Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Penerbangan Batal Imbas Erupsi Anak Krakatau, Puluhan Jemaah Umrah Ditampung di Asrama Haji Sudiang

Kompas.com, 7 September 2026, 06:37 WIB
Reni Susanti

Editor

MAKASSAR, KOMPAS.com — Sedikitnya 50 jemaah dari dua rombongan umrah tertahan di Makassar, Sulawesi Selatan, setelah penerbangan menuju Jakarta dibatalkan akibat sebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau, Minggu (6/9/2026).

Sebanyak 20 jemaah dari sejumlah kabupaten untuk sementara diinapkan di Asrama Haji Sudiang.

Sementara itu, 30 jemaah asal Luwu Timur masih menunggu kepastian penerbangan lanjutan dari maskapai dan pihak perusahaan perjalanan.

Baca juga: Anak Krakatau Erupsi, Ini Doa yang Dianjurkan Rasulullah Saat Gunung Meletus

Liaison Officer Kementerian Haji dan Umrah Sulawesi Selatan di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Rizal, mengatakan, pihaknya telah menyiapkan tempat menginap bagi rombongan pertama.

“Kita sudah siapkan lima kamar, masing-masing berisi empat tempat tidur, di asrama,” kata Rizal dikutip dari Tribunnews, Senin (7/9/2026). 

Sebagian jemaah lainnya memilih kembali ke rumah masing-masing untuk menunggu pemberitahuan lebih lanjut dari pihak travel.

Biaya akomodasi selama masa penantian ditanggung perusahaan perjalanan.

Rombongan pertama menunggu sejak pagi

Rombongan pertama yang berjumlah sekitar 20 orang berasal dari sejumlah kabupaten di Sulawesi Selatan.

Mereka semula dijadwalkan terbang menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, menggunakan Pelita Air pada pukul 10.10 WITA.

Para jemaah telah tiba di Bandara Sultan Hasanuddin sejak sekitar pukul 06.00 WITA. Hingga pukul 14.30 WITA, mereka masih menunggu kepastian keberangkatan di selasar terminal.

Setelah tiba di Jakarta, rombongan tersebut sedianya bergabung dengan jemaah lain dari sejumlah perusahaan perjalanan di Jawa, Sumatera, dan Kalimantan sebelum melanjutkan perjalanan menuju Tanah Suci.

Namun, hingga Minggu siang, pihak travel belum memperoleh kepastian mengenai jadwal penerbangan pengganti. Para jemaah kemudian diminta menunggu di Asrama Haji Sudiang.

Baca juga: Dampak Erupsi Gunung Anak Krakatau, Garuda Indonesia Alihkan Penerbangan Jamaah Umrah ke Aceh

Sebanyak 30 jemaah asal Luwu Timur ikut tertahan

Secara terpisah, sebanyak 30 jemaah umrah asal Luwu Timur juga tertahan di Bandara Sultan Hasanuddin.

Rombongan yang diberangkatkan Towuti Travel itu dijadwalkan terbang menuju Jakarta menggunakan Garuda Indonesia pada pukul 11.10 WITA.

Pemilik Towuti Travel, Mansur Taswin, mengatakan, pembatalan penerbangan baru diketahui setelah dirinya bersama para jemaah berada di bandara. Mereka bahkan telah mendapatkan kartu naik pesawat dan memasuki ruang tunggu.

“Kami mau berangkat umrah sesuai jadwal, yaitu pukul 11.10 dari Makassar ke Jakarta,” kata Mansur saat ditemui di Bandara Sultan Hasanuddin.

“Sudah boarding, sudah dapat boarding pass. Setelah masuk ke ruang tunggu, ternyata ada informasi dari Jakarta bahwa penerbangan dibatalkan,” lanjutnya.

Sebagian jemaah telah berada di bandara sejak pukul 08.00 WITA, sedangkan yang lain datang sekitar pukul 09.00 WITA.

Pihak travel masih menunggu kepastian dari Garuda Indonesia mengenai penerbangan pengganti ataupun kemungkinan pengembalian biaya tiket.

“Kami menunggu dari pihak penerbangan, dari Garuda. Belum ada informasi pasti setelah dikatakan dibatalkan sementara. Kami diminta melakukan konfirmasi ke bagian ticketing,” ujar Mansur.

“Belum ada pembicaraan mengenai refund atau reschedule,” sambungnya.

Untuk sementara, 30 jemaah tersebut masih berada di area ruang tunggu Bandara Sultan Hasanuddin.

Mengingat banyak jemaah berasal dari luar daerah, pihak travel akan berkoordinasi dengan maskapai apabila mereka harus menginap.

“Kami belum tahu. Kalau nantinya harus diinapkan, kami akan berkonsultasi dengan pihak penerbangan atau maskapai,” kata Mansur.

Enam penerbangan dibatalkan

Pembatalan tidak hanya dialami dua rombongan jemaah umrah. Sejumlah penerbangan dari Bandara Sultan Hasanuddin menuju Jakarta juga dibatalkan pada Minggu.

Berdasarkan informasi pada papan keberangkatan, sedikitnya enam penerbangan dibatalkan, yakni:

• Citilink QG-345 tujuan Jakarta, pukul 06.15 WITA;
• Batik Air ID-6265 tujuan Jakarta, pukul 06.25 WITA;
• Garuda Indonesia GA-617 tujuan Jakarta, pukul 07.15 WITA;
• Batik Air ID-6267 tujuan Jakarta, pukul 10.05 WITA;
• Pelita Air IP-807 tujuan Jakarta, pukul 10.10 WITA;
• Citilink QG-351 tujuan Surabaya, pukul 10.45 WITA.

Pada papan informasi Bandara Sultan Hasanuddin, alasan pembatalan penerbangan tercantum sebagai cuaca buruk.

Sementara itu, pembatalan penerbangan menuju Jakarta terjadi setelah operasional Bandara Soekarno-Hatta dihentikan sementara karena terdeteksi sebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau.

Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan sebelumnya menyatakan, penutupan dilakukan setelah paper test di Bandara Soekarno-Hatta menunjukkan indikasi positif keberadaan abu vulkanik.

Operasional bandara semula dihentikan pada pukul 01.30–05.30 WIB. Penutupan kemudian diperpanjang hingga pukul 09.30 WIB.

Kondisi tersebut menyebabkan kepadatan penumpang di Terminal Keberangkatan Bandara Sultan Hasanuddin. Kursi di ruang tunggu dipenuhi penumpang yang menanti kepastian, sedangkan puluhan orang mendatangi konter pelayanan maskapai.

Hingga Minggu siang, pihak pengelola Bandara Sultan Hasanuddin belum menyampaikan jumlah keseluruhan penerbangan yang dibatalkan.

Bupati Maros memilih pengembalian dana

Salah seorang penumpang yang terdampak pembatalan penerbangan adalah Bupati Maros Chaidir Syam.

Chaidir telah berada di bandara sejak pukul 04.00 WITA atau sekitar dua jam sebelum jadwal keberangkatannya menggunakan Batik Air.

“Sebenarnya saya menggunakan pesawat Batik Air pukul 06.20 WITA, tetapi dibatalkan sehingga gagal berangkat,” kata Chaidir.

Menurut dia, pihak maskapai memberikan dua pilihan kepada penumpang, yakni pengembalian biaya tiket atau penjadwalan ulang penerbangan.

Chaidir memilih pengembalian dana sebesar Rp2,1 juta karena belum ada kepastian mengenai jadwal penerbangan pengganti.

“Ada opsi reschedule, hanya saja belum ada jadwal pastinya. Jadi, saya memilih refund,” ujarnya.

Chaidir sedianya pergi ke Jakarta untuk memenuhi undangan berkaitan dengan hasil revalidasi Geopark Maros-Pangkep. Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung Senin (7/9/2026), sedangkan registrasi dilakukan sehari sebelumnya.

Sebelum berangkat ke bandara, Chaidir mengaku telah memperoleh informasi mengenai erupsi Gunung Anak Krakatau dari media sosial.

“Kami sudah mendapat berita di TikTok dan ditanya oleh anak saya. Namun, kami mengatakan tidak apa-apa, mungkin tetap bisa terbang,” ucapnya.

Chaidir mengapresiasi keputusan otoritas penerbangan dan maskapai yang mengutamakan keselamatan penumpang.

“Kita tidak menyangka ada kejadian luar biasa ketika Gunung Anak Krakatau meletus dan berdampak langsung terhadap penerbangan,” katanya.

“Lebih baik kita menghindari dampak buruk daripada memaksakan terbang yang dapat berakibat fatal, bahkan menimbulkan korban jiwa,” sambung Chaidir.

Artikel ini telah tayang di Tribun-Timur.com dengan judul Efek Krakatau: Tertahan di Bandara, 30 Jamaah Umrah Asal Luwu Timur Batal Terbang ke Jakarta

Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT



Terkini Lainnya
5 Ibadah dan Aktivitas Selain Shalat yang Berkaitan dengan Arah Kiblat
5 Ibadah dan Aktivitas Selain Shalat yang Berkaitan dengan Arah Kiblat
Aktual
Penerbangan Batal Imbas Erupsi Anak Krakatau, Puluhan Jemaah Umrah Ditampung di Asrama Haji Sudiang
Penerbangan Batal Imbas Erupsi Anak Krakatau, Puluhan Jemaah Umrah Ditampung di Asrama Haji Sudiang
Aktual
Deklarasi GIHES 2026: AI Harus Menjadi Alat Pendukung, Bukan Penentu Pendidikan
Deklarasi GIHES 2026: AI Harus Menjadi Alat Pendukung, Bukan Penentu Pendidikan
Aktual
Shalat Tidak Khusyuk, Apakah Ibadahnya Sah dan Diterima?
Shalat Tidak Khusyuk, Apakah Ibadahnya Sah dan Diterima?
Aktual
Muhammadiyah: Islam Beri Ruang Perbedaan Pemikiran Selama Tak Langgar Dalil yang Pasti
Muhammadiyah: Islam Beri Ruang Perbedaan Pemikiran Selama Tak Langgar Dalil yang Pasti
Aktual
Dampak Erupsi Gunung Anak Krakatau, Garuda Indonesia Alihkan Penerbangan Jamaah Umrah ke Aceh
Dampak Erupsi Gunung Anak Krakatau, Garuda Indonesia Alihkan Penerbangan Jamaah Umrah ke Aceh
Aktual
Assalamualaikum: Tulisan Arab, Latin, Arti, Jawaban, dan Keutamaannya
Assalamualaikum: Tulisan Arab, Latin, Arti, Jawaban, dan Keutamaannya
Doa Harian
4 Adab Utama saat Berdoa, Apakah Mengusap Wajah Setelah Selesai Wajib Dilakukan?
4 Adab Utama saat Berdoa, Apakah Mengusap Wajah Setelah Selesai Wajib Dilakukan?
Aktual
Surat Al Kahfi Lengkap 110 Ayat: Arab, Latin, Arti, dan Tafsir
Surat Al Kahfi Lengkap 110 Ayat: Arab, Latin, Arti, dan Tafsir
Doa Harian
Kumpulan Doa Saat Gunung Meletus untuk Memohon Perlindungan dan Keselamatan
Kumpulan Doa Saat Gunung Meletus untuk Memohon Perlindungan dan Keselamatan
Doa dan Niat
Bencana Ini Musibah atau Azab? Simak Pengertian dan Perbedaannya dalam Islam
Bencana Ini Musibah atau Azab? Simak Pengertian dan Perbedaannya dalam Islam
Aktual
4 Sikap yang Diajarkan Rasulullah SAW Saat Menghadapi Musibah
4 Sikap yang Diajarkan Rasulullah SAW Saat Menghadapi Musibah
Aktual
Cemas dan Stres Mendengar Kabar Bencana, Amalkan Doa yang Diajarkan Rasulullah SAW
Cemas dan Stres Mendengar Kabar Bencana, Amalkan Doa yang Diajarkan Rasulullah SAW
Doa dan Niat
Anak Krakatau Erupsi, Ini Doa yang Dianjurkan Rasulullah Saat Gunung Meletus
Anak Krakatau Erupsi, Ini Doa yang Dianjurkan Rasulullah Saat Gunung Meletus
Doa dan Niat
Doa Saat Menghadapi Bencana Alam, Ini Bacaan yang Bisa Diamalkan Hari Ini
Doa Saat Menghadapi Bencana Alam, Ini Bacaan yang Bisa Diamalkan Hari Ini
Doa dan Niat
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar