Editor
JAKARTA, KOMPAS.com — Bangunan tidak hanya menjadi tempat manusia tinggal, bekerja, dan beraktivitas. Penggunaan energi, air, material, hingga limbah yang dihasilkan membuat sektor bangunan memiliki peran dalam upaya mengurangi dampak perubahan iklim.
Green Building Council Indonesia (GBCI) mendorong peningkatan penerapan prinsip bangunan hijau di Indonesia, dengan aspirasi agar bangunan dapat menuju kondisi beroperasi Net Zero pada 2030.
Upaya tersebut salah satunya dilakukan dengan mendeklarasikan September sebagai Bulan Bangunan Hijau Indonesia.
Baca juga: Bromo Kembali Dibuka, Bagaimana Islam Mengajarkan Menjaga Alam?
Deklarasi disampaikan dalam pembukaan Indonesia Green Building Festival (IGBF) 2026 di Jakarta, yang dihadiri sekitar 400 peserta dari unsur pemerintah, industri, akademisi, profesional, komunitas, dan pemangku kepentingan sektor bangunan.
Ketua Umum GBCI Ignesjz Kemalawarta mengatakan, transformasi menuju pembangunan yang lebih ramah lingkungan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.
"Transformasi hijau Indonesia membutuhkan perubahan yang hadir di setiap tempat dan melibatkan berbagai pihak. Setiap bangunan, di mana pun berada, memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang lebih sehat, efisien, dan berkelanjutan," ujar Ignesjz.
Menurut dia, gerakan tersebut perlu diperluas agar upaya meningkatkan kinerja bangunan tidak berhenti pada bangunan tertentu.
"Melalui Indonesia Green Building Festival, kami ingin menggerakkan semangat tersebut dari bangunan menjadi gerakan bersama, untuk membangun Indonesia dan menghadirkan kehidupan yang lebih baik," lanjutnya.
Baca juga: Mengenal Ecotheopedagogy, Cara Pendidikan Islam Menjaga Alam
Deklarasi September sebagai Bulan Bangunan Hijau Indonesia.Bangunan hijau pada dasarnya tidak hanya berkaitan dengan keberadaan tanaman atau ruang terbuka hijau di sebuah bangunan.
Prinsip tersebut mencakup bagaimana sebuah bangunan dirancang, dibangun, dan dioperasikan agar menggunakan sumber daya secara lebih efisien serta mengurangi dampaknya terhadap lingkungan.
Upaya itu dapat dilakukan melalui penggunaan energi dan air yang lebih efisien, pemanfaatan energi terbarukan, pemilihan material yang lebih bertanggung jawab, hingga pengurangan dan pengelolaan limbah.
Kinerja bangunan juga perlu memperhatikan kesehatan dan kenyamanan orang yang menggunakannya.
Penerapan prinsip tersebut dapat memberikan manfaat lain berupa penggunaan energi dan air yang lebih hemat serta menekan biaya operasional bangunan.
Dalam perspektif Islam, menjaga lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi. Al-Qur'an juga mengingatkan manusia agar tidak berlebih-lebihan dalam menggunakan sumber daya.
Prinsip tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam cara manusia membangun dan menggunakan tempat tinggal maupun ruang aktivitasnya.
Dengan demikian, penggunaan energi dan air secara efisien serta upaya mengurangi limbah tidak hanya berkaitan dengan persoalan teknis bangunan, tetapi juga mencerminkan tanggung jawab manusia dalam menjaga sumber daya dan lingkungan.
GBCI menetapkan September sebagai Bulan Bangunan Hijau Indonesia yang akan diperingati setiap tahun.
Momentum tersebut ditujukan untuk meningkatkan kesadaran mengenai bangunan hijau sekaligus mendorong kolaborasi pemerintah, industri, akademisi, profesional, pemilik dan pengelola bangunan, serta masyarakat.
GBCI membawa aspirasi mendorong bangunan di Indonesia menuju kondisi beroperasi Net Zero pada 2030 sebagai bagian dari kontribusi sektor bangunan terhadap target Net Zero Emission Indonesia 2060.
Pencapaian target tersebut membutuhkan peningkatan kinerja bangunan selama masa penggunaannya.
Selain pemerintah yang berperan dalam kebijakan dan regulasi, industri dibutuhkan untuk mengembangkan teknologi dan inovasi.
Akademisi berperan melalui riset, sementara profesional, pemilik, pengelola, dan pengguna menentukan bagaimana prinsip tersebut diterapkan.
Dorong Bangunan yang Sudah Beroperasi Lebih Hijau
Dalam IGBF 2026, GBCI juga memperkenalkan Greenship Data Center dan Greenship Existing Building 1.2.
Instrumen tersebut dikembangkan untuk mendorong peningkatan kinerja bangunan, termasuk fasilitas dengan kebutuhan operasional khusus serta bangunan yang sudah digunakan.
Rangkaian IGBF 2026 juga membahas sejumlah isu, antara lain material berkelanjutan, konstruksi rendah karbon, ekonomi sirkular, energi, peta jalan net zero, kinerja bangunan, serta riset dan inovasi.
Kegiatan juga akan diperluas ke sejumlah daerah melalui GBCI Goes to 5 Cities dan Sosialisasi Kampung.
Melalui rangkaian tersebut, GBCI berharap pemahaman mengenai bangunan hijau tidak hanya berkembang di kalangan profesional, tetapi juga semakin dekat dengan masyarakat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT