Editor
DENPASAR, KOMPAS.com — Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) berlangsung sangat cepat dan mulai memengaruhi berbagai aspek kehidupan.
Namun, di tengah euforia teknologi tersebut, muncul pertanyaan besar: apakah AI akan membuat kehidupan lebih baik atau justru membuat manusia kehilangan sesuatu yang paling mendasar dari dirinya?
Pertanyaan itu menjadi salah satu fokus pembahasan dalam World Encounter Summit 2026 yang mempertemukan pemimpin pemerintahan, pemuda, akademisi, tokoh agama, perusahaan teknologi, dan masyarakat sipil dari berbagai negara di Bali.
Baca juga: 6 Nilai Al-Quran yang Bisa Jadi Pedoman Menggunakan AI
Rangkaian forum diawali dengan Bali Harmony Dialogue di United In Diversity (UID) Bali Campus, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali.
Forum tersebut kemudian dilanjutkan dengan XI International Scholas Chairs Congress 2026 pada 4–6 September 2026.
Peserta dari lima benua membahas dampak AI terhadap berbagai aspek kehidupan, mulai dari pendidikan, dunia kerja, kesehatan mental generasi muda, demokrasi, hingga hubungan sosial.
Salah satu isu yang menjadi perhatian adalah kesenjangan dalam pengembangan dan pemanfaatan AI.
Sebab, tidak semua negara memiliki akses yang setara terhadap data, daya komputasi, infrastruktur digital, talenta, maupun kemampuan mengatur teknologi tersebut.
Karena itu, pemerataan manfaat AI dinilai bukan semata-mata persoalan teknologi, melainkan juga berkaitan dengan keadilan sosial, ekonomi, moral, dan lingkungan.
Ketua Dewan Ekonomi Nasional RI Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, Indonesia perlu membangun kapasitas teknologi sendiri agar tidak hanya menjadi pengguna.
“Salah satunya melalui pengembangan AI yang ditopang energi bersih serta pendidikan STEM,” ujar Luhut dalam rilisnya, Sabtu (5/9/2026).
Baca juga: 3 Pesan Al-Quran dalam Menghadapi Krisis Kemanusiaan
Sementara itu, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menegaskan, tingginya penggunaan AI oleh generasi muda Indonesia harus diikuti dengan penguatan riset, talenta, infrastruktur, dan kebijakan.
“Penggunaan saja tidak otomatis menjadi kapasitas nasional,” kata Meutya.
Menurut dia, Indonesia memiliki peluang untuk menjadi pencipta teknologi, bukan sekadar pasar bagi produk-produk AI dari negara lain.
Direktur Eksekutif Scholas Occurrentes Maria Paz Jurado mengingatkan, pertanyaan terbesar pada era AI tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mesin.
Menurut Maria, dunia juga perlu menentukan manusia seperti apa yang ingin dibangun bersama perkembangan teknologi tersebut.
Dengan demikian, kemajuan AI tidak cukup hanya diukur dari kecanggihan teknologi atau besarnya manfaat ekonomi yang dihasilkan.
Perkembangannya juga perlu diarahkan untuk menjaga martabat manusia, memperkuat hubungan sosial, serta memastikan tidak ada kelompok atau negara yang tertinggal.
Islam sendiri tidak menolak perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Wahyu pertama Al-Qur'an bahkan diawali dengan perintah membaca, iqra', dalam QS Al-'Alaq ayat 1.
Namun, perintah tersebut dilanjutkan dengan frasa bismi rabbik atau "dengan nama Tuhanmu". Hal itu menunjukkan bahwa membaca dan mengembangkan pengetahuan perlu disertai kesadaran ketuhanan dan tanggung jawab moral.
Karena itu, ada beberapa nilai Qurani yang dapat menjadi pedoman dalam menggunakan AI, mulai dari tabayyun atau memeriksa kebenaran informasi hingga larangan menggunakan teknologi untuk menimbulkan kerusakan.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT