Editor
KOMPAS.com - Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana alam, termasuk aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.
MUI menekankan pentingnya langkah preventif, pemanfaatan ilmu pengetahuan, serta kepatuhan terhadap petunjuk keselamatan dari pihak berwenang untuk mengurangi risiko bencana.
Baca juga: Anak Krakatau Meletus, Travel Umrah Diminta Tak Paksakan Keberangkatan
Ketua MUI Bidang Fatwa, Prof KH Asrorun Ni’am Sholeh, mengatakan bencana alam seperti gunung meletus merupakan fenomena alam yang berada di luar kendali langsung manusia.
Menurut dia, kesiapsiagaan dan kepatuhan terhadap mitigasi teknis menjadi langkah penting untuk meminimalkan risiko korban jiwa akibat bencana.
Baca juga: Penerbangan Solo-Jakarta Batal akibat Erupsi Gunung Anak Krakatau, 35 Jemaah Umrah Tertahan
Dia menjelaskan, erupsi atau fenomena alam seperti gunung meletus merupakan sunnatullah yang bersifat ibtidaiyah.
“Terhadap bencana yang tidak bisa kita pilih ini, langkah yang harus kita ambil adalah respons yang tepat melalui pendekatan wiqa'i atau preventif, memanfaatkan ilmu pengetahuan serta sistem peringatan dini (early warning system)," ujar Prof Ni’am pada Senin (7/9/2026), seperti dilansir dari MUI Digital.
Guru Besar Ilmu Fikih UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini menjelaskan, secara teologis, erupsi gunung berapi masuk dalam kategori bencana ibtidaiyah atau ghairu muktasab, yakni kejadian murni yang tidak muncul akibat ulah manusia.
Namun, Islam mengajarkan umatnya untuk tidak bersikap pasrah tanpa ikhtiar. Manusia tetap wajib memanfaatkan akal dan ilmu pengetahuan sebagai bagian dari upaya menjaga keselamatan jiwa.
Prof Ni’am meminta masyarakat, terutama yang tinggal di kawasan rawan bencana, untuk terus memantau penanda ilmu pengetahuan serta informasi resmi dari lembaga terkait.
Informasi tersebut antara lain berasal dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) maupun Pos Pengamatan Gunung Api. Pemantauan diperlukan agar masyarakat dapat memahami perkembangan kondisi gunung dan mengikuti langkah keselamatan yang ditetapkan.
"Dengan penanda ilmu astronomi, informasi dari BMKG, dan early warning system, kita perlu berhati-hati. Kita harus paham mekanisme keselamatan dan pengamanan dininya jika terjadi semburan atau erupsi," kata dia menambahkan.
Di samping mitigasi teknis dan kewaspadaan mandiri, Pengasuh Pondok Pesantren An-Nahdlah Depok ini menekankan pentingnya respons sosial dari masyarakat yang berada di wilayah aman.
Menurut dia, masyarakat yang tidak terdampak langsung juga menghadapi ujian untuk menunjukkan empati dan kepedulian sosial kepada warga yang mengalami bencana.
Mengutip hadis Rasulullah SAW, Prof Ni’am mengingatkan perumpamaan keterikatan antarsesama manusia yang saling mengasihi ibarat satu tubuh.
Apabila salah satu anggota tubuh mengaduh kesakitan, seluruh tubuh akan merasakannya hingga tidak bisa tidur semalaman.
“Apa yang menimpa saudara-saudara kita di daerah terdampak bencana adalah panggilan bagi kita semua untuk mengulurkan tangan," ujar dia menegaskan.
Prof Ni’am mengajak masyarakat yang berada dalam kondisi sehat, aman, dan memiliki rezeki untuk menyisihkan sebagian hartanya guna membantu meringankan beban korban bencana di berbagai daerah.
"Kita hari ini sehat, segar, bugar, masih bisa menikmati aktivitas rutin dan memperoleh rezeki dari kerja-kerja profesional kita. Saatnya kita bangun empati, kita sisihkan sebagian rezeki untuk kepentingan meringankan beban saudara-saudara kita yang tertimpa musibah," tuturnya.
Prof Ni’am juga mengingatkan umat Islam untuk melengkapi ikhtiar lahiriah dalam menghadapi bencana dengan ikhtiar batiniah.
Masyarakat diimbau memperbanyak zikir, doa, tobat, serta muhasabah atau introspeksi diri agar senantiasa memperoleh perlindungan dari Allah SWT di tengah berbagai ujian dan musibah.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT