalan nyata di tengah masyarakat.

Wakil Rektor ISBI, indra ridwan menjelaskan, tema pariwisata dan ekonomi kreatif sengaja diperkenalkan kepada mahasiswa baru melalui studium generale.

Sebagai perguruan tinggi seni dan budaya, mahasiswa tidak hanya diharapkan memahami kebudayaan sebagai pengetahuan, tetapi juga memikirkan bagaimana seni dan budaya dapat memberikan dampak bagi masyarakat.

Mahasiswa diharapkan mampu berkreasi, berpikir kritis, dan menghasilkan inovasi yang suatu saat dapat diterapkan dalam pengembangan desa wisata.

Dalam forum tersebut juga mengemuka pandangan bahwa kebudayaan tidak seharusnya hanya dipahami sebagai peninggalan masa lalu yang tidak boleh berubah.

Budaya bersifat dinamis. Tantangannya adalah mengembangkannya mengikuti zaman tanpa kehilangan akar dan identitas lokal. Generasi muda memiliki posisi penting dalam proses tersebut.

Mereka dapat memulai dengan melihat kembali lingkungan tempat tinggalnya. Sawah, sungai, kuliner, kesenian, tradisi hingga kehidupan sehari-hari yang selama ini terasa biasa boleh jadi menyimpan peluang yang belum dikenali.

Dengan pengelolaan yang tepat, kekayaan tersebut tidak hanya menjadi daya tarik wisata, tetapi juga dapat membuka lapangan usaha, menjaga budaya lokal, dan membuat manfaat ekonomi tumbuh dari desa untuk masyarakat desa sendiri.

Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT



Terkini Lainnya
Muktamar NU Memanas, Massa Coba Terobos Arena Sidang Usai Keputusan Iddah Politik
Muktamar NU Memanas, Massa Coba Terobos Arena Sidang Usai Keputusan Iddah Politik
Aktual
Menjaga Kearifan Lokal, Cara Membuka Jalan Rezeki dari Desa
Menjaga Kearifan Lokal, Cara Membuka Jalan Rezeki dari Desa
Aktual
Pesan Alissa Wahid untuk Pemimpin Baru PBNU: Kembalikan Kepercayaan Warga NU
Pesan Alissa Wahid untuk Pemimpin Baru PBNU: Kembalikan Kepercayaan Warga NU
Aktual
Maulid Nabi, Kemenimipas Galang Rp 1,8 Miliar untuk NTT dan Santuni Anak Yatim
Maulid Nabi, Kemenimipas Galang Rp 1,8 Miliar untuk NTT dan Santuni Anak Yatim
Aktual
Benarkah Tidur Setelah Subuh Tidak Baik dalam Islam? Ini Penjelasannya
Benarkah Tidur Setelah Subuh Tidak Baik dalam Islam? Ini Penjelasannya
Aktual
Gus Ipang Bocorkan Kesiapan Kiai Imam Jazuli Masuk Bursa Ketum PBNU
Gus Ipang Bocorkan Kesiapan Kiai Imam Jazuli Masuk Bursa Ketum PBNU
Aktual
Mars Fatayat NU: Lirik, Makna, dan Sejarah Singkat Fatayat Nahdlatul Ulama
Mars Fatayat NU: Lirik, Makna, dan Sejarah Singkat Fatayat Nahdlatul Ulama
Aktual
Voting Muktamar NU Putuskan Ketum PBNU Dipilih AHWA, Ini Mekanismenya
Voting Muktamar NU Putuskan Ketum PBNU Dipilih AHWA, Ini Mekanismenya
Aktual
Muktamar NU Putuskan Ketum PBNU Dipilih Lewat AHWA, 401 Suara Setuju
Muktamar NU Putuskan Ketum PBNU Dipilih Lewat AHWA, 401 Suara Setuju
Aktual
Bandung Menuju Kota Kuliner, AKAR Soroti Restoran Nonhalal dan Fasilitas Ibadah
Bandung Menuju Kota Kuliner, AKAR Soroti Restoran Nonhalal dan Fasilitas Ibadah
Aktual
Muktamar NU Usul UKT PTN Tak Hanya Berdasarkan Pekerjaan Orangtua
Muktamar NU Usul UKT PTN Tak Hanya Berdasarkan Pekerjaan Orangtua
Aktual
Badan Usaha Milik Ansor Rambah Bisnis Kendaraan Listrik dan Panel Surya
Badan Usaha Milik Ansor Rambah Bisnis Kendaraan Listrik dan Panel Surya
Aktual
Fatayat NU Bawa Isu Perempuan dan Anak ke Muktamar Ke-35 NU
Fatayat NU Bawa Isu Perempuan dan Anak ke Muktamar Ke-35 NU
Aktual
Berapa Kali Takbir Shalat Istisqa? Ini Pendapat Ulama dan Tata Caranya
Berapa Kali Takbir Shalat Istisqa? Ini Pendapat Ulama dan Tata Caranya
Doa dan Niat
Panduan Shalat Istisqa Lengkap: Niat, Tata Cara, Doa, Khutbah, Waktu Pelaksanaan, dan Dalilnya
Panduan Shalat Istisqa Lengkap: Niat, Tata Cara, Doa, Khutbah, Waktu Pelaksanaan, dan Dalilnya
Doa dan Niat
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar