Editor
KOMPAS.com - Bencana tidak hanya menguji mereka yang menjadi korban, tetapi juga menguji kepedulian orang-orang yang berada dalam keadaan aman.
Sayangnya, di tengah derasnya informasi di media sosial, musibah terkadang justru dijadikan alasan untuk menghakimi korban dan mengaitkan penderitaan mereka dengan dosa tertentu.
Islam mengajarkan umatnya untuk merespons bencana dengan empati, ikhtiar, dan solidaritas.
Daripada mencari kesalahan korban, seorang Muslim semestinya memikirkan pertolongan yang dapat diberikan serta mengambil pelajaran untuk memperkuat mitigasi dan menjaga lingkungan.
Baca juga: Teks Pembukaan Khutbah Jumat: Khutbatul Hajah, Arab, Latin, dan Artinya
Berikut naskah khutbah Jumat bertema “Bencana, Ikhtiar, dan Solidaritas Kemanusiaan" dikutip dari laman Muhammadiyah:
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ:
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Marilah kita terus berupaya meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. Ketakwaan tidak hanya tampak dalam ibadah yang kita tunaikan, tetapi juga melalui sikap terhadap sesama, kepedulian dalam menjaga lingkungan, dan kesediaan memberi manfaat ketika orang lain menghadapi kesulitan.
Selawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad saw., kepada keluarga, para sahabat, dan seluruh umat yang mengikuti jalan beliau hingga akhir zaman.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Tinggal di Indonesia membuat kita tidak dapat melepaskan diri dari beragam risiko bencana. Gempa bumi, letusan gunung api, tsunami, banjir, tanah longsor, kekeringan, cuaca ekstrem, hingga kebakaran hutan dan lahan merupakan ancaman yang perlu kita hadapi bersama.
Dalam beberapa waktu terakhir, kenyataan tersebut kembali berada dekat dengan kehidupan kita. Pada Agustus 2026, sejumlah wilayah Indonesia menghadapi kebakaran hutan dan lahan, kekeringan, cuaca ekstrem, serta banjir. Pada saat yang hampir bersamaan, aktivitas kegempaan juga masih dirasakan di berbagai daerah.
Kondisi tersebut menyadarkan kita bahwa bencana bukan persoalan yang selalu jauh dari kehidupan. Saat ini kita mungkin berada di tempat yang aman, sementara saudara-saudara kita di wilayah lain harus menghadapi kehilangan tempat tinggal, kesulitan mendapatkan air bersih, kerusakan lingkungan, ataupun rasa takut akibat guncangan bumi.
Ketika musibah datang, biasanya solidaritas tumbuh dengan cepat. Bantuan dikumpulkan, relawan bergerak, dapur umum didirikan, tenaga kesehatan diterjunkan, dan masyarakat saling menguatkan. Di tengah kesulitan, kita sering menyaksikan sisi terbaik dari kemanusiaan.
Namun, pada saat yang sama, ruang digital memunculkan persoalan tersendiri. Begitu bencana terjadi, berbagai komentar dengan cepat memenuhi media sosial. Sebagian orang tergesa-gesa mengaitkan penderitaan suatu daerah dengan dosa dan kemaksiatan masyarakatnya. Akibatnya, musibah justru digunakan untuk menghakimi para korban.
Pertanyaannya, pantaskah kita dengan mudah memastikan bahwa penderitaan orang lain adalah bentuk kemurkaan Allah? Apakah manusia memiliki pengetahuan untuk memastikan maksud Allah di balik setiap peristiwa?
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Fikih Kebencanaan Muhammadiyah menawarkan sudut pandang yang menyeluruh untuk memahami persoalan tersebut. Bencana tidak semestinya dipahami hanya dari satu sisi. Di dalamnya terdapat dimensi keimanan, hukum alam atau sunnatullah, perilaku manusia, serta tanggung jawab sosial yang perlu dijalankan setelah bencana terjadi.
Dalam keyakinan Islam, Allah adalah Zat Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Allah berfirman dalam QS Al-An‘am ayat 54:
وَإِذَا جَاۤءَكَ الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِاٰيٰتِنَا فَقُلْ سَلٰمٌ عَلَيْكُمْ كَتَبَ رَبُّكُمْ عَلٰى نَفْسِهِ الرَّحْمَةَۙ اَنَّهٗ مَنْ عَمِلَ مِنْكُمْ سُوْۤءًاۢ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ تَابَ مِنْۢ بَعْدِهٖ وَاَصْلَحَ فَاَنَّهٗ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
Artinya:
“Dan apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami datang kepadamu, maka katakanlah, “Salamun ‘alaikum (selamat sejahtera untuk kamu).” Tuhanmu telah menetapkan sifat kasih sayang pada diri-Nya (yaitu) barang-siapa berbuat kejahatan di antara kamu karena kebodohan, kemudian dia bertobat setelah itu dan memperbaiki diri, maka Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS Al-An‘am: 54).
Ayat tersebut mengingatkan bahwa cara kita membaca ketentuan Allah tidak boleh dilepaskan dari sifat kasih sayang-Nya.
Musibah yang menimpa manusia juga dapat menjadi ujian kehidupan. Allah Swt. berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ ١٥٥
الَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌۗ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ ١٥٦
Artinya:
*“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “inna lillahi wa inna ilaihi raji’un” (Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali).” *(QS Al-Baqarah: 155–156).
Oleh sebab itu, saat bencana menimpa suatu masyarakat, respons pertama kita seharusnya bukan mencari-cari kesalahan korban. Seorang mukmin semestinya menunjukkan empati, mendoakan mereka, dan memikirkan ikhtiar yang dapat dilakukan untuk meringankan penderitaan.
Musibah tidak boleh menjadi panggung untuk merasa lebih suci daripada orang yang sedang tertimpa kesulitan.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Di sisi lain, keimanan tidak seharusnya membuat kita mengabaikan berbagai penyebab bencana yang dapat dipahami melalui ilmu pengetahuan.
Gempa bumi memiliki mekanisme geologis. Banjir dapat berkaitan dengan curah hujan, kondisi daerah aliran sungai, tata ruang, dan daya dukung lingkungan. Tanah longsor berkaitan dengan kondisi tanah, lereng, hujan, serta perubahan tutupan lahan. Kebakaran hutan dan lahan juga dapat diperparah oleh kekeringan dan tindakan manusia.
Karena itu, menerima sunnatullah tidak berarti menyerah tanpa ikhtiar.
Allah Swt. berfirman:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ
Artinya:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS Ar-Rum: 41).
Ayat tersebut bukanlah dasar bagi kita untuk memastikan bahwa setiap bencana merupakan hukuman atas dosa kelompok tertentu. Akan tetapi, ayat ini menegaskan bahwa perbuatan manusia dapat memicu kerusakan. Oleh karena itu, manusia bertanggung jawab memperbaiki perilakunya.
Karena itu, muhasabah setelah bencana tidak cukup dilakukan dengan bertanya, “Dosa siapa yang menyebabkan bencana ini?” Pertanyaan yang lebih penting untuk kita renungkan ialah, “Sudahkah alam kita jaga? Apakah pembangunan telah memperhitungkan risiko dan keselamatan? Sudahkah pengetahuan mengenai mitigasi menjadi bagian dari kehidupan masyarakat?”
Inilah bentuk ikhtiar yang juga merupakan bagian dari tanggung jawab keagamaan.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Terdapat pelajaran lain yang sama pentingnya. Bencana tidak hanya menjadi ujian bagi mereka yang terdampak, tetapi juga menguji kita yang sedang berada dalam kondisi aman.
Ketika saudara kita kehilangan rumah, apakah hati kita tergerak?
Ketika mereka membutuhkan makanan, air bersih, pelayanan kesehatan, tempat perlindungan, dan pendampingan, apakah kita hadir?
Ketika mereka berbeda agama, suku, bahasa, bahkan pandangan dengan kita, apakah pertolongan kita tetap diberikan?
Di sinilah solidaritas menemukan maknanya.
Pertolongan kemanusiaan diberikan kepada seseorang karena ia memang membutuhkan bantuan, bukan semata-mata karena berasal dari kelompok yang sama dengan kita.
Karena itu, setidaknya ada tiga sikap yang perlu menjadi pegangan ketika menghadapi bencana.
Pertama, menolong secara inklusif. Keselamatan manusia harus menjadi perhatian utama. Bantuan tidak boleh dibatasi oleh identitas agama, suku, ras, maupun golongan. Penderitaan manusia tidak mengenal sekat-sekat tersebut.
Kedua, memberikan pertolongan secara tepat dan bermartabat. Bantuan tidak boleh disalurkan sekadar untuk memperlihatkan bahwa kita pernah hadir di lokasi bencana. Bantuan harus disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat terdampak. Dokumentasi jangan sampai lebih diutamakan daripada penderitaan korban, sebab aksi kemanusiaan bukan panggung untuk mencari perhatian.
Ketiga, memikirkan pemulihan secara berkelanjutan. Setelah perhatian publik berkurang, para penyintas masih harus melanjutkan kehidupan. Ada rumah yang harus dibangun kembali, anak-anak yang harus kembali bersekolah, mata pencaharian yang harus dipulihkan, serta trauma yang membutuhkan pendampingan.
Dengan demikian, pertolongan tidak boleh berakhir ketika masa tanggap darurat selesai. Semangat kemanusiaan perlu tetap dijaga sampai masyarakat terdampak mampu bangkit dan menjalani kehidupannya kembali.
Perhatian khusus juga harus diberikan kepada kelompok yang memiliki kerentanan lebih besar, seperti anak-anak, lansia, perempuan, penyandang disabilitas, orang sakit, serta mereka yang kehilangan anggota keluarga dan sumber penghidupan.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Pada akhirnya, bencana membawa kita kepada dua kesadaran yang perlu direnungkan bersama.
Pertama, kita perlu menyadari keterbatasan manusia. Betapa pun maju ilmu dan teknologi yang dikuasai, manusia tetap tidak memiliki kemampuan untuk mengendalikan seluruh peristiwa alam.
Namun yang kedua, manusia juga diberi akal, ilmu, dan tanggung jawab untuk mengurangi risiko. Kita dapat membangun dengan lebih aman, menjaga lingkungan, mengenali ancaman, menyiapkan jalur evakuasi, mendengarkan peringatan dini, mendidik masyarakat, serta saling menolong ketika keadaan darurat terjadi.
Tawakal tidak bertentangan dengan kesiapsiagaan.
Iman tidak bertentangan dengan ilmu pengetahuan.
Doa tidak meniadakan ikhtiar.
Bahkan, memanfaatkan segenap kemampuan yang Allah anugerahkan untuk menjaga kehidupan merupakan salah satu wujud keimanan.
Karena itu, ketika mendengar saudara kita tertimpa bencana, janganlah kita buru-buru mempertanyakan kesalahan mereka. Sebaliknya, tanyakanlah kepada diri sendiri:
Apa yang dapat kita lakukan untuk membantu?
Boleh jadi justru melalui pertanyaan itulah Allah sedang menguji keimanan dan kemanusiaan kita.
Semoga Allah Swt. melindungi bangsa dan negeri kita dari berbagai marabahaya, memberikan kekuatan kepada mereka yang sedang menghadapi musibah, menguatkan para relawan dan petugas kemanusiaan, serta menjadikan kita sebagai manusia yang ringan tangan dalam menolong sesama.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah Swt.,
Bencana mengajarkan kepada kita bahwa kehidupan antarmanusia saling berkaitan. Kesulitan yang dialami seseorang ataupun suatu masyarakat sepatutnya menjadi panggilan bagi orang lain untuk memberikan pertolongan.
Sebagaimana firman Allah dalam QS Al-Mā’idah ayat 2:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan ketakwaan, dan janganlah kamu tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan.”
Marilah kita membangun kebiasaan melakukan mubadarah, yakni mengambil inisiatif dan bergerak proaktif dalam setiap kebaikan. Janganlah menunggu musibah menimpa rumah kita sendiri sebelum memahami penderitaan orang lain.
Kita pun perlu menumbuhkan budaya kesiapsiagaan. Upaya menjaga lingkungan, mengenali risiko di sekitar tempat tinggal, mengikuti informasi resmi saat terjadi keadaan darurat, dan membantu masyarakat yang membutuhkan merupakan bagian dari ikhtiar untuk melindungi kehidupan.
Semoga Allah memberikan kepada kita kekuatan untuk terus berbuat baik, membimbing kita agar mampu menjaga bumi yang telah diamanahkan-Nya, serta menjadikan kepedulian kepada sesama sebagai bagian dari ketakwaan kita.
Marilah kita menundukkan hati, memohon ampun, dan berdoa kepada Allah Swt.
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ، وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا، رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَحِيْمٌ
اللَّهُمَّ افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَأَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
Referensi:
Arif Jamali Muis. “Bencana dan Solidaritas.” Dalam Kumpulan Khutbah Jumat: Spirit Darul Ahdi Wasy-Syahadah dalam Membangun Mental Anak Bangsa.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT