Editor
JAKARTA, KOMPAS.com — Global Islamic Holistic Education Summit (GIHES) 2026 menghasilkan deklarasi yang mendorong pergeseran sistem pendidikan global menuju pendekatan lebih holistik.
Deklarasi tersebut juga menekankan bahwa kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) harus ditempatkan sebagai alat pendukung pendidikan, bukan menjadi satu-satunya dasar untuk menilai kepribadian dan kemampuan peserta didik.
Rektor Universitas Darussalam (Unida) Gontor sekaligus Ketua Peringatan 100 Tahun Gontor, Prof Dr Hamid Fahmy Zarkasyi, mengatakan, perkembangan teknologi tidak boleh membuat pendidikan mengabaikan keutuhan manusia.
“Di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan, kita harus melihat kepribadian seseorang secara utuh dan tidak boleh hanya berbasis penilaian AI semata. Setiap individu tetap dituntut untuk menjaga integritas serta keaslian jati dirinya,” kata Hamid dalam konferensi GIHES 2026 di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Minggu (6/9/2026).
Baca juga: Pendidikan 24 Jam ala Pesantren Dinilai Relevan dengan Kebutuhan Zaman, Mengapa?
Menurut Hamid, pendidikan perlu mengembangkan manusia secara menyeluruh, bukan sekadar meningkatkan kemampuan intelektual dan penguasaan teknologi.
Pendekatan tersebut diperlukan untuk membentuk peserta didik yang memiliki ketangguhan sekaligus jati diri yang kuat.
Ia menilai sistem pendidikan yang berjalan saat ini masih terlalu menitikberatkan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
“Sistem pendidikan saat ini terlalu menekankan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga belum sepenuhnya mengimplementasikan pilar-pilar pendidikan yang dikemukakan UNESCO dan para pakar pendidikan,” ujar Hamid.
Baca juga: Kemenag Buka 3 Bantuan untuk Pesantren, Nilainya hingga Rp 100 Juta
Dalam forum yang sama, Ketua Panitia GIHES 2026, KH Anang Rikza Masyhadi, mengatakan, pendidikan berkualitas tidak hanya berorientasi pada proses belajar mengajar dan pencapaian akademik.
Pendidikan juga perlu membentuk kemampuan peserta didik secara menyeluruh, mulai dari kemampuan kognitif dan intelektual hingga keterampilan yang dibutuhkan untuk menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
“Tema utama seminar ini adalah sistem pendidikan berkualitas tinggi. Ini bukan hanya tentang mendidik, tetapi juga memberikan keterampilan kognitif, intelektual, dan kemampuan lainnya,” kata Anang.
Menurut dia, pendekatan holistik dibutuhkan karena berbagai persoalan dunia tidak cukup diselesaikan hanya melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Pendidikan juga harus membantu peserta didik memahami persoalan lingkungan, perdamaian, kehidupan sosial, serta tantangan kemanusiaan yang semakin kompleks.
Anang mengatakan, AI dan berbagai teknologi lainnya seharusnya digunakan sebagai alat yang membantu kehidupan manusia.
Teknologi tidak boleh menggantikan tujuan utama pendidikan dalam membentuk manusia yang berpengetahuan, berkarakter, dan mampu bertanggung jawab atas pilihannya.
Karena itu, pemanfaatan AI dalam pendidikan perlu disertai etika, integritas, serta penghormatan terhadap keaslian pemikiran peserta didik.
Pendekatan tersebut menjadi penting agar penggunaan teknologi tidak membuat proses pendidikan hanya berorientasi pada hasil yang dapat diukur secara otomatis, tetapi tetap memperhatikan perkembangan karakter dan sisi kemanusiaan setiap individu.
GIHES 2026 diikuti lebih dari 300 peserta yang berasal dari kalangan pemimpin, tokoh pendidikan, akademisi, serta pemangku kepentingan dari berbagai sektor.
“Ini adalah pertemuan puncak para pemimpin yang memegang posisi strategis,” ujar Anang.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT