Editor
KOMPAS.com — Krisis kemanusiaan tidak hanya berkaitan dengan konflik dan hilangnya rasa aman, tetapi juga dapat muncul akibat kerusakan lingkungan, keterbatasan air bersih, hingga terganggunya akses masyarakat terhadap pangan, kesehatan, dan pendidikan.
Dalam menghadapi persoalan tersebut, Al-Quran memberikan sejumlah prinsip yang dapat menjadi pijakan dalam menjaga alam sekaligus melindungi kehidupan dan martabat manusia.
Alumni Ma’had Aly Al-Iman Bulus, Purworejo, Jawa Tengah, Muhammad Ryan Romadhon mengatakan, Al-Qur'an memang tidak memberikan solusi teknis untuk setiap persoalan sosial.
Namun, kitab suci umat Islam tersebut memberikan kerangka etis mengenai bagaimana manusia memperlakukan alam dan sesamanya.
Baca juga: Kemenag Perkenalkan Ekoteologi di Kairo: Agama Solusi Krisis Lingkungan
Menurut Ryan, sedikitnya terdapat tiga pesan Al-Qur'an yang relevan dalam menghadapi krisis kemanusiaan, yakni tanggung jawab manusia terhadap kerusakan lingkungan, penghormatan terhadap martabat manusia, serta perlindungan terhadap kehidupan.
Prinsip pertama berkaitan dengan tanggung jawab manusia terhadap alam.
Persoalan seperti kebakaran hutan, kekeringan, pencemaran, dan berbagai bentuk kerusakan lingkungan tidak selalu dapat dilepaskan dari cara manusia mengelola alam dan sumber daya.
Persoalan tersebut antara lain disinggung dalam Surat Ar-Rum ayat 41:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ
Artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS Ar-Rum: 41).
Ryan menjelaskan, ayat tersebut tidak hanya berbicara mengenai kerusakan sebagai sebuah keadaan, tetapi juga menghubungkannya dengan tindakan manusia.
Karena itu, persoalan ekologis tidak cukup hanya direspons ketika bencana telah terjadi.
Pencegahan dan evaluasi terhadap cara manusia mengelola lingkungan juga diperlukan.
Syekh Wahbah al-Zuhaili dalam Tafsir al-Munir menjelaskan, berbagai kerusakan yang terjadi dapat mendorong manusia melakukan introspeksi dan kembali kepada Allah.
Dalam konteks saat ini, menurut Ryan, pesan tersebut dapat menjadi pengingat bahwa pengelolaan alam perlu memperhatikan dampaknya terhadap kehidupan manusia.
Aktivitas ekonomi dan pembangunan, misalnya, tidak semestinya mengabaikan hak masyarakat untuk mendapatkan lingkungan yang sehat dan aman.
Prinsip kedua adalah penghormatan terhadap martabat manusia, terutama mereka yang berada dalam situasi rentan.
Dalam sebuah krisis, anak-anak, perempuan, lansia, hingga masyarakat yang tinggal di wilayah terpencil dapat menghadapi risiko lebih besar karena keterbatasan akses terhadap pangan, kesehatan, pendidikan, dan perlindungan.
Al-Qur'an menegaskan kemuliaan manusia melalui Surat Al-Isra' ayat 70:
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِيْٓ اٰدَمَ وَحَمَلْنٰهُمْ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنٰهُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ وَفَضَّلْنٰهُمْ عَلٰى كَثِيْرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيْلًا
Artinya: “Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam dan Kami angkut mereka di darat dan di laut. Kami anugerahkan pula kepada mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.” (QS Al-Isra': 70).
Menurut Ryan, frasa wa laqad karramna bani Adam menunjukkan bahwa manusia memiliki kemuliaan yang melekat pada dirinya.
Syekh Ahmad Mustafa al-Maraghi dalam Tafsir al-Maraghi menjelaskan, kemuliaan tersebut antara lain berkaitan dengan bentuk fisik, kemampuan berpikir, bahasa, pengetahuan, serta kemampuan manusia mengembangkan berbagai sarana kehidupan.
Prinsip tersebut, kata Ryan, memiliki relevansi dalam upaya melindungi kelompok rentan ketika terjadi krisis kemanusiaan.
Sekolah dan pesantren, misalnya, bukan hanya tempat berlangsungnya pendidikan, tetapi juga perlu menjadi ruang aman bagi anak-anak.
Demikian pula masyarakat yang tinggal di wilayah konflik tetap memiliki hak terhadap pangan, air bersih, kesehatan, pendidikan, serta perlindungan.
Dengan demikian, melindungi kelompok rentan bukan hanya persoalan bantuan kemanusiaan, tetapi juga bagian dari upaya menjaga martabat manusia.
Dikutip dari NU Online, prinsip ketiga berkaitan dengan tingginya nilai kehidupan manusia.
Pesan tersebut salah satunya terdapat dalam Surat Al-Ma'idah ayat 32:
مِنْ اَجْلِ ذٰلِكَۛ كَتَبْنَا عَلٰى بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ اَنَّهٗ مَنْ قَتَلَ نَفْسًا ۢ بِغَيْرِ نَفْسٍ اَوْ فَسَادٍ فِى الْاَرْضِ فَكَاَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيْعًاۗ وَمَنْ اَحْيَاهَا فَكَاَنَّمَآ اَحْيَا النَّاسَ جَمِيْعًاۗ
Artinya: “Oleh karena itu, Kami menetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil bahwa siapa yang membunuh seseorang bukan karena (orang yang dibunuh itu) telah membunuh orang lain atau karena telah berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia. Sebaliknya, siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, dia seakan-akan telah memelihara kehidupan semua manusia.” (QS Al-Ma'idah: 32).
Ryan menjelaskan, ayat tersebut memang berbicara mengenai ketentuan yang ditetapkan bagi Bani Israil. Namun, terdapat pesan moral mengenai tingginya nilai kehidupan manusia.
Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya mengutip penjelasan Ibnu Abbas bahwa orang yang menjaga satu jiwa dan kehormatannya dapat diibaratkan seperti menjaga kehidupan seluruh manusia.
Prinsip tersebut membuat korban dalam sebuah krisis tidak semestinya hanya dilihat sebagai angka statistik.
Kehilangan satu nyawa dapat membawa dampak besar bagi keluarga. Demikian pula anak yang kehilangan rasa aman atau keluarga yang tidak memperoleh akses pangan dan air bersih dapat mengalami dampak berkepanjangan.
Karena itu, upaya menyelamatkan kehidupan dapat dilakukan dalam berbagai bentuk.
Memberikan pangan kepada masyarakat terdampak konflik, menyediakan air bersih bagi warga yang mengalami kekeringan, memberikan layanan kesehatan kepada korban bencana, hingga memastikan anak memperoleh tempat pendidikan yang aman merupakan bagian dari penghormatan terhadap kehidupan.
Ryan mengatakan, ketiga ayat tersebut memberikan perspektif yang saling berkaitan dalam menghadapi krisis kemanusiaan.
Surat Ar-Rum ayat 41 mengingatkan mengenai hubungan antara tindakan manusia dan kerusakan di bumi. Surat Al-Isra' ayat 70 memberikan prinsip mengenai kemuliaan manusia, sedangkan Surat Al-Ma'idah ayat 32 menunjukkan tingginya nilai sebuah kehidupan.
Ketiganya bertemu pada prinsip tanggung jawab manusia, baik terhadap alam maupun sesama.
Menurut Ryan, membaca Al-Qur'an dalam konteks krisis kemanusiaan bukan sekadar mencari ayat yang berkaitan dengan sebuah peristiwa.
Nilai-nilai Al-Qur'an juga dapat digunakan untuk mengevaluasi cara manusia merespons persoalan, mulai dari bagaimana alam dikelola hingga sejauh mana kelompok rentan mendapatkan perlindungan.
Dengan perspektif tersebut, pesan Al-Qur'an tidak berhenti pada pemahaman teks, tetapi dapat diwujudkan melalui tindakan menjaga kehidupan, merawat bumi, dan memuliakan sesama.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT