Editor
KOMPAS.com - Berikut adalah teks Khutbah Jumat tentang bencana sebagai ujian untuk solidaritas, seperti dilansir dari laman Muhammadiyah.
Baca juga: Khutbah Jumat 4 September 2026: Menghindari Jahiliyah Bergaya Kekinian
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ:
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. Ketakwaan tercermin melalui ibadah yang kita tunaikan, dalam cara kita memperlakukan sesama manusia, menjaga lingkungan, serta menghadirkan manfaat ketika orang lain berada dalam kesulitan.
Selawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad saw., kepada keluarga, para sahabat, dan seluruh umat yang mengikuti jalan beliau hingga akhir zaman.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Hidup di Indonesia berarti hidup berdampingan dengan berbagai kemungkinan bencana. Gempa bumi, letusan gunung api, tsunami, banjir, tanah longsor, kekeringan, cuaca ekstrem, hingga kebakaran hutan dan lahan merupakan bagian dari risiko yang harus kita hadapi bersama.
Dalam beberapa waktu terakhir, kenyataan tersebut kembali berada dekat dengan kehidupan kita. Pada Agustus 2026, sejumlah wilayah Indonesia menghadapi kebakaran hutan dan lahan, kekeringan, cuaca ekstrem, serta banjir. Pada saat yang hampir bersamaan, aktivitas kegempaan juga masih dirasakan di berbagai daerah.
Keadaan ini mengingatkan kita bahwa bencana bukanlah persoalan yang jauh. Hari ini kita mungkin berada di tempat yang aman, tetapi saudara-saudara kita di tempat lain sedang berhadapan dengan kehilangan tempat tinggal, kesulitan memperoleh air bersih, kerusakan lingkungan, atau ketakutan akibat guncangan bumi.
Ketika musibah datang, biasanya solidaritas tumbuh dengan cepat. Bantuan dikumpulkan, relawan bergerak, dapur umum didirikan, tenaga kesehatan diterjunkan, dan masyarakat saling menguatkan. Di tengah kesulitan, kita sering menyaksikan sisi terbaik dari kemanusiaan.
Namun, bersamaan dengan itu, ruang digital juga menghadirkan persoalan lain. Ketika sebuah bencana terjadi, media sosial dengan cepat dipenuhi berbagai komentar. Tidak sedikit orang yang tergesa-gesa menghubungkan penderitaan suatu daerah dengan dosa dan kemaksiatan masyarakatnya. Musibah kemudian dijadikan alasan untuk menghakimi korban.
Pertanyaannya, pantaskah kita dengan mudah memastikan bahwa penderitaan orang lain adalah bentuk kemurkaan Allah? Apakah manusia memiliki pengetahuan untuk memastikan maksud Allah di balik setiap peristiwa?
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Fikih Kebencanaan Muhammadiyah memberikan cara pandang yang lebih utuh dalam memahami persoalan tersebut. Bencana tidak cukup dibaca hanya melalui satu sudut pandang. Ada dimensi keimanan, ada hukum alam atau sunnatullah, ada perilaku manusia, dan ada tanggung jawab sosial yang harus dilakukan setelah sebuah bencana terjadi.
Dalam keyakinan Islam, Allah adalah Zat Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Allah berfirman dalam QS Al-An‘am ayat 54:
وَإِذَا جَاۤءَكَ الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِاٰيٰتِنَا فَقُلْ سَلٰمٌ عَلَيْكُمْ كَتَبَ رَبُّكُمْ عَلٰى نَفْسِهِ الرَّحْمَةَۙ اَنَّهٗ مَنْ عَمِلَ مِنْكُمْ سُوْۤءًاۢ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ تَابَ مِنْۢ بَعْدِهٖ وَاَصْلَحَ فَاَنَّهٗ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
Artinya:
“Dan apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami datang kepadamu, maka katakanlah, “Salamun ‘alaikum (selamat sejahtera untuk kamu).” Tuhanmu telah menetapkan sifat kasih sayang pada diri-Nya (yaitu) barang-siapa berbuat kejahatan di antara kamu karena kebodohan, kemudian dia bertobat setelah itu dan memperbaiki diri, maka Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS Al-An‘am: 54).
Ayat tersebut mengingatkan bahwa cara kita membaca ketentuan Allah tidak boleh dilepaskan dari sifat kasih sayang-Nya.
Musibah yang menimpa manusia juga dapat menjadi ujian kehidupan. Allah Swt. berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ ١٥٥
الَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌۗ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ ١٥٦
Artinya:“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “inna lillahi wa inna ilaihi raji’un” (Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali).” (QS Al-Baqarah: 155–156).
Dengan demikian, ketika bencana menimpa suatu masyarakat, sikap pertama kita seharusnya bukan mencari kesalahan korban. Sikap seorang mukmin adalah menghadirkan empati, mendoakan mereka, serta memikirkan apa yang dapat dilakukan untuk mengurangi penderitaannya.
Musibah tidak boleh menjadi panggung untuk merasa lebih suci daripada orang yang sedang tertimpa kesulitan.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Di sisi lain, keimanan juga tidak membuat kita menutup mata terhadap sebab-sebab yang dapat dipelajari melalui ilmu pengetahuan.
Gempa bumi memiliki mekanisme geologis. Banjir dapat berkaitan dengan curah hujan, kondisi daerah aliran sungai, tata ruang, dan daya dukung lingkungan. Tanah longsor berkaitan dengan kondisi tanah, lereng, hujan, serta perubahan tutupan lahan. Kebakaran hutan dan lahan juga dapat diperparah oleh kekeringan dan tindakan manusia.
Karena itu, menerima sunnatullah tidak berarti menyerah tanpa ikhtiar.
Allah Swt. berfirman:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ
Artinya:“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS Ar-Rum: 41).
Ayat ini tidak berarti bahwa setiap bencana tertentu dapat kita pastikan sebagai hukuman atas dosa kelompok tertentu. Namun, ayat ini menegaskan bahwa tindakan manusia dapat menimbulkan kerusakan dan karena itu manusia memiliki tanggung jawab untuk memperbaiki perilakunya.
Maka muhasabah setelah bencana bukan hanya bertanya, “Dosa siapa yang menyebabkan bencana ini?” Muhasabah yang lebih penting adalah bertanya kepada diri kita, Apakah alam telah kita jaga? Apakah pembangunan telah memperhitungkan risiko dan keselamatan? Apakah pengetahuan tentang mitigasi telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat?”
Inilah bentuk ikhtiar yang juga merupakan bagian dari tanggung jawab keagamaan.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Ada pelajaran lain yang tidak kalah penting. Bencana bukan hanya menguji mereka yang menjadi korban. Bencana juga menguji kita yang sedang berada dalam keadaan aman.
Ketika saudara kita kehilangan rumah, apakah hati kita tergerak?
Ketika mereka membutuhkan makanan, air bersih, pelayanan kesehatan, tempat perlindungan, dan pendampingan, apakah kita hadir?
Ketika mereka berbeda agama, suku, bahasa, bahkan pandangan dengan kita, apakah pertolongan kita tetap diberikan?
Di sinilah solidaritas menemukan maknanya.
Pertolongan kemanusiaan harus diberikan kepada manusia karena ia membutuhkan pertolongan. Bukan karena ia berasal dari kelompok yang sama dengan kita.
Karena itu, setidaknya ada tiga sikap yang perlu menjadi pegangan ketika menghadapi bencana.
Pertama, menolong secara inklusif. Keselamatan manusia harus menjadi perhatian utama. Bantuan tidak boleh dibatasi oleh identitas agama, suku, ras, maupun golongan. Penderitaan manusia tidak mengenal sekat-sekat tersebut.
Kedua, menolong secara tepat dan bermartabat. Bantuan tidak cukup diberikan sekadar untuk menunjukkan bahwa kita pernah datang ke lokasi bencana. Apa yang diberikan harus berdasarkan kebutuhan masyarakat terdampak. Dokumentasi tidak boleh lebih penting daripada penderitaan korban. Kemanusiaan bukan panggung untuk mencari perhatian.
Ketiga, memikirkan pemulihan secara berkelanjutan. Setelah perhatian publik berkurang, para penyintas masih harus melanjutkan kehidupan. Ada rumah yang harus dibangun kembali, anak-anak yang harus kembali bersekolah, mata pencaharian yang harus dipulihkan, serta trauma yang membutuhkan pendampingan.
Karena itu, pertolongan tidak berhenti pada masa tanggap darurat. Semangat kemanusiaan harus terus hadir hingga masyarakat mampu berdiri kembali.
Perhatian khusus juga harus diberikan kepada kelompok yang memiliki kerentanan lebih besar, seperti anak-anak, lansia, perempuan, penyandang disabilitas, orang sakit, serta mereka yang kehilangan anggota keluarga dan sumber penghidupan.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Bencana pada akhirnya menghadapkan kita kepada dua kesadaran sekaligus.
Pertama, kesadaran bahwa manusia memiliki keterbatasan. Sebesar apa pun ilmu dan teknologi yang kita kuasai, manusia tetap tidak mampu mengendalikan seluruh peristiwa alam.
Namun yang kedua, manusia juga diberi akal, ilmu, dan tanggung jawab untuk mengurangi risiko. Kita dapat membangun dengan lebih aman, menjaga lingkungan, mengenali ancaman, menyiapkan jalur evakuasi, mendengarkan peringatan dini, mendidik masyarakat, serta saling menolong ketika keadaan darurat terjadi.
Tawakal tidak bertentangan dengan kesiapsiagaan.
Iman tidak bertentangan dengan ilmu pengetahuan.
Doa tidak meniadakan ikhtiar.
Bahkan, salah satu wujud keimanan adalah menggunakan seluruh kemampuan yang Allah berikan untuk menjaga kehidupan.
Maka ketika mendengar saudara kita tertimpa bencana, janganlah kita terlebih dahulu bertanya tentang kesalahan mereka. Tanyakanlah kepada diri sendiri:
Apa yang dapat kita lakukan untuk membantu?
Boleh jadi justru melalui pertanyaan itulah Allah sedang menguji keimanan dan kemanusiaan kita.
Semoga Allah Swt. melindungi bangsa dan negeri kita dari berbagai marabahaya, memberikan kekuatan kepada mereka yang sedang menghadapi musibah, menguatkan para relawan dan petugas kemanusiaan, serta menjadikan kita sebagai manusia yang ringan tangan dalam menolong sesama.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah Swt.,
Bencana mengajarkan bahwa kehidupan manusia saling terhubung. Kesulitan yang dialami seseorang atau suatu masyarakat semestinya menjadi panggilan bagi yang lain untuk menghadirkan pertolongan.
Sebagaimana firman Allah dalam QS Al-Mā’idah ayat 2:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan ketakwaan, dan janganlah kamu tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan.”
Marilah kita membiasakan diri melakukan mubadarah, yaitu berinisiatif dan proaktif dalam setiap kebaikan. Jangan menunggu musibah datang ke rumah kita sendiri untuk memahami penderitaan orang lain.
Kita juga perlu membangun budaya kesiapsiagaan. Menjaga lingkungan, memahami risiko di sekitar tempat tinggal, mengikuti informasi resmi ketika terjadi keadaan darurat, serta membantu masyarakat yang membutuhkan merupakan bagian dari ikhtiar menjaga kehidupan.
Semoga Allah memberikan kepada kita kekuatan untuk terus berbuat baik, membimbing kita agar mampu menjaga bumi yang telah diamanahkan-Nya, serta menjadikan kepedulian kepada sesama sebagai bagian dari ketakwaan kita.
Marilah kita menundukkan hati, memohon ampun, dan berdoa kepada Allah Swt.
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ، وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا، رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَحِيْمٌ
اللَّهُمَّ افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَأَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT